
Seminggu sesudah pertemuan Gilang dengan Ema. Sekretaris barunya. Gadis itu semakin hari, semakin menunjukkan gelagat yang tidak Gilang sukai.
Andi seringkali menegur nya, tapi tidak di gubris oleh wanita dewasa sebaya Alisa itu. Wanita itu masih lajang dan belum menikah.
Andi semakin gregetan melihat tingkah gadis ini. Dan hari ini, mereka pun ada pertemuan di hotel milik Gilang.
Gilang sempat mengatakan, jika ia tidak ingin hadir dalam pertemuan itu. Tapi Alisa memaksa, Alisa mengatakan jika ia akan datang untuk menemui Gilang saat makan siang di hotel itu.
Pasrah. Akhirnya Gilang mengiyakan. Entah kenapa sejak kedatangan Ema, Gilang semakin sering mual dan muntah.
Padahal wanita itu tidak melakukan apapun. Tapi Gilang begitu tidak menyukai kehadiran wanita itu.
Dan saat ini, Gilang terpaksa duduk disebelah Ema dan juga Andi. Ema diapit oleh kedua pria tampan dari kantor Bhaskara Group itu.
Saat ini mereka bertiga sedang mengadakan pertemuan di dalam hotel itu. Tamu Gilang yang berasal dari Surabaya itu menginginkan jika Gilang langsung yang turun tangan dalam proyek yang akan mereka bangun di Surabaya bulan depan.
Ema terkagum-kagum dengan cara bicara Gilang yang begitu lugas dan sangat tenang. Di balik wajah pucat nya itu, menyimpan karisma tersendiri bagi yang memandang Gilang dari dekat.
Seperti Ema saat ini. Wanita dewasa itu begitu menyukai cara Gilang berbicara begitu lugas kepada kliennya.
Ia selalu melirik Gilang saat Gilang membahas detail pertanyaan dari kliennya itu. Andi sangat geram dengan kelakuan sekretaris nya ini.
Tapi tidak bisa berbuat apapun karena mengingat kinerja Ema yang begitu bagus selama seminggu ini.
Klien Gilang yang berasal dari Surabaya itu sangat kagum akan penjelasan Gilang, hingga tercetus lah pertanyaan dari klien Gilang ini tentang wajah pucat Gilang.
''Maaf nih ya tuan Gilang. Saya berbicara keluar jalur dari pembicaraan kita, Lagipun rapat kita sudah selesai bukan?'' ucapnya pada Gilang.
Gilang tersenyum. Ema terpana. Mata berbulu lentik mirip Alisa itu terpesona melihat senyum manis Gilang.
''Silahkan! Apa yang ingin anda tanyakan?'' tanya Gilang masih dengan senyum tersungging di bibir nya.
Klien Gilang itu terkekeh, ''Saya hanya ingin bertanya, apakah istri anda sedang hamil tuan? Wajah anda begitu pucat saat ini. Apakah anda sering mual muntah setiap pagi, atau setiap mencium bau sesuatu?''
Gilang terkekeh lagi, Ema terpesona. Ia menatap Gilang tak berkedip. Andi berdecak sebal.
Ingin sekali, ia menepuk kepala sekertaris baru bos nya itu.
''Entahlah tuan Hamid. Emang nya keliatan banget ya wajah pucat saya?''
''Sangat jelas terlihat tuan Gilang. Apakah sudah sering begini?''
''Hampir dua bulan sih. Yang lebih sering itu ketika baru bangun tidur. Pusing, Mual dan muntah disaat yang bersamaan. Apalagi kalau mencium bau uap nasi putih yang baru dimasak itu. Aduuhhh.. perut saya seperti di kocok, tuan!'' cerita Gilang sambil terkekeh-kekeh.
Tuan Hamid tertawa lepas. Andi dan Ema hanya diam saja. Ema menatap Gilang terus-menerus sambil menyimak apa yang mereka ceritakan.
''Saya rasa istri anda sedang hamil tuan Gilang. Biasanya, kalau suami yang mual muntah itu, sang suami sangat mencintai istrinya. Ada ikatan batin yang kuat diantara kalian berdua.'' jelas tuan Hamid.
