
Dari pagi sampai jam empat sore kedua pasangan pengantin baru itu tertidur begitu pulas.
Mereka tidak sadar jika hari sudah menjelang sore. Alisa bangun saat merasakan perutnya perih karena lapar. Juga suara senandung indah mengalun lembut di telinga nya.
Ia menggeliat pelan. ''Uumm.. sudah dhuhur ternyata. Ehm, By? Bangun. Sholat dulu. Udah dhuhur itu. Ayo, By! Nanti di lanjut lagi tidur nya. Kayak nya aku nyenyak banget tidur ya? Sampai tak terasa waktu sudah siang. Hooaamm... By! Ayo, ah!'' ucap Alisa pada Gilang.
''Hem.. bentar lagi sayang.. masih ngantuk aku. Tidur lagi sayang.. nanti malam kita harus begadang lagi. Ayo.. sini ku peluk! Kangen banget bisa meluk kamu kayak gini, cup! Hemmm... nyamannya...'' gumam Gilang dengan mata terpejam.
Alisa terkekeh. Ia juga semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Gilang. Namun mata itu tiba-tiba melotot saat jarum jam yang ada di dinding kamar mereka sudah menunjukkan pukul empat sore.
''Astaghfirullah!! Sudah jam empat sore Hubby! Bangun! Haiiihh.. kesiangan kita By!!'' seru Alisa dengan segera melepas paksa pelukannya dari tubuh sang suami dengan segera ia melompat dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.
Tapi naas kaki Alisa tersangkut dengan selimut yang sedang di pakai Gilang. Al hasil, mereka berdua jatuh berdua ke lantai dengan selimut tertarik.
Otomatis Gilang yang terlelap pun ikut terjatuh menimpa Alisa yang sudah duluan menimpa lantai nan dingin.
Brruukk..
''Aaaaaa.. pinggangku!!!'' pekik Alisa.
''Allahu Akbar!!! Sayang!! Haduh!! Kenapa bisa jatuh gini sih?! Aissshhh.. mana kamu pula yang di bawah! Aduhh.. ngilu aku liatin nya! Gepeng nggak? Mana yang sakit, hem??'' pekik Gilang bersama an dengan pertanyaan beruntun.
Alisa yang sedang meringis karena pinggangnya begitu sakit karena tertimpa Gilang, jadi terkekeh tapi tetap meringis.
''Ya Allah.. hiks.. sakit banget ini By! Hiks.. Aduhh..'' rintih Alisa.
Pinggang nya benar-benar sakit saat ini. Dengan perlahan Gilang membawa Alisa duduk tapi pinggang itu tetap terasa ngilu.
''Allahu... sakit By! panggilin Mak Ijah yang ada di komplek ini! Kemari kan ponsel ku!'' seru Alisa masih dengan meringis dan terisak menahan sakit.
Gilang yang panik melihat Alisa kesakitan seperti itu, jadi gelagapan. Saking paniknya ia mengambil ponselnya. Wong ponsel mereka itu sama.
Alisa dengan segera membuka kontak orang untuk mendial nomor Mak Ijah, namun tak ia temukan.
Sementara Gilang sedang turun ke bawah untuk mengambil air hangat. Alisa kelabakan mencari Gilang.
''Hiks.. tega kamu By! Ninggalin aku dalam keadaan kayak gini! Hiks, Gilaaaanggg..'' rengek Alisa.
Ia tidak mampu untuk berteriak sekarang ini. Pinggangnya begitu sakit. ''Huhuhu.. hiks.. Hubby...!!'' seru Alisa sambil menangis.
__ADS_1
Sementara Gilang yang sedang berlari karena mendengar suara Alisa menangis semakin cepat melangkah kan kaki jenjang nya di tangga yang masih bertabur bunga yang sudah mulai mengering.
''Allahu Akbar!! Ya Allah! Hampir jatuh aku!! Tenang Gi... tenang...'' ucapnya dengan mengelus dada karena terkejut.
Ia berjalan perlahan. Tiba di kamar ia melihat Alisa tersedu sambil tengkurap di ranjang. ''Ya Allah sayang! Kamu kenapa?! Kok nangis?!'' seru Gilang semakin panik.
Alisa menoleh dengan mata sembab. ''Kamu nggak pergi, By? Kamu nggak ninggalin aku?? hiks.. By!'' jawab Alisa dengan sesegukan.
Gilang semakin panik melihat Alisa menangis. ''Aku ke dapur untuk ngambil air hangat, buat kompres pinggang kamu. Kok nangis?'' tanya Gilang, dengan segera ia mengelap wajah Alisa yang sudah basah karena air mata.
''Hiks, aku pikir kamu ninggalin aku hiks! Kamu tega! Hiks!'' Isak Alisa.
Gilang tertawa. ''Ya enggak lah sayangku! Mana mungkin aku ninggalin kamu gitu aja. Sementara kamu masih sakit seperti ini? Gimana? Udah sampai mana Mak Ijah?''
