Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Gilang ke toko kue Alisa


__ADS_3

''Kamu sangat beruntung mbak Alisa. Suami sah dan mantan suami mu, sama-sama tegas ingin mempertahankan mu! Sedangkan aku? Jangankan dipertahankan! Di inginkan pun tidak! Kamu beruntung mbak Alisa! Sangat beruntung!'' ucap Azizah dan semua itu masih terdengar boleh kedua orang itu.


Ayah Emil terkejut mendengar sang istri berbicara seperti itu. ''Zi...''


''Aku pulang, Bang.. semoga kau bahagia dengan pilihan mu!''


Deg!


''Tidak Zi! Tunggu dulu! Kamu salah paham sayang!'' ucap ayah Emil dengan segera ia mengejar Azizah yang sudah lebih dulu keluar tanpa melihat sekitar nya.


Alisa membelakangi mereka. Lagi, hati kecilnya Baha'i ******* sembilu. Karena nya. Hubungan suami istri kembali rusak.


''Kenapa aku selalu menjadi penyebab perusak hubungan orang?! Hiks.. ya Allah..''


Deg!


''Sayang! Kamu masih disini? Belum pulang?'' tanya Gilang begitu terkejut melihat Alisa sedang duduk meringkuk dan menangis.


Alisa menoleh. Wajah sembab itu begitu menusuk hati Gilang. ''Sayang-,''


''Pulang lah. Aku ingin sendiri! Aku akan kembali ke toko.'' ucap Alisa, dengan segera ia berlalu dan meninggalkan Gilang mematung bersama kedua anaknya.


''Pi??''


Gilang menoleh. ''Pulang lah. Nenek pasyi gelisah saat ini sedang menunggu kalian. Papi akan membujuk Mak kalian ya?''


Ira dan Lana mengangguk. ''Kami pulang, Pi. Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut Gilang.


Setelah melihat kedua anak nya menghilang di tikungan jalan dengan kiedu nnerssaulsar itu mengendari motor matic milik Alisa, Gilang berjalan perlahan menuju toko kue Alisa.


Tiba disana ia tidak melihat sang istri. Hanya ada Fitri. Karyawan kepercayaan toko kue nya.


''Mana Ibu Fit?'' tanya Gilang pada Fitri.


Fitri terkejut. ''Pak Gilang! astagfirullah! Kaget saya! Ibu ada di atas.'' jawabnya, Gilang mengangguk dan segera pergi meninggalkan Fitri yang mematung melihat suami majikannya itu.


Sadar akan kelakuan absurd nya itu, Fitri menggeleng kan kepalanya. Ia kembali fokus pada buku yang ada di depannya.


Sementara Gilang, ia membuka jas hitam yang melekat pada di tubuh atletis nya dan menyampirkan nya ke lengan.


Ia naik tangganya dengan perlahan setelah terlebih dahulu membuka sepatunya. Tiba di depan pintu yang berwarna coklat, ia berdiri sebentar dan menghembuskan nafas panjang.


''Srmoga kamu nggak marah sayang..'' gumam Gilang.


Ia memegang handle pintu itu dan membukanya.


Ceklek!


Pintu terbuka. Ia tersenyum saat melihat Alisa sedang melaksanakan kewajiban nya. Melihat itu, Gilang juga pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.

__ADS_1


Waktu dhuhur mereka sudah terlewati satu jam yang lalu.


''Assalamualaikum warahmatullahi..'' ucap Alisa saat menoleh ke kanan dan kekiri.


Ia duduk sebentar dan bertafakur. Dirasa cukup, Alisa segera menengadahkan tangan nya keatas untuk berdoa.


Alisa tidak sadar, jika Gilang sudah berada di belakangnya sedari tadi. Ia tersenyum melihat sang istri begitu khusyuk melaksanakan ibadahnya.


Setelah selesai, Alisa mbuak mukenahny dan menoleh ke belakang. ''Astaghfirullah! Sedari kapan kamu disitu, By!'' seru Alisa dengan suara terkejut.


Gilang terkekeh, ''Saking khusyuk nya kamu tidak sadar jika aku sudah lama duduk dibelakang mu!''


''Eh? Iyakah? Pantas saja aku seperti mencium bau parfum milikmu. Aku pikir Cuma halusinasi saja tadi. Ternyata benar. hehe.. maaf nggak sadar aku!'' ucapnya dengan terkekeh.


Gilang pun ikut terkekeh, ''Ya, sudah. Aku sholat dulu. Setelah ini baru kita bicara!'' Alisa mengangguk.


Dengan segera ia menggenakan hijab instan nya dan berlalu turun ke bawah saat melihat Gilang sudah mulai sholat.


Tiba di dapur, para Koki kue Alisa terkejut melihat bos nya itu ada disana. ''Loh? Bu Alisa? Ada yang bisa kami bantu, Bu?'' tanya salah seorang koki


Alisa tersenyum, ''Tidak ada Arlan. Saya ngintip membuat jus untuk suami. Persediaan buah masih ada kan ya?''


''Ada, Bu! Silahkan. Kami kembali bekerja ya Bu?''