''Hahaha.. kalau masalah ikatan batin jangan ditanya tuan Hamid. Saya memang sangat mencintai istri saya. Dari sejak saya SMA sampai sekarang, saya sangat mencintai nya. Cukup satu wanita yang masuk kedalam hati saya. Tidak ada lagi yang lain. Cukup dia saja. Butuh waktu Lima tahun untuk saya bisa bersatu dengan nya. Dan baru sebulan ini kami menikah. Dan itu sangat membuat saya bahagia. Dan jika pun istri saya sedang hamil, itu akan sangat membuat saya lebih bahagia lagi. Penantian saya selama lima tahun, akhirnya membuahkan hasil.'' cerita Gilang pada tuan Hamid.
Tuan Hamid tersenyum, ''Saya sangat ingin bertemu dengan istri anda tuang Gilang. Saya ingin mengenalnya. Mana tau, jika saya bisa berbesanan dengan anda nantinya!'' seloroh tuan Hamid.
__ADS_1
Gilang tertawa. ''Tentu, sebentar lagi istri saya akan datang kesini. Kita tunggu saja. Ini sudah pukul sebelas siang bukan? Satu jam lagi, ia pasti datang!''
''Oke, saya tunggu!'' ucapnya masih dengan senyum tersungging di bibir nya.
Sementara Ema semakin penasaran dengan istri Bos nya ini. ''Kira-kira seperti apa ya istri tuan Gilang ini? Cantikkah? Atau lebih cantik dari saya? Berhijab kah? Tapi yang aku lihat dari cerita tuan Gilang, pastilah istrinya ini tidak memakai hijab. Cih, apa cantiknya wanita tidak memakai hijab. Aku akan tunggu dan melihat seperti apa istri tuan Gilang ini. Jika dia tidak lebih cantik dariku, maka aku akan merebut nya dari wanita itu! Tidak peduli Jika aku dianggap pelakor memakai hijab. Jika sudah Cinta? Apa salahnya?''' gumamnya dalam hati.
Ia tersenyum sinis mengingat tentang istri Gilang yang tidak memakai hijab. Sementara Alisa, baru saja pulang kerumah dan ingin memasak sesuatu untuk Gilang.
Kata nya tadi, Gilang sangat ingin makan cumi asam pedas. Dengan segera Alisa meracik bumbu. dan mulai memasaknya.
Ada balado udang, cumi asam pedas, juga telur dadar. Entah kenapa Alisa sangat ingin makan telur dadar yang di iris bawang merah yang banyak dan juga cabe rawit yang banyak.
Serasa iler nya ingin menetes membayangkan telur dadar itu. Satu jam kemudian, semua masakan itu selesai.
Alisa mengambil dua buah rantang dan mengisi semua masakan yang dimasak nya itu. Dibantu Mbok Nah, Alisa segera menyiapkan bekal untuk Gilang makan siang di hotel miliknya.
Setelah selesai, ia dengan segera melajukan motor maticnya untuk menuju hotel dimana Gilang sedang mengadakan pertemuan.
Sementara Gilang, tiba-tiba saja pusing. Perutnya terasa di kocok saat mencium aroma makanan dan juga parfum dari sekretaris nya ini.
Wajah Gilang semakin pucat. Tuan Hamid terkejut melihat Gilang semakin pucat. ''Tuan! Anda tidak apa-apa?''
Gilang tidak menyahuti, wajahnya semakin dingin saja saat melihat Ema semakin bergeser dan mendekat duduk disampingnya.
''Geser! saya mual mencium bau parfum kamu!'' ucap Gilang dengan dingin.
Ema terkejut mendengar suara dingin Gilang. Sementara Andi mengulum senyum. Gilang semakin tidak tahan dengan aroma makanan yang sedang di hidangksn di meja mereka.
Ema menjadi panik melihat Gilang mual seperti itu. ''Anda butuh bantuan tuan Gilang? Mari saya antar ke toilet,'' ucapnya panik.
