
Di Amerika
''Assalamualaikum...''
''Waalaikum salam, Bro!'' sahut Gilang.
Ia tersenyum dan mendekati Kevin dan Vita dan memeluk nya. Gilang juga memeluk Vita. Walau bagaimanapun Vita masih lah istrinya.
''Sudah lama?''
''Baru beberapa jam yang lalu sih. Dasar nih Oneng kagak pernah sabaran!!'' sahut Kevin dengan menggerutu kepada Vita.
Gilang tertawa. ''Hahaha.. ya sudah kita makan dulu atau langsung aja nih?''
''Langsung aja ya?'' sahut Vita dengan sedikit mengulas senyum nya pada Gilang.
Gilang menggeleng kan kepalanya lalu terkekeh kecil. ''Saksi??''
''Mang Asep!''
''Saya Den!''
''Duduklah disini! kita harus menjadi saksi atas perpisahan ini.'' Imbuh Kevin. Mang Asep mengangguk.
''Ehm, Bismillahirrahmanirrahim. Vita.. terimakasih atas semua yang telah terjadi selama kita berdua menikah. Untuk kesepakatan dan perjanjian kita akan aku tuntaskan hari ini. Terimakasih karena kamu telah memberikan seorang malaikat kecil untukku dan juga istriku. Maaf jika selama kita hidup berumah tangga, aku ada menyakiti mu. Maafkan aku Vita..''
Vita tersenyum. ''Aku sudah memaafkan mu Gilang. Papi dari putra ku! Aku tidak pernah menyesal menikah dengan mu! Karena itu adalah keinginan ku sebagai penebus rasa bersalah ku kepada mu lima tahun yang silam. Aku hanya meminta sedikit saja darimu.. kapan pun aku ingin menemui putraku, bisakah kamu dan Mbak Alisa tidak melarang nya?''
''Ya, tentu saja. Tapi jika suatu saat dia tidak mengenalmu sebagai Mama nya, aku harap kamu bersabar. Aku dan Alisa akan mengatakan secara perlahan pada nya. Dan.. Vita Rosmala Setiawan aku melepas mu dari pernikahan ini. Aku menceraikan mu dengan talak tiga! Dan mulai saat ini, kamu bukanlah istriku lagi!'' tegas Gilang, membuat Vita tersenyum.
''Sekarang kita hanya sebatas Papi dan Mama bagi Rayyan saja. Selamat bagi kalian berdua. Semoga sakinah mawadah warahmah.''
''Amiinn...'' sahut Kevin dan Vita.
Di kediaman Alisa.
Sedari pagi hingga malam hari rumah itu selalu saja ramai. Karena Annisa, Lana, dan Rayyan.
Ketiga orang itu adalah perusuh di rumah Alisa. Mbak Sus selama tinggal dirumah itu tidak berhenti nya tertawa begitu juga dengan Pak Kosim.
Mereka sangat terhibur dengan Lana dan juga Annisa. Sedangkan Rayyan, bayi kecil itu hanya tidur dan tidur saja.
Jadilah Rayyan jadi sasaran keusilan Lana. Alisa yang melihat nya, memarahi Lana. Tetap saja Lana si tukang usil dan perusuh.
Hari-hari yang dilewati oleh Alisa sangat menyenangkan. Ia dengan telaten mengurus Rayyan dan juga Annisa.
Tak pernah sekalipun ia mengeluh. Malah ia sangat bersyukur akan hal itu. Perkembangan Baby Ray sangat bagus.
Mama Dewi yang mengetahuinya sangat berterimakasih pada Alisa. Begitu juga dengan Papa Angga.
Masa-masa pertumbuhan Baby Ray Alisa lah yang menanganinya. Pernah sekali Mama Dewi bertanya pada pak Kosim, jika Alisa ini siapa?
Namanya begitu familiar di telinga Mama Dewi. Namun itu hanya sebentar. Setelah itu menghilang dengan sendirinya.
Toko yang ditangani oleh Alisa kini pun berkembang pesat. Begitu juga dengan toko kue Alisa.
__ADS_1
Hingga lima tahun kemudian...
''Ray! sayang! Pakai baju dulu, Nak! Katanya mau kerumah Oma. Ayo sini pakai baju dulu. Nanti terlambat loh di acara ulang tahun nya.'' Imbuh Alisa, ia mengejar Rayyan yang sedang aktif-aktifnya.
Mama Dewi saja kewalahan mengurusi cucu pertama nya ini. Tapi tidak dengan Alisa, ia sangat menyukai Rayyan yang begitu lincah berlarian kesana kemari.
''Ayo! sini sayang.. beneran nih, Adek nggak mau pakai baju??'' tanya Alisa dengan raut wajah sendu.
Mendengar suara Alisa berubah menjadi sendu, Rayyan dan Annisa berhenti berlarian. Kini putri bungsu Alisa itu sudah berusia enam tahun lebih.
''Mami??'' panggil Rayyan.
Alisa menunduk dan pergi meninggalkan Rayyan dan Annisa.
''Mak?'' panggil Annisa.
Gadis kecil itu jadi merasa bersalah. Annisa dan Rayyan saling pandang. ''Kak? cemana nih? Mami malah loh?''
