
''Mak yang mendorong ku untuk melakukan kesalahan yang tidak pernah ingin aku lakukan! Semua ini Mak yang mendidik ku menjadi orang yang salah!! Dan sekarang Mak mengatakan, jika Mak ingin membunuhku karena kesalahan yang Mak lakukan??? Baik! Bunuh aku! Silahkan! Agar Mak tidak memiliki anak lelaki lagi yang akan mengusung keranda Mak saat tiada nanti!!''
Deg!
Deg!
Nenek Rima tersentak dengan ucapan ayah Emil yang begitu sarkas. Ia membatu di tempat nya duduk.
''Mak menginginkan aku mati bukan? Baik! Aku akan mati! Agar makerasa puas! Dan setelah ini tidak ada yang akan mengusung keranda Mak nanti saat Mak tiada. Kita hidup sebentar, Mak di dunia ini. Aku sadar, aku banyak melakukan kesalahan. Tapi aku mencoba untuk merubah diriku ke arah yang lebih baik. Aku malu pada suami Alisa, Gilang. Pemuda itu begitu baik terhadap mantan istriku sehingga rasa bersalah ini semakin bercokol di dadaku karena perbuatan ku yang salah padanya!''
''Aku akan datang ke tempatnya, aku ingin meminta maaf sebelum aku pergi untuk selamanya. Jaga diri Mak baik-baik. Aku pergi, maaf karena aku sudah menyakiti perasaan Mak selama ini. Setelah ini tidak akan ada lagi yang akan menyakiti hati Mak. Karena anak durhaka sepertiku tidak pantas memiliki Mak yang begitu baik dan menyayangi ku. Sekali lagi aku mohon maaf kan semua kesalahanku agar aku bisa pergi dengan tenang!'' ucap Ayah Emil dengan tangan mengepal erat.
Sementara nenek Rima semakin membatu di tempat duduknya karena ucapan ayah Emil. Air mata itu mengalir di pipi nya yang sudah keriput.
''Ayo sayang. Kita pergi. Abang ingin minta maaf dulu sama Mbak mu. Baru setelahnya Abang akan pergi untuk selamanya meninggalkan kalian semua. Ayo, temani Abang untuk yang terakhir kalinya. Bangun sayang! Jangan cengeng! Kamu harus kuat jika Abang sudah tidak ada disamping mu lagi. Jaga dan urus dengan baik kedua anak kita. Jika memungkinkan, menikahlah kembali agar akan ada yang menafkahi mu dan anak kita! Ayo! Abang harus cepat Zi...'' lirih ayah Emil dengan tubuh bergetar.
Ia duduk di hadapan Azizah yang sedang menggeleng kan kepalanya karena perkataan Emil yang begitu melukai hatinya.
''Ayo, sayang. Antarkan Abang bertemu mbak mu. Abang harus minta maaf padanya dan juga ketiga anakku..'' lirih ayah Emil lagi, ia sedang memeluk Azizah yang tubuhnya kini terus berguncang karena menangis.
''Bang...'' panggil Azizah.
''Ayo sayang.. waktu kita tidak banyak. Abang harus segera pergi untuk meninggalkan kalian selama nya... hiks..'' Isak Ayah Emil sambil berusaha membangkitkan Azizah yang semakin lemah di dalam pelukannya.
Nenek diam terdiam. Ia terus menerus mencerna ucapan Ayah Emil. Sementara ayah Emil, ia sudah berada di depan dan sudah menaiki motornya.
Ia menoleh pada rumah yang selama ini telah membesarkan nya. Sedih. Sangat sedih. Hatinya terluka saat ia tau, jika Mak nya lah yang melakukan penipuan itu tujuh belas tahun silam.
Ayah Emil terisak lagi. Azizah semakin erat memeluk nya. ''Kami pergi, Mak. Assalamualaikum...''
Brruummm..
Suara motor ayah Emil terdengar melaju dengan cepat meninggalkan rumah nenek Rima yang terdiam terpaku di ranjang tua miliknya.
Sadar jika ayah Emil telah pergi dan menghilang, barulah ia meraung.
''Tidaaaaaakkkkk... Emil.... jangan pergiiiiii.. jangan tinggalin maaaakkk... maafkan Mak Naaaaakkk... haaaaa... emiiiiiiillll... aaaaa...Emil... hiks.. Emil... hiks... haaaaa....'' Raung nenek Rima begitu menyayat hati.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang sudah berusia 76 tahun itu menangis terisak di dalam rumahnya.
Para tetangga mendatangi rumah nenek Rima. Mereka melihat nenek Rima terduduk di lantai, dengan tubuh berguncang.
Sedang kan ayah Emil, ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia akan menemui Alisa saat ini.
Azizah yang paham, dengan segera menghubungi Andi untuk mengabarkan kedatangan mereka berdua ke rumah Alisa.
Satu jam lima belas menit kemudian, mereka tiba di kediaman Alisa. Namun rumah itu sepi.
