Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Rencana perjodohan


__ADS_3

Alisa masuk ke kamar di ikuti oleh Gilang. Tiba di dalam kamar, Gilang langsung saja memeluk tubuh mungil Alisa.


Ia membuka hijab instan Alisa dan segera mengecup lembut tengkuk lehernya. Alisa melenguh.


''Ughh.. sssttt.. jangan dulu ih! Ada yang mau aku katakan padamu. Berhenti dulu. Masih ingatkan apa kata Tante Andini tadi sebelum pulang?'' ucap Alisa sambil mengurai pelukan Gilang.


Alisa tersenyum dan mengangguk.


Cup!


Ia mengecup putik merah jambu yang selalu membuat nya candu setiap saat jika tidak bisa menyentuh nya.


''Ya, aku masih ingat sayang. Tenang saja. Aku tidak akan menyentuh mu. Aku akan tahan, sampai kamu diperiksa dulu ke dokter besok pagi. Hemmm.. sekarang ada apa? hem? Untuk apa kamu memanggil ku kesini. Cup!'' ucap Gilang masih jahil, ia mengecup lagi bibir Alisa karena gemas.


Alisa merengut. Bibirnya maju lima centi. ''Kamu ih! Diem dulu napa?!'' ketusnya, membuat Gilang tertawa.


''Makanya, jangan dimanyunin begitu bibirnya. Mau ku cium lagi?'' goda Gilang.


Alisa melengos. Sadar jika ada satu rencana yang harus segera ia selesaikan, Alisa mengurai pelukan nya dan duduk di tepi ranjang.


Gilang mengikuti. ''Katakan! Apa rencana mu? hem?'' tanya Gilang semakin mengikis jarak dengan sang istri.


Alisa menatap Gilang dengan serius. ''Aku ingin menjodohkan Ema dan Andi, sayang.''


Gilang terkejut. ''Apa? Apa kamu yakin?''


Alisa mengangguk, ''Ya, dan kamu yang akan mewujudkan nya. Biarkan Ema merasa jika aku masih marah padanya. Memang ini rencana ku sedari awal. Makanya aku pulang ke kampung. Terlepas dari Masalah yang sedang mengganggu kita, aku tidak peduli. Tujuan ku cuma satu. Aku ingin menjodohkan Ema dan Andi. Sudah sejak lama hal ini tercetus di dalam pikiranku. Saat Hani menceritakan tentang Ema yang selalu gagal dalam percintaan, aku merasa kasihan padanya. Dan ya, tadi sekilas aku melihat Andi ada ketertarikan pada Ema. Hanya saja ia tidak berani mengatakan nya. Takut jika di tolak.''


''Dan sekarang, tugas kitalah untuk menyatukan mereka berdua dalam hubungan rumah tangga seperti kita. Aku ingin memberikan sesuatu untuk Andi, karena selama kalian berdua tidak di sisiku, Andi tetap menyuruh orangnya untuk menjagaku dan anak-anak kita. Mau ya? Kamu mewujudkan nya? Biar hubungan kekeluargaan ini semakin kuat lagi. Ada Hani, Ema, Shinta, dan satu lagi, Moly. Aku harap dia juga menemukan pasangannya. Mau ya?'' punya Alisa dengan sangat pada Gilang.


Gilang tersenyum, ia mengecup seluruh wajah Alisa karena senang. ''Subhanallah.. mulia sekali hati istriku ini. Terimakasih ya Allah, karena sudah memberikan ku pasangan di dunia seperti istriku ini! Cup! Aku bangga padamu. Tentu, besok pagi setelah kita pulang dari rumah sakit, kita akan menemui keluarga Ema. Biarkan ini menjadi kejutan untuk Andi dan Ema.'' Gilang terkekeh saat mengatakan hal itu.


Alisa pun sama. Ia pun ikut terkekeh. ''Terimakasih suamiku. Kamu sudah mau mengikuti rencana konyol ku ini. Aku mencintai mu, By! Sangat mencintai mu! Cup!''


Alisa mengecup bibir tipis sang suami untuk menyalurkan rasa sayangnya. Gilang tidak tinggal diam.

__ADS_1


Ia memegang tengkuk Alisa agar ciuman itu semakin dalam. Puas dengan memadukan kasih sayang, Gilang dan Alisa menyatukan kening mereka berdua.


''Ayo, kita turun. Mereka pasti sedang menunggu kita saat ini. Bersikaplah sedatar mungkin pada Ema dan Andi. Nanti akan aku ceritakan kepada Tuan Hamid dan Papa Yoga untuk memuluskan rencana kita. hem?'' ucap Gilang pada Alisa.


Alisa tersenyum manis padanya. Gilang mengusap lembut pipi Alisa. ''Terimakasih By..''


''Sama-sama sayang. Untukmu, apapun akan ku lakukan! Apalagi masalah ini menyangkut asisten setia ku. Aku pasti akan membantu nya untuk mendapatkan istri yang sama seperti mu.''


''Eh? Sepertiku??'' tunjuk Alisa pada dirinya sendiri.


Gilang mengangguk, ''Ya, sepertimu. Andi pernah bilang, ia akan menikah jika sudah mendapatkan calon istri sepertimu. Kamu sangatt istimewa sayang. Sangat istimewa. Banyak sekali pria yang menginginkan dirimu. Maka dari itu aku menyuruh Andi untuk selalu mengawasi pergerakan mu. Termasuk saat ada beberapa yang datang ingin melamar mu lima tahun yang lalu. Yang sengaja dibawakan oleh Om Fabian. Ck! Pria tua itu suka sekali membuatku marah!'' gerutu Gilang, membuat Alisa tertawa.


Cup!


Alisa mengecup pipi Gilang dan menarik tangan sang suami untuk segera turun. ''Hati-hati sayang.. kamu lagi hamil loh..'' tegur Gilang saat melihat Alisa yang begitu tergesa saat menuruni tangga.


Alisa berhenti. Ia lupa jika saat ini sedang mengandung buah cintanya dan Gilang. Alisa nyengir menatap Gilang.


''Hehehe.. lupa By!'' Gilang menggeleng kan kepalanya, ia tertawa melihat tingkah Alisa yang semakin menggemaskan sejak ia hamil sebulan ini.


Siapa pelaku nya? Siapa lagi kalau bukan Andi. Pemuda sebaya Gilang itu sangat menyukai Ema yang sedang manyun seperti itu.


Tuan Hamid dan Papa Yoga terkekeh melihat nya. Melihat itu, Alisa dan Gilang tersenyum. ''Lihatlah, bahkan Andi sudah menunjukkan gelagat nya jika ia menyukai sahabatku itu. Mari kira wujudkan!'' ucapnya begitu menggebu.


Gilang terkekeh melihat tingkah Alisa yang begitu antusias ingin menjodohkan pasangan itu.


Melihat Alisa dan Gilang turun kebawah, setelah menghabiskan waktu sebanyak setengah jam, kini pengantin baru itu duduk bersama dan berbaur dengan yang lainnya.


Anak-anak mereka pun sudah mulai turun ke bawah. Karena orang tua mereka sudah tidak ada lagi yang berbicara hal serius.


Alisa sengaja menghindar dari Ema. Membuat Ema semakin sakit hatinya. Matanya mengembun ingin menangis.


Andi yang melihat itu merasa kasihan. Ia dengan segera menarik Ema untuk keluar dari rumah itu dan membawanya jalan-jalan dengan mobil Gilang.


Kenapa bisa begitu?

__ADS_1


Karena Gilang yang menyuruh nya. Gilang sengaja memberikan kode pada Andi untuk membawa Ema jalan-jalan dan sekalian mengantar nya pulang.


Karena waktu pun hampir Maghrib. Setelah kepergian dua orang itu, Alisa dan Gilang mulai menyampaikan niat dan rencananya.


Membuat Papa Yoga dan tuan Hamid tertawa keras. Sedangkan Mama Alina melongo. ''Jadi.. kamu dan Gilang sengaja ingin membuat Ema sedih seperti itu??''


Alisa mengangguk, tapi tertawa. Begitu juga dengan kedua anaknya. Jangan tanya dimana Annisa dan Rayyan.


Mereka berdua sibuk menggambar sesuatu di tablet baru yang sengaja Gilang berikan untuk dua anak itu.


Mama Alina menggeleng kan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Alisa dan Gilang.


Tega-teganya membuat Ema semakin merasa bersalah padanya. ''Ck! Dasar kalian berdua ini ya! hadeeeuuhh.. Mama yakin! Anak kalian berdua ini pasti sangat jahil dan usil! Sama seperti Alisa, Gilang dan Lana. Annisa pun udah mulai keliatan usilnya saat bermain dengan Rayyan. Hadeeeuuhh.. tambah lagi dah anggota usil keturunan Papa Yoga Sebastian! Pria yang sedari kecil terkenal dingin dan cuek! Namun usil pada keluarga. Termasuk pada adik-adik nya! Tapi hatinya lembut. Sama seperti Alisa! Ck! Nggak asik ah! Semuanya nurun Kalian! Tak ada apa yang nurunin Mama satupun?? Ishhh..'' gerutu Mama Alina semakin kesal.


Semua yang ada disana tertawa terbahak mendengar ucapan Mama Alina. Mama Alina salah, ada satu keturunan nya yang mengikuti jejaknya. Yaitu Ira.


Ira sama persis dengan Mama Alina. Sikapnya yang tegas namun lemah lembut. Sekali tidak, maka akan tidak.


Semua itu diwariskan kepada Ira. ( Baca cerita Kak Ira ya, agar lebih nyambung 😄😄)


Dan ya, besok pagi setelah Alisa dan Gilang pulang dari rumah sakit, mereka akan menuju rumah Ema untuk melamar gadis itu kepada kedua orangtuanya.


Dan sebelum itu, Gilang dan Alisa sudah menyusun rencana agar Andi dan Ema tidak mengetahui nya.


Ini akan menjadi kejutan untuk mereka berdua.


Tunggu saja!


💕💕💕💕💕


Yok, ikut othor mau ngelamar neng Ema untuk bang Andi!


Jangan lupa bawa seserahan ya? eh?


Belum nikah euuyy.. hihihi...

__ADS_1


__ADS_2