''Tentu. Lanjut kan saja pekerjaan kalian. Jangan hiraukan saya. Anggap saja saya kasat mata!'' seloroh Alisa.


Empat orang koki disaat terkekeh mendengar perkataan majikannya itu. Alisa tersenyum saja.


Siap dengan jus, Alisa mengambil nampan dan piring. Ia memotong puding lumut, bolu karamel, dan bakwan udang pesanan pelanggan .


Karena banyak lebihnya dan masih panas, Alisa mengambilnya dan membawa itu keatas.


Tiba di atas, bertepatan dengan Gilang yang baru saja selesai dengan sholatnya. Gilang tersenyum saat Alisa masuk membawa nampan makanan dan minuman.


''Wuaahh .. seger ini. Pas banget, minum jus! Makan gorengan! Alamat aku gendut ini!'' seloroh Gilang.


Alisa tertawa. Gilang pun ikut tertawa. ''Di makan, By mumpung anget!''


Gilang mengangguk. Setelah itu Gilang membaca bismillah dan mulai menyeruput jus kesukaan nya.


Alisa pun sama. Gilang menatap nya dengan intens membuat Alisa gugup. ''Ada apa By?''


Gilang tersenyum, ia menggeser duduknya dan membuka hijab instan Alisa. Gilang tersenyum saat melihat rambut lurus Alisa, disanggul.


''Cantik!''


Alisa menunduk. ''Gombal!''


''Beneran sayang. Kamu cantik kalau nggak pakai hijab begini. Aku suka. Apalagi kalau kamu baru siap Keramas? So.. sexyyy... ffuuhh..'' bisik Gilang di telinga Alisa.


Ia meniupkan nafas hangat di telinga Alisa, membuat tubuh wanita dewasa itu mendadak merinding disko.

__ADS_1


Ia mengigit bibir bawahnya. ''Jangan disini By..'' lirih Alisa masih dengan menunduk.


''Hem? Terus? Mau dimana? Masa' iya diluar? Malu atuh..'' lirih Gilang di telinga Alisa.


Ia semakin gencar melakukan aksinya, membuat Alisa tidak bisa bertahan lama. ''Ugghh..'' lenguhan itu keluar dari bibir tipisnya.


Gilang tersenyum. ''Aku kangen banget sama kamu. Lima hari loh.. kayu laut ku ini keriput!''


Alisa menoleh dan ..


Cup!


Gilang mengecup putik merah jambu milik Alisa dengan lembut. Melumaaat mengecap dan memagut dengan tangan kirinya menahan tengkuk sang istri.


Ughh..


Lagi suara lenguhan itu semakin sering terdengar. Gilang semakin gencar mengecap putik merah jambu milik istrinya.


Dirasa semakin panas, Gilang melepas pagutan nya dan menyatukan kening mereka berdua.


Nafas mereka saling memburu menghirup udara sebanyak-banyaknya. ''Aku menginginkan mu. Sekarang dan disini!''


''Hem? Disini?'' tanya Alisa masih dengan nafas memburu.


''Ya, disini.'' Gilang bangkit dan mengunci pintu ruangan Alisa biasa beristirahat.


Kemudian ia kembali duduk di ranjang kecil muat untuk dua orang saja. Dimana Alisa sedang menunggu nya dengan tersenyum.


Dengan segera memulai ritualnya. Di kamar sempit itu. Tapi ada tersedia AC disana. Karena toko itu pengap.


Mereka berdua memadu kasih kembali setelah lima hari tertunda akibat insiden jatuhnya Alisa dari ranjang mengakibatkan pinggang Alisa terkilir.


Berakhir dengan Gilang harus puasa selama seminggu. Tapi hari ini? Gilang tidak tahan jika tidak menyentuh putik bunga kembang yang begitu cantik tersuguhkan dihadapan matanya saat ini.


Aktifitas itu terus berlanjut. Fitri yang ingin memanggil Alisa, karena ada seseorang yang ingin menemuinya ingin membicarakan masalah bisnis toko rotinya ini, mengurungkan niatnya. Ia berdiri mematung di depan pintu.


Saat mendengar suara aneh dari balik ruangan yang tertutup itu. Fitri menghela nafasnya.


''Kayaknya, aku akan sering deh mendengar suara ini di ruangan Bu Alisa? Jika dulu, sering sepi. Palingan suara Annisa atau Rayyan yang sering buat heboh Bu Alisa. Sekarang? Pak Bos! Hadeuhhh .. kuatkan hamba ya Robb.. suara itu begitu mengganggu pendengaran ku! Sabar.. sabar..'' gumam Fitri dengan segera turun ke bawah kembali untuk menemui klien Alisa.


Sementara sepasang suami istri itu masih meneguk manisnya hidup pengantin baru. Apalagi Gilang.


Pemuda tampan itu masih sangat-sangat fit nya dalam hal yang satu itu. Semoga saja cebong Gilang cepat berkembang. Amiiin...


💕💕💕💕💕


Hehehe.. malas ah hot hot pop! Nggak gaya pun tetap pop kok!


Apalagi ada hot Papi! eh?


😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2