Gilang tidak menghiraukan ucapan Ema. Wajahnya semakin tidak enak dipandang sekarang.
Tanpa berkata apapun, Gilang dengan segera berlari menuju toilet. Ema mengikuti nya. Andi pun sama.
Namun belum lagi Andi jauh, ponselnya berbunyi. Ia melihat jika Alisa yang menelpon. Pastilah Alisa sudah sampai pikirnya.
Tanpa memikirkan suatu akibat yang ia lakukan, Andi berlari menuju ke lobi hotel setelah berpamitan pada tuan Hamid.
Sedangkan Gilang sedang muntah di kamar mandi salah satu ruangan itu. Ia semakin mual saat Ema membantu memijat tengkuk nya.
''Minggirrrr!!'' sentak Gilang.
Ema terkejut. Namun tidak bergeser sedikit pun. Gilang semakin geram. Namun rasa mual itu semakin membuat Gilang tidak berdaya.
''Hueeekkk.. hueeekk..'' suara muntahan Gilang terdengar ke seluruh ruangan hotel itu. Gilang semakin lemas.
Tubuhnya ambruk ke lantai. Beruntungnya ada Ema yang menolong Gilang. Dengan segera ia membawa Gilang keranjang dan merebahkan tubuh nya disana.
Saat ingin merebahkan tubuh Gilang diranjang, tiba-tiba tubuh Gilang mendadak oleng.
Gilang jatuh tepat di atas ranjang dengan Ema menimpa tubuhnya. ''Astaghfirullah!'' pekik Ema saat tubuhnya menimpa tubuh Gilang.
__ADS_1
Mata Gilang terpejam. Ia tidak sadar jika itu bukanlah Alisa. Ia memegang tubuh itu dengan erat.
''Jangan pergi sayang..''
Deg!
Deg!
Jantung Alisa bergemuruh hebat saat melihat dan mendengar ucapan Gilang terhadap gadis yang sedang berada di atas tubuh Gilang.
Alisa bisa melihat jika wanita itu ingin mencium wajah Gilang. Alisa mengepalkan kedua tangannya.
Sesak rasa hatinya. Ia menatap dua pasangan yang sedang berpelukan itu dengan air mata beruraian.
Jantungnya seperti di remas saat ini. Melihat sang suami sedang berduaan di kamar hotel dalam keadaan berpelukan.
Alisa terisak. Tidak tahan dengan kelakuan Gilang, Alisa memilih pergi. Ia turun ke bawah dan berpapasan dengan Andi.
Andi menegurnya, namun tidak dihiraukan oleh Alisa. Dengan cepat ia berjalan keluar dari hotel itu.
Ingat akan rantang yang sedang dibawanya, Alisa kembali lagi. Ia sempat berpapasan dengan tuan Hamid.
Tuan Hamid sempat mendengar, jika rantang itu untuk Gilang. Pemilik hotel itu. Tuan Hamid mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Alisa basah dengan air mata.
Setelah meninggalkan rantang itu, dengan segera Alisa pulang kerumahnya. Pulang dengan membawa hati yang terluka akibat perbuatan Gilang.
Sementara di kamar hotel, Gilang sadar saat perutnya bergejolak kembali. Dengan cepat ia mendorong Ema hingga jatuh terjengkang ke belakang.
Bertepatan dengan Andi masuk ke kamar itu. ''Loh? Tuan Gilang dimana? kamu sedang apa? Apa yang kamu lakukan, hingga Mbak Alisa pergi dengan menangis?''
''Alisa? Istri tuan Gilang kesini? Dimana?'' tanya Ema dengan panik.
Andi berdecak sebal. ''Ck! Kamu-,''
''Alisa!!!!!''
''Tuan Gilang!!''
''Bos!!!''
💕💕💕💕💕
Hayoooo.. kenapa itu?
Lalu kemana Alisa?
Kabur kah??
Ikutin terus kelanjutannya!
Jempol di goyang! Kembang di siram! uhuuyyy! 😉😁
__ADS_1