Alisa merengut. ''Hiks, kamu salah kasi ponsel Hubby! Masa' ia kamu kasi ponsel kamu sama aku? Ya mana ada nomor Mak Ijah? Hiks!'' isaknya lagi.
Gilang tertawa melihat wajah Alisa merengut masam. ''Hahaha.. maaf sayang! aku panik hingga salah ambil ponsel. Sebentar aku ambilkan. Sekalian aku aja yang ngomong sama Mak Ijah.''
Dengan segera Gilang mengambil ponsel milik Alisa. Ia buka kunci dan terlihat wallpaper disana foto mereka berdua yang ada di dalam kamar mereka.
Gilang tersenyum. Dengan segera ia mendial nomor biasa Mak Ijah. Bukan what's app.
''Waalaikum salam, Mak. Datang kerumah ya, buat pijat istri saya. Pinggangnya terkilir ini kalau tidak salah.'' jawab Gilang dengan sedikit menggaruk kening yang tidak gatal.
''Suami nak Alisa? Sudah pulang kah?''
''Sudah Mak. Kemari ya? Apa perlu saya jemput?''
''Ah, tidak usah. Kebetulan saya memang lagi di depan rumah kalian ingin bertemu Alisa. Ini udah di depan gerbang kamu.''
''Oh, baik! Akan saya buka pintunya! Mak tunggu aja disitu. Sebentar! Saya tutup telepon nya!'' imbuh Gilang, dengan segera Gilang berlari kedepan gerbang mereka.
Alisa yang melihat itu, bingung. Namun ia memilih diam. Karena rasa sakit di pinggang nya semakin terasa.
Tiba di depan gerbang Gilang melihat seorang wanita paruh baya celingukan melihat rumah mereka.
Melihat Gilang datang, Mak Ijah keheranan. ''Ayo masuk, Mak! Alisa ada di dalam. Saya suaminya. Gilang.'' ucap Gilang dengan segera ia mengulurkan tangannya untuk menyalami Mak Ijah.
Mak Ijah tersenyum. ''Tampan sekali! Pantas saja Alisa tidak mau saya jodohkan dengan putra saya. Ternyata suaminya masih muda dan sangat tampan! Kamu beruntung bisa memilikinya nak.''
__ADS_1
''Hehe.. Mak bisa saja. Ayo masuk! Tapi maklum ya rumahnya masih bertaburan itu soalnya.'' ucap Gilang lagi dengan sedikit meringis malu.
''Astaghfirullah! Rumah kalian kenapa begini? Jangan bilang?''
''Hehehe.. seperti dugaan Mak!'' sahut Gilang menunduk malu.
Mak Ijah tertawa. ''Pengantin baru toh.. oo.. itu sudah biasa nak! Pasti kebanyakan nih gempur nya, makanya sampai encok pinggang istri kamu?'' tebak Mak Ijah, membuat Gilang tertawa.
''Bukan karena itu, Mak!''
''Mak tau, nak.. dulu Mak dulu pun begitu sama suami. Nggak ingat waktu kalau hal begituan!'' ucap Mak Ijah.
Kakinya dengan pelan menaiki tangga satu persatu. Sementara Gilang ke dapur untuk mengambil piring kecil yang disuruh oleh Mak Ijah tadi.
''Assalamualaikum, Lis?'' dapat Mak Ijah.
Alisa yang sedang telungkup pun mendongak kan kepalanya. ''Waalaikum salam, Mak! Masuk. Maaf tak bisa nyambut, Mak. Pinggangku sakit Mak gara-gara ketimpa badan suami. Jatuh dari ranjang!'' jelas Alisa.
Mak Ijah tergelak sampai kepalanya mendongak ke atas. ''Itu sudah biasa Lis. Namanya juga pengantin baru?'' goda Mak Ijah.
Alisa merengut masam. ''Mana ada Mak! wong dibilangin jatuh dari ranjang kok.'' bantah Alisa.
Mak Ijah tertawa terbahak-bahak. Puas sekali menggoda pengantin baru itu. ''Berapa ronde Lis? Kayaknya suami kamu baru pulang kan yah dari luar negeri? Pastilah lama ini!'' celutuk Mak Ijah lagi.
Semakin membuat Alisa malu. ''Nggak Mak Ijah sayang.. aku itu beneran jatuh loh.. ishh.. mana ada gara-gara begituan!'' sewot Alisa.
Mak Ijah tertawa lagi. ''Ngaku aja kenapa sih? Ish .. pura-pura malu segala! Yang kayak anak perawan aja!''
''Nggak Mak! Udah ah! Ini pinggangku kapan di pijat nya? Ishhh..'' gerutu Alisa dengan wajah memanas.
Ma Ijah semakin tertawa melihat tingkah Alisa. Puas rasanya menggoda pengantin baru itu.
💕💕💕💕
Othor mau nanyak sama yang udah nikah nih!
Ada nggak yang kayak Alisa ini? Bangun kesiangan, lalu jatuh, dan digoda tukang pijat?
Hehehe..
__ADS_1
Dukungan nya jangan lupa ye?