
Alisa menuntun Gilang menuju panggung. Disana sudah ada Lana yang akan memetik gitar untuk kedua orang tuanya.
''Aseeeekk.. Mak sama Papi duet euuuyyy!!'' celutuk Lana.
Semua yang ada disana tertawa mendengar ucapan Lana. ''Ayo Bang, mainkan gitarnya!'' titah Alisa.
Dengan segera Lana memetik senar gitar itu perlahan. ''Tunggu dulu, sayang! lagi apa ini?'' tanya Gilang kebingungan.
''Kamu tau lagu ini. Ayo bang! Abang sering dengar kok lagu ini?'' goda Alisa sambil mengedipkan matanya pada Gilang. Gilang terkekeh.
''Terserah mu Ratuku...''
''Aseeeekk..'' sahut Lana dengan segera ia mulai memetik senar gitar sambil memberi kode pada teman-temannya yang ada disana. Mereka mengangguk paham.
''Gerhana Dalam Cinta, kita duet ya By?'' tanya Alisa. Sengaja ia dengarkan suaranya melalui pengeras suara.
''Gerhana Dalam Cinta?'' tanya Gilang memastikan.
''Yes, my king! Kamu duluan!''
Gilang mengangguk, namun wajah itu terlihat sendu.
Manalah ku tahu engkau suka
Di mata tak ada cinta..
Bagai di terik mentari
Hujan datang tiba-tiba
Gilang menunjuk Alisa. Alisa tersenyum.
Keputusan mu memilih si dia
Membuat aku kecewa
Pertunangan mu hancurkan mimpiku
Aku tak menyangka.. akhirnya kau pilih dia.
Alisa menunjuk Gilang, Gilang memegang tangan Alisa sambil menatap nya dalam.
Lama ku pendam cinta ini
Engkau yang tidak pernah peduli
Alisa meremas tangan Gilang.
__ADS_1
Bukan bukanlah maksud hati..
Maaf Cintamu tak kusadari
Alisa tersenyum melihat mata Gilang berkaca-kaca.
Kini tiada harapan lagi
Sampai mati kah aku sendiri
Gilang menangis. Alisa tetap memegang tangan itu dengan erat.
Jangan jangan kau patah hati
Jodoh hanya Tuhan yang tau pasti.
Haa... Ini sebab gerhana cinta
Gilang memeluk Alisa dengan terus bernyanyi.
Haa.. Sembunyi di hati yang lara..
Alisa mengurai pelukannya.
Haa.. Terlambat menyatakan cinta..
Hoo.. Tinggallah aku yang merana..
Lana tersedu mendengar setiap kata yang terucap dari bibir kedua orang taunya. Begitu juga dengan Ira.
Hanya mereka yang tau seperti apa selama lima tahun ini Alisa selalu menangis setiap kali mengingat Gilang.
Baik itu di dalam sholatnya maupun ketika ia termenung duduk sendiri. Alisa dan Gilang sama-sama menangis namun tersenyum.
Satu buah lagu yang menyiratkan akan perasaan Alisa dulunya untuk Gilang. Gilang tau itu.
Tak putus mata itu menatap sang pujaan hati yang juga sedang menatapnya dengan tersenyum lembut.
Mama Dewi sampai menangis di pelukan Papa Angga. Dia tak menyangka, Jika akibat perbuatan mereka berdua, Alisa dan Gilang yang menanggung derita selama kian tahun.
Tapi Alhamdulillah nya, kini mereka berdua telah bersatu. Bersatu untuk selamanya. ''Mama tidak pernah menyesal merestui hubungan mu dan Alisa, Nak. Mama sudah menepati janji Mama pada Rayyan dulu pada saat ia masih bayi. Bahwa Alisa, ibu susu nya lah yang akan menjadi istrimu. Mama tebus semua kesalahan kami selama ini. Maafkan Mama Nak..'' lirih Mama Dewi dipelukan Alisa dan Gilang.
Mereka berdua memeluk Mama Dewi dengan menangis. Semua yang ada disana ikut terharu melihat perjuangan cinta Gilang dan Alisa selama ini.
''Jika sudah jodoh, sejauh apapun kita melangkah, maka ia akan menemukan jalannya. Seperti Gilang saat ini. Jauh di negeri orang untuk menuntut ilmu, bisa saja kan ia milih gadis-gadis disana. kan banyak tuh yang cantik-cantik?'' goda Om Karim.
Gilang mendengus. Alisa terkekeh. ''Tapi Gilang tidak seperti itu. Ia tetap pada janjinya. Ia menepati janjinya yang pernah ia ucapkan dulu padaku. Dan aku pun demikian. Aku tetap menunggu nya. Menunggu dalam ketidak pastian. Tapi aku yakin, jika sudah jodoh maka tidak kemana.'' imbuh Alisa dengan tersenyum menatap seluruh keluarga besar yang sedang berkumpul diatas panggung bersamanya.
__ADS_1
''Ck! Pada reunian sih?! Awas ih! Abang mau perform lagi loh..'' ucap Lana dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
Semua yang ada dipanggung itu tersenyum melihat tingkah Lana. ''Oke Bro! Lanjut kan!'' titah Om Karim.
Lana terkekeh geli melihat mata Om nya itu yang selalu menggoda Gilang. Gilang tak peduli.
Ya, Om Karim. Semua ide untuk memancing Alisa bernyanyi itu adalah ide Om Karim. Alisa punya suara yang begitu merdu, tapi tak pernah ia tunjukkan.
Dan lagu itu, adalah lagu kesukaan Alisa saat ini. Karena dari setiap bait lagu itu sangat pas dengan keadaannya dulu.
Makanya ia selalu menyanyikan lirik lagu itu ketika suasana sepi. Tapi pada suatu hari ketahuan Lana.
Dan ia berjanji, Jika nanti Alisa menikah dengan Gilang maka Alisa harus mau tampil di panggung dan menyanyikan lirik lagu itu.
Dasar Lana koplak. Ia mengirimkan video Alisa pada Gilang ke Amerika agar Gilang tau, jika Alisa sangat menyesal karena terlambat menyatakan cinta pada Gilang.
Sampai Gilang harus pergi ke luar negeri. Menyisakan dua hati yang merana karena saling mencintai. Dan hari ini, semua itu lepas sudah.
Senyim di bibir tipis sepasang pengantin baru beda usia itu tidak pernah putus. Hingga pertemuan nya dengan Vita, membuat Alisa tersedu lagi.
Begitu juga dengan Vita. Ia meminta maaf karena pernah mengambil Gilang dari sisi nya karena sebuah janji yang terpaksa harus di tunaikan.
Alisa memaklumi itu. Itu cuma masa lalu. Dan Alisa mengijinkan Vita untuk bertemu putra kandungnya. Rayyan, setelah acara ini selesai.
Vita begitu senang mendengar itu.
Pukul sepuluh lewat lima belas, semua acara telah usai. Seluruh keluarga besar sudah beristirahat di kamar masing-masing. Begitu juga dengan tamu undangan.
Semuanya sudah pulang kerumah masing-masing.
Tapi tidak dengan Gilang dan Alisa, saat ini mereka sedang di perjalanan pulang. Pulang kerumah mereka berdua. Letih, lelah begitu terasa.
Namun semua itu meninggalkan kenangan yang begitu bahagia di hati Gilang dan Alisa. Alisa merebahkan kepala nya di sandaran kursi mobil milik Gilang.
Dengan Pak kosim dan Andi yang akan mengantar mereka sampai ke tempat tujuan. Gilang mengedipkan matanya pada Andi.
Andi mengangguk dan tersenyum. Ia memberikan tanda jempol pada Gilang pertanda sudah siap semua dan beres.
Gilang tersenyum dan mengangguk. Ia menoleh pada Alisa yang sedang memejamkan kedua matanya.
''Tidurlah walau hanya sebentar, setelah ini kamu tidak akan bisa tidur. Ini malam bahagia kita. Mana mungkin aku melewati nya? Semua persiapan kejutan kedua dariku sudah rampung. Tunggu sebentar lagi. Kamu pasti akan terkejut melihat nya. Aku sangat, sangat mencintai mu, istriku. Aku bahagia bisa menikah denganmu. Mungkin inilah cara Allah untuk mempertemukan kita. Dulu, aku masih labil dan belum bisa berpikir jernih. Mungkin karena itu pula kamu menolakku.''
''Tapi tidak kali ini. Jika kamu menolak lagi, maka akan ku paksa! Sudah cukup aku merana dan tersiksa selama lima tahun ini aku berjauhan darimu. Sangat tidak enak! Siang malam selalu memikirkan mu. Beruntungnya aku, putra ku selalu mengirimkan video tentang ke galau an hatimu padaku. Aku tau semuanya. Aku tau semuanya tentang mu, sayang.''
''Bukan aku tidak ingin menghubungimu. Namun aku sedang menjaga diri agar tidak lepas kontrol bila melihat mu. Dirimu seperti magnet yang selalu ingin menarik ku agar tetap dekat denganmu. Aku tak sanggup berjauhan darimu. Aku tak sanggup lagi. Cukup sudah selama ini. Sekarang tidak lagi! Aku tidak akan melepaskan mu walau sedetik pun. Aku sangat menunggu hari ini! Menunggu hari dimana dirimu halal untuk ku sentuh.''
''Sentuhan yang akan membawa pahala untuk kita berdua untuk menuju ke Surga Nya Allah. Amiiin..'' lirih Gilang dalam hati.
__ADS_1
Ia menatap Alisa dengan tatapan hangat dan penuh cinta.