Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Tamu yang membuat shock


__ADS_3

''Berarti benar jika kamu putra Alisa?? Ya Allah...'' lirih pak Madan dengan mata terpejam.


''Ada apa ya Pak?? Apakah ada sesuatu dengan Mak kami??'' tanya Lana pada pak Madan.


Madan memejamkan kedua matanya. Ia melihat sekilas diri Alisa ada pada Lana. Pak Madan tersenyum namun sendu.


''Alisa adalah cinta pertama bapak, nak... orang yang pernah bapak lamar sebelum ayah mu..''


Deg.


Deg.


''A-apa?!?'' kejut Ira yang mendengar ucapan pak Madan.


Saat ia menyusul Lana, Ira tidak melihat jika Lana ada di kelas. Ia bertanya kepada teman sekelas Lana yang kebetulan di kenal Ira.


Teman Lana menunjuk ke arah taman, di mana pak Madan sedang berbicara serius dengan nya.


Ira mendekati kedua orang tua itu, saat ingin memanggil Ira terkejut dengan ucapan pak Madan.


Ia begitu shock, mengetahui jika Mak nya Alisa juga banyak yang menyukai.


''Kakak!!'' pekik Lana.


''Apa tadi?? Saya tidak salah dengar kan pak??'' cecar Ira pada pak Madan.


Pak Madan melihat Ira dengan dalam. ''Alisa...'' lirih nya.


''Eh? Saya Ira, pak! bukan Mak!'' bantah Ira.


Pak Madan terkejut, kemudian terkekeh. ''Maaf... bapak melihat mu begitu mirip dengan Alisa.''


''Tunggu dulu! Sebenarnya ada apa sih?!'' tanya Ira lagi masih dengan kebingungan.


Pak Madan terkekeh. ''Gini aja deh.. bapak minta alamat rumah kalian! Bapak ingin bertemu dengan Mak, kalian! Karena istri bapak sangat ingin menemui dirinya..'' ucapnya dengan raut wajah sendu.


''Oke! Rumah kami ada di komplek perumahan Indah permai, blok G no 9. Itu rumah kami yang terbakar, tapi rumah sementara ada lima menit dari rumah itu jaraknya. Bapak datang aja! Kami tunggu nanti malam. Biar nanti Abang yang ngomong sama Mak, kakak tenang aja!'' ucapnya saat melihat Ira ingin membantahnya.


''Oke! bapak pasti datang.''


''Kalau begitu, kami pulang ya, pak! Harus segera disiapkan semua nya jamuan untuk keluarga bapak!'' ucap Lana begitu antusias saat mengenang dua gadis kecil yang begitu ia sukai dalam artian menggoda mereka.


Lana terkekeh mengenang hal itu. Pak Madan juga tersenyum melihat Lana. Ia tau, jika Lana sangat menyukai kedua putri nya itu, apalagi si bungsu.


Sangat suka Lana goda hingga ia menangis tak karuan.


''Ya sudah, pulang lah! sebentar lagi bapak juga akan pulang. Kabarkan kepada Mak kalian ya??''


''Oke!!'' sahut Lana begitu antusias.


Setelah nya mereka berdua pulang dengan pikiran yang berkelana tentang pak Madan. Lana terkekeh dengan gadis kecil nan cengeng itu.


Sesampainya dirumah, Lana mengabarkan jika rumah mereka akan kedatangan tamu. Yaitu guru sekolah Lana, membuat Alisa kelabakan.


Di saat seperti itu, Alisa jadi blank. Tidak tau harus berbuat apa. Jadilah ia menelpon ummi Hani untuk datang, begitu juga dengan Abi Hendra dan Raga.


Mendengar rumah Alisa kedatangan tamu, ummi Hani langsung saja berbelanja keperluan dapur.


Dua jam kemudian, semua masakan ala Mak Alisa dan ummi Hani sudah siap. Para lelaki sudah pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah, sedang kan Para wanita sholat dirumah.


Sehabis Maghrib, Tamu yang dikatakan Lana sudah tiba. Saat melihat tamu nya datang, Lana begitu antusias apalagi ada si cantik Maura yang hadir disana.


Orang pertama yang didatangi Lana adalah Maura. Pak Madan yang melihatnya terkekeh.


''Lihat sayang, putri kita sudah mendapatkan jodoh nya?'' ucapnya pada sang istri, sedang sang istri terkekeh.

__ADS_1


''Benar By... mereka berdua terlihat sangat cocok!'' celutuk nya tanpa sadar, membuat Putri sulung mereka merengut.


Ia kesal dan menghentakkan kakinya di aspal jalan. Pak Madan dan istri tertawa. ''Mengalah kak.. Lana bukan jodoh mu... tapi adik mu! Lihatlah! Lana sangat menyukai adik mu! Walaupun umur mu sebaya dengan nya, tapi jika ia lebih memilih adik mu, Abi harus apa??'' goda nya pada putri sulungnya nya itu.


''Abi...'' rengek nya membuat ummi Aini tertawa.


''Sudah, ayo masuk! tuh, yang punya rumah udah keluar! Ayo!'' titah nya pada dua wanita yang ia sayangi.


Tiba nya disana..


''Assalamualaikum...'' sapanya, membuat seseorang yang sedang membelakangi pintu tertegun.


''Waalaikum salam... kamu gimana sih Lis? tamu nya udah datang loh... kok nggak-'' Ummi Hani mematung melihat Pak Madan.


Mulut ummi Hani menganga lebar. Abi Hendra yang geram pun akhirnya keluar. Ia kesal melihat kedua orang wanita itu mematung di depan pintu.