Azizah turun dari motornya dan bertanya pada tetangga dekat Alisa. Mereka mengatakan, jika tadi pagi Alisa dan sang suami sudah pergi bekerja.
Gilang ke kantor. Sedangkan Alisa ke toko kue miliknya. Yang hanya berjarak dua puluh menit saja dari tempat mereka berdiri sekarang.
''Terimakasih Buk.. saya mau ketemu dengan Mbak Alisa. Ingin pesan kue secara langsung. Permisi, Assalamualaikum..'' ucap Azizah.
Dengan segera Azizah naik lagi ke motor ayah Emil dan melaju ke alamat yang dikatakan oleh tetangga Alisa tadi.
''Ayo Bang! Cuma dua puluh menit dari sini dengan jalan kaki. Tapi kalau motor lebih cepat lagi kan?'' ucap Azizah lagi, ayah Emil hanya mengangguk saja.
Cukup delapan menit saja mereka sudah tiba di tempat usaha Alisa. Disana sudah terlihat, banyak pelanggan Alisa yang sedang mengantri memesan kue miliknya.
''Kuat Bang! Aku yakin, mbak Alisa pasti memaafkan mu..'' lirih Azizah menguatkan ayah Emil.
Dari kejauhan saja sudah terlihat, jika Alisa sedang duduk di bangku Kasir sambil tersenyum pada pelanggan nya.
Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain. Kaki jenjang Emil, dengan segera menuju tempat dimana Alisa berada.
Tiba disana, ayah Emil berdiri mematung. Matanya berkaca-kaca melihat Alisa yang semakin cantik setelah menikah dengan Gilang.
Pemuda yang lebih muda darinya terpaut usia enam tahun lebih muda Gilang daripada Alisa.
Ayah Emil melangkah kan kakinya dengan perlahan. Tiba di hadapan etalase toko kue Alisa, seorang karyawan nya tersenyum melihat kedatangan Emil.
''Mari Buk, Pak! Mau pesan apa?'' tanya nya dengan ramah.
Emil masih saja menatap Alisa yang sibuk dengan ponsel nya. Sesekali tersenyum, sekali terkikik geli.
__ADS_1
Tangan Alisa masih berhiaskan HennaJenna Henna yang begitu cantik sisa acara pernikahan mereka lima hari yang lalu.
''Pak??'' panggil karyawan Alisa lagi.
Ayah Emil terkejut. ''Saya ingin memesan bolu pisang dan Risoles lima puluh picsis untuk hari ini, bisa?''
Deg!
Alisa berhenti dari gerakan tangan nya yang sedang mengetik pesan untuk Gilang. Ia menoleh ke depan dan..
''Bang Emil?! Azizah?!'' Seru Alisa dengan berdiri dari tempat duduknya.
Lagi, mata pemuda yang pernah dulu hidup bersama Alisa kembali basah. ''Hiks.. Alisa...'' lirih ayah Emil.
Alisa semakin terkejut melihat ayah Emil dan Azizah menangis ketika melihatnya. ''Ada apa?! Kenapa kalian menangis?! Ada sesuatu yang terjadi?? Ayo, ayo masuk dulu! Fitri! Hubungi Lana dan Ira agar ke toko sekarang juga!'' tidak Alisa pada karyawan kepercayaan nya.
''Baik, Buk.'' sahut Fitri.
Dengan segera ia mendial nomor Ira dan menyuruh mereka untuk segera datang ke toko kue milik Mak nya.
Sementara ayah Emil semakin tersedu. Ia jatuh bersimpuh di hadapan Alisa. Alisa terkejut.
''Abang! Bangun! Ada apa ini?? Kenapa kalian berdua duduk dilantai?! Bangun! Ayo kita duduk di sana. Ayo! Zi!'' panggil Alisa pada Azizah.
Tapi istri Emil itu tetap memilih duduk bersimpuh di hadapan Alisa. Alisa semakin kalang kabut di buatnya.
''Maafkan Abang, Alisa.. Abang salah padamu.. Abang salah.. Abang minta maaf... maafkan Abang, Alisa..'' lirih ayah Emil dengan tersedu.
Alisa mematung di tempat. Ia menunduk melihat ayah Emil yang semakin tersedu. ''Kenapa? Apa yang terjadi? Aku sudah memaafkan Abang sedari dulu. Kita sudah bahagia dengan kehidupan kita. Ada apa lagi ini?''
''Hiks.. Abang salah padamu. Karena telah menuduh mu pembawa sial! Abang salah kepada ketiga anak kita. Karena tidak menganggap mereka anak kandungku.. maafkan aku Alisa.. maafkan aku...''
''A-ayah?!?''
Deg!
💕💕💕💕
__ADS_1
Hehehe.. seperti yang othor bilang kemarin. Mantan suami akan bertemu dengan suami sah Alisa.
Di tunggu ye?