''Kamu aja deh.. Kakak nggak berani...'' sahut Annisa.
''Ck! cemana sih?! Tadi butan nya kakak yang ngajakin adek lali lalian?!'' decak Rayyan dengan wajah kesal.
Annisa yang mendengar nya terkekeh geli. ''Ayolah Dek.. cuma kamu loh.. yang bisa bujuk Mak? Ayo! Kakak temani ya?''
''Iya deh, iya! Ck!'' sahutnya, walaupun demikian Rayyan tidak marah kepada Annisa.
Mereka berdua berjalan dimana Alisa sedang duduk termenung di balkon kamar nya. Sedari tadi, Rayyan dan Annisa berada di dalam kamarnya.
''Mami...'' Alisa menoleh dengan raut wajah sendu nya. Namun masih tersenyum lembut kepada kedua anaknya itu.
Rayyan menunduk. Ia memilin ujung bajunya karena tidak berani menatap Alisa. Berbeda dengan Annisa.
Gadis kecil itu malah cekikikan melihat tingkah Rayyan. Alisa melototkan matanya. Bukannya takut, malah ia tambah cekikikan.
''Kakak Ishh.. usah tawa napa?! Bantuin...'' rengek Rayyan sembari menunduk. Ia tak berani menatap Alisa yang kini tengah menatapnya.
''Ayo! kita harus berangkat! Sebentar lagi kan acara ulang Tahun adek yang ke lima?? Apakah adek tidak mau menuruti kemauan Oma??''
''Maaf Mami... maaf...'' lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Alisa menghela nafasnya. ''Ya sudah, jangan di ulangi lagi ya? Kita kan mau pergi ke rumah Oma, jadi harus cepat sayang.. waktunya jalan terus loh.. itu aja udah jam delapan. Nanti kesana nya tambah lama sayang.. pakai baju ya?'' bujuk Alisa begitu lembut terhadap Rayyan.
Putra tiri Alisa itu mengangguk namun masih menunduk. ''Udah! Ayo kita jalan sekarang! Ingat? Jangan nakal saat Tiba dirumah Oma. Paham??''
''Paham Mak..'' sahut Annisa, tapi tidak dengan Rayyan.
Ia memilih mengangguk kan kepalanya.
Cup!
Rayyan menoleh, Alisa tersenyum lembut. Mata Rayyan berkaca-kaca. Alisa memeluk nya dengan sayang.
''Udah Mami maafin kok. Ayo kita jalan! Udah ngomong sama Papi hari ini??'' mendengar kata Papi, Rayyan langsung tersenyum manis.
''Udah! Dali cemalam adek ngomong cama Papi!'' sahut nya dengan begitu senang.
__ADS_1
Alisa pun tersenyum. ''Ayo kita berangkat!''
''Ayo!!'' sahut kedua nya.
Hari ini Mama Dewi ingin mengadakan ulang tahun yang ke lima untuk Rayyan. Semua itu atas usulan Gilang sebenarnya.
Entah apa maksudnya Mama Dewi pun tak tau. Yang jelas Mama Dewi menuruti maunya Gilang saat mereka video call seminggu yang lalu.
Satu jam kemudian, mereka tiba di kediaman keluarga Bhaskara. Rayyan yang baru saja tiba, langsung saja berlarian memeluk Oma Dewi dan Opa Angga.
''Sayang...'' mama Dewi membuka tangan nya untuk memeluk Rayyan.
Grep!
''Oma.... tanen!!!'''
Mama Dewi tertawa begitu juga dengan Alisa. ''Ayo masuk Lis! Ira sama Lana mana? Nggak ikut??'' tanya nya.
''Ada.. tuh lagi nurunin boks kue untuk acara nanti.'' sahut Alisa dengan tersenyum.
''Ya sudah, ayo kita kesana! Waktunya untuk berpesta!!!'' Seru mama Dewi.
''Yeeeee.....'' sahut Rayyan.
Alisa yang melihat Rayyan tertawa, ia pun ikut tertawa namun tawa itu berubah menjadi sendu.
''Sudah lima tahun, Pi.. apakah kamu masih mengingat ku?? Ataukah kamu sudah melupakan ku? Putra kita sudah besar, Pi..'' lirih Alisa dengan buliran bening sudah mengalir di pipinya.
''Mamiiii!! Ayo!!'' ajak Rayyan
Alisa tersenyum lembut pada putra sambung nya itu. Setelah nya ia berlalu dari sana untuk mengikuti acara ulang tahun Rayyan putra Bhaskara.
Saat sedang sibuk-sibuknya menyusun kue di atas meja prasmanan. Terdengar suara seseorang yang begitu familiar di telinga nya.
''Assalamualaikum, Rayyan....''
Deg!
Deg!
💕
Hayoo .. siapa itu??
Ada yang tau? Ikutin terus kelanjutannya! 😉
Yuhuuu... othor mau promo nih ya! Jangan kaget okey!!
Othor mau promo in cerita teman othor nih. Sambilan nunggu cerita othor update, mampir aja dulu kesini ye!
Karya nya Mak Enis Sudrajat.
CINTA DI ATAS PERJANJIAN.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya! Like dan komennya selalu ditunggu! 😘😘