''Ish.. ish... kok malah bengong sih?? Emang siapa tamunya? hingga membuat kalian berdua jadi mematung kayak begini?!'' tegur Abi Hendra. Ia kesal dan bersungut-sungut.


Abi Hendra berjalan melewati ummi Hani, dan melihat siapa tamu nya. ''Ayo pak! silahkan masuk! maklum para istri ini sedang galau ditinggal suami nya- Kak Madan!!!'' pekik Abi Hendra setelah melihat siapa tamu nya.


''Assalamualaikum Hendra... apa kabar??'' sahut pak Madan diselingi dengan terkekeh melihat tingkah adik kelasnya dulu.


Mulut Abi Hendra menganga lebar. Ia menatap pak Madan dari bawah keatas lagi hingga berulang kali dan terus seperti itu.


Sedangkan Ira dan Raga mendengar tamu mereka datang, keluar. Raga mematung melihat tamu mereka.


''Pak Madan...'' lirih Raga.


Sedangkan Lana tertawa ngakak, melihat para orang tua jadi terdiam saat melihat tamu nya. Timbul ide iseng dari otak kancil nya.


''Dek...''


''Ya,'' sahut gadis kecil nan cantik bernama Maura.


''Ayo kita berantas tuh para orang tua!'' ajaknya pada Maura.


''Pintar!''


Cup.


Lana mengecup pipi gadis kecil itu, setelah nya ia berlalu pergi. Sedangkan si gadis kecil itu bersungut-sungut ketika pipi nya di cium Lana.


''Bang Lanaaaaa....'' pekik nya garang sembari memanyunkan bibirnya.


Lana tertawa. Setelah nya ia mendekati para orang tua yang masih termangu disana.


''Hadeeeuuhh... pada nostalgia an kok diluar! Masuk atuh ke dalam.. ishhh..'' gerutu Lana.


Kemudian ia tersenyum jahil. ''Papiiiii.... Papi datang???'' pekik Lana begitu kuat hingga Alisa tersentak kaget.


''Hah?? Papi?? mana?? Papiiiii,'' pekik Alisa


Membuat Abi Hendra, Ummi Hani, Raga, Ira dan tamu mereka melongo melihat tingkah Alisa.


Alisa celingukan mencari Papi Gilang. Setelah dirasa tidak melihat papi Gilang, ia melihat Lana yang sudah terbahak sedari tadi.


Raut wajah Alisa berubah menjadi seperti kambing bertanduk merah. Ia menatap nyalang pada Lana.


Alisa meremas tangan nya dan mendatangi Lana. ''Dasar kamu ya! berani kamu bohongin Mak ya?? Mau Mak hukum kamu heh?!'' ucapnya dengan nada suara yang begitu geram.


Alisa mengambil sapu ijuk yang terletak diluar dan mendekati Lana yang sudah bersembunyi di belakang Maura.


Maura kecil kebingungan. Alisa terus saja menatapnya dengan tatapan yang menakutkan.


Maura ingin lari tapi sudah di peluk duluan oleh Lana. Ia ingin membentengi diri dengan Maura sebagai benteng nya.

__ADS_1


''Dasar kamu bang... berani kamu bohongi Mak ya??''


''Ampun Mak!'' sahut Lana di belakang Maura.


Maura ketakutan, ingin lari tapi Lana memeluknya. Bahkan kepala Lana sudah bersembunyi di dalam hijab panjang Maura.


''Keluar kamu! Ngapain kamu sembunyi! Berani kamu ya, heh?!'' sentak Alisa.


Membuat Maura menangis. Lana yang tau Maura menangis semakin memeluknya erat. Dasar Lana usil, bukan nya mendiamkan Maura yang menangis, malah meniup tengkuk Maura dan terkikik geli didalam hijab Maura.


Pak Madan yang melihat nya tertawa. ''Sudahlah Lis.. kamu membuat putri ku ketakutan seperti itu.. Lana! keluar dari hijab Maura!'' titah pak Madan seraya terkekeh.


Pemandangan biasa itu sudah menjadi santapan nya setiap hari di sekolah. Maura selalu saja menangis, saat di ganggu oleh Lana.


''Eh??''


''Hehehe... maaf Mak!''


''Kamu?!''


''Lis... kamu nggak mau tetima kami ya??'' tegur pak Madan lagi.


''Eh? Aduh .. kak Madan! maaf! Alisa!!'' sentak ummi Hani dengan sedikit senyum kaku di bibirnya.


Alisa terkejut. ''I-iya! Ma-mari silahkan masuk!'' ajak nya pada tamu nya sembari menundukkan kepalanya melewati pak Madan.


Pak Madan tersenyum tipis. ''Kamu masih saja sama Lis..'' celutuknya, membuat ummi Aini terkekeh.


''Bener By.. bahkan kak Alisa tidak melihat ku sama sekali! entahlah lupa? atau bagaimana??'' ucapnya, membuat Pak Madan tertawa.


''Mari masuk Kak.. maaf saya kaget tadi!'' celutuk Abi Hendra setelah melihat Alisa masuk kedalam rumahnya.


''Ya.. jangan bilang jika kamu??''


''Seperti yang Kakak duga!'' sahut Abi Hendra sembari masuk ke dalam.


Sedangkan Lana, masih sibuk mendiamkan gadis kecil bernama Maura itu. ''Maaf.. Abang nggak sengaja Dek.. beneran??'' ucapnya dengan wajah sendu, padahal tersenyum di dalam hati.


Maura mencebik kesal. ''Abang jahat! kalau tadi Maura yang di pukul gimana??'' tanya gadis kecil itu masih dengan memanyunkan bibirnya.


Lana terkekeh. ''Nggak akan! Abang berani jamin! Mak Abang nggak akan mukul Abang, apalagi ada