
Seperti janji Gilang tadi malam, pagi ini sudah ada beberapa orang sudah menunggunya diluar rumah mereka.
Alisa tidak tau, karena masih terlelap. Tadi malam, Gilang tidak melepaskan nya sama sekali.
Mereka tidur hingga dini hari. Belum lagi subuh tadi Gilang menagihnya kembali. Alisa tidak bisa apapun.
Selain hanya bisa pasrah saat Gilang meminta haknya kembali. ''Sayang.. Mami.. bangun atuh.. itu tukang yang ingin benerin kamar kita dan kamar Abang sudah ada di depan. Begitu juga dengan baby sitter untuk si kembar. Bangun sayang..'' lirih Gilang dengan meniup telinga Alisa.
Membuat sang pujaan hati terbangun.
Klep, klep
''Hemm.. jam berapa ini??'' tanya nya dengan berusaha bangun dan bersender di kepala ranjang.
Gilang merapatkan duduknya pada Alisa. ''Masih ngantuk?'' Alisa mengangguk, mata itu masih terpejam rapat.
Gilang terkekeh, ''Bangun sayang. Para tulangnya sudah satu jam loh.. nungguin kamu bangun. Beruntung nya aku bisa menangani mereka. Dan juga mereka orang kenalanku yang dulunya pernah merenovasi rumah ini. Ayo, bersihin dulu tubuhmu. Sudah jam sepuluh lewat sebelas. Mandilah. Kedua anak kita sedang bermain di bawah bersama baby Sitter nya.''
Alisa menoleh. ''Sudah datangkah?''
Gilang mengangguk dan tersenyum, ''Sudah, baby sitter ini sejak sebulan yang lalu aku pesankan melalui biro. Dan ya, hari ini mereka sudah teken kontrak tadi pagi bersama kita. Jika mereka berani macam-macam, maka nyawa mereka sebagai gantinya!'' tegas Gilang sambil menatap Alisa dengan serius.
Alisa terkekeh. ''Jangan kejam-kejam Papi.. nggak baik ah! Udah, aku mau mandi dulu. Hooaamm.. ngantuk banget aku! Asik di gempuar sama singa ngamuk! Ck!'' gerutu Alisa sambil berlalu ke kamar mandi.
Gilang terkekeh, setelah itu ia kembali turun ke bawah untuk menyuruh tukang itu masuk dan mulai bekerja melalui pengawasan Gilang langsung.
Selesai mandi dan pakai baju, Alisa turun ke bawah. Masih diatas saja, suara kedua bayinya sudah terdengar.
Bagaimana tidak, jika Algi dan Nara sedang di goda oleh kedua baby sitter nya. Alisa turun sambil terkekeh.
Tiba dibawah, Alisa terkejut saat melihat baby Sitter itu. ''Wooaahh.. seneng banget ya main sama Mbak Sus, hem?'' kata Alisa pada kedua bayi nya.
Algi dan Nara mengulurkan tangan mereka untuk di gendong oleh Alisa. ''Hahaha.. apa nak? Mau Mami gendong?'' Bayi kecil yang berusia sembilan bulan itu begitu senang saat Alisa menggendong nya.
Cup.
Cup.
''Hahaha...'' Algi dan Nara tertawa bersama saat Alisa menciumi leher mereka yang tersembunyi di balik bajunya.
''Buk...''
Deg!
Alisa menoleh. ''Mbak Sus! Ya Allah.. Mbak Sus.. apa kabar Mbak??'' pekik Alisa begitu senang.
Salah satu dari baby sitter itu melongo melihat interaksi mereka berdua. Alisa meletakkan kedua bayinya di Ambal berbulu dan memeluk Mbak Sus dengan erat.
Hingga ia terisak. Mbak Sus tertawa. Ia mengusap tubuh Alisa dengan tangan halusnya.
__ADS_1
Gilang tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Ya, Gilang sengaja mencari mbak Sus, pengasuh Rayyan saat bayi dulu hingga berumur dua tahun.
Susah payah mencari baby sitter itu, akhirnya ketemu juga. Dan ya, saat itu Mbak Sus memang sedang mencari pekerjaan lagi. Tapi tidak di Medan.
Ia ingin ke Malaysia.
Beruntung nya Gilang bergerak cepat untuk menyusul mbak Sus di tempat karantina. Sempat terkejut Mbak Sus melihat Gilang.
Ia tak percaya jika itu adalah Gilang. Ayah kandung dari Rayyan. Bayi kecil yang begitu merindukan kasih sayang seorang ibu dan itu semua Rayyan dapatkan dari ibu susunya.
Yaitu Alisa.
''Hiks.. MBak Sus! Kangen banget aku sama kamu. Kamu tau nggak, sempat Papi anak-anak membujukku agar aku cepat mencarikan baby sitter untuk di kembar. Tapi aku tidak mau. Aku maunya pengasuh Rayyan dulu yang menjadi pengasuh kedua anak kami. Makanya aku selalu menolak, tiap kali ia membujukku untuk mencari baby sitter. Ya Allah.. Mbak Sus! Kangen banget sama Kamu! Rayyan pasti senang jika ketemu denganmu!'' ucapnya begitu senang.
Bibirnya melengkung kan senyum, tapi air mata terus mengalir di pipinya. ''Hehehe.. semua ini karena tuan Gilang, Buk.. aku di cegat olehnya saat di karantina.''
''Hah? Karantina? Kenapa sampai kamu di karantina, Mbak?''
Mbak Sus yang bernama Mawarni itu terkekeh kecil. ''Saya saat itu mau berangkat ke Malaysia, Buk!''
''Apa?! Malaysia?!'' pekik Alisa begitu terkejut
Mak Sus tertawa. Ia mengangguk, ''Bener Buk. Tanyakan saja pada tuan Gilang. Beliau terpaksa membayar denda kepada biro karena saya gagal untuk berangkat.'' jelas Mbak sus masih dengan tersenyum.
''Berangkat? Kapan rupanya kamu berangkat ke Malaysia?'' tanya Alisa saking penasarannya.
''Apa?!'' pekik Alisa lagi, kemudian ia tertawa dan menangis bersamaan.
Ia memeluk Mbak Sus dengan erat. Kedua anak kembarnya pun ikut-ikutan. ''Weleh? Tak boleh kah Mami memeluk Mbak Sus?'' tanya Alisa kepada si kembar.
Algi dan Nara menggeleng bersamaan. Alisa dan Mbak Sus tertawa.
Buhahahaha...
Gilang ikut tertawa melihat Alisa tertawa seperti itu. Inilah yang dia mau. Karena apapun yang menjadi keinginan Alisa pasti juga menjadi keinginan nya.
Alisa menoleh pada Gilang. Ia tersenyum dan mengangguk.
Terimakasih sayang ku..
Gilang mengangguk dan juga tersenyum lembut padanya.
Untukmu, apapun kan kulakukan sayang...
Alisa mengalihkan pandangannya pada baby sitter satu lagi. Ia tersenyum, baby Sitter itu terkejut.
Ia menunduk malu. Karena sudah terlalu lama menatap Alisa dan Gilang yang sedang saling bertatapan.
''Mbak, namanya siapa?'' tanya Alisa pada Mbak Sus baru itu.
__ADS_1
''Namanya Tina, Buk.. dia keponakan saya!'' kata Mbak Sus.
Alisa menoleh pada Mbak Sus. ''Keponakan?''
''Ya, keponakan saya. Saat itu, kami berdua memang sedang mengikuti karantina. Dan kebetulan sekali, ketika tuan Gilang datang langsung saja tuan menawari kamu untuk menjaga bayi kembar. Saya sempat kaget dengan ucapan tuan Gilang. Tapi tak bisa berbuat apapun. Karena aura tuan Gilang begitu menyeramkan saat itu, ketika tau kami akan di kirim ke Malaysia untuk dijadikan PSK...''
''Apa?!?'' pekik Alisa lagi
Gilang sampai menoleh dan datang menemui nya. ''Ada apa?'' tanya Gilang, dengan segera duduk di sebelah Alisa.
Kedua bayi nya ikut mengejar dengan merangkak mendatangi nya. Algi lebih dulu tiba, sedang Nara masih kesusahan maju karena karpet bulu itu begitu kesat buat tubuhnya untuk maju.
Ia merengek meminta diambil, tapi tak di gubris oleh Gilang. Akhirnya ia meraung-raung saking kesalnya.
''Huaaaa... aaaaaa... aaa..''
''Eh?''
''Loh, loh? Kamu kenapa sayang?'' tanya Alisa dengan segera mengambil Nara.
Gadis kecil itu begitu sedih hatinya saat melihat Abang nya lebih dulu tiba dibanding kan dengannya.
Ia melihat Alisa, lalu ke Algi, Pindah ke Gilang. ''Huaaaaa... aaaaaa... aaaaaa...''
Gilang tertawa setelah memahami keinginan Nara. ''Hahaha.. si gadisku ternyata marah sama Papi, hem? Sini! Ayo, Papi gendong!'' katanya pada Nara.
Bayi kecil mirip Annisa itu pun mengulurkan tangannya. Ia merangkul leher Gilang dengan erat sambil sesegukan.
Mereka bertiga terkekeh melihat tingkah Nara. ''Ceritakan! Kenapa kalian sampai salah mencari biro seperti itu. Hingga ingin dijadikan PSK oleh mereka?'' tanya Alisa lagi.
Mbak Sus tersenyum, ia menatap Gilang. Sedang Gilang mengangguk, ''Ternyata.. kami di tipu Buk.. untung cuma sedikit modal yang kami keluarkan untuk mengurus paspor. Jika tidak, kami pastilah harus masuk penjara gegara tidak bisa bayar hutang di kampung!''
''Apa?!'' pekik Alisa lagi. Sudah kesekian kalinya Alisa memekik seperti itu. Gilang terkekeh, Tina terpana melihat Gilang terkekeh seperti itu.
Namun itu cuma sebentar, Gilang menoleh dan menatap nya dengan tajam. Tina menunduk takut.
''Tuan Gilang yang membongkar semua itu, Buk. Beruntung kami berdua cepat selamat. Sedangkan ke sepuluh orang teman kami lainnya sudah di kirim ke Dubai!''
''Astaghfirullah.. ya Allah...''
''Maka dari itu, ketika tuan Gilang datang menyelamatkan kami sekaligus menawari kami pekerjaan saya langsung mau. Sempat kaget sih, tuan Gilang bilang ingin saya yang mengurus kedua bayi kembarnya. Maaf Tuan! Saya sempat su'udzon pada anda. Saya pikir, tuan menikah dengan orang lain bukan dengan Buk Alisa. Ternyata saya salah. Pertama kali saya masuk tadi pagi, saya langsung saja menangis. hiks.. ternyata majikan saya sekarang adalah majikan saya yang dulu. Seseorang yang pernah membantu saya saat keluarga di kampung terlilit hutang. Terimakasih Buk Alisa .. Tuan Gilang! Kalian majikan terbaik yang pernah saya temui. Terimakasih..'' ucap Mbak Sus.
Alisa dan Gilang tersenyum melihat Mbak Sus terisak dengan bahu bergetar karena menangis.
💕💕💕💕💕
Tiga hari lagi end!
So.. pantengin terus ye?
__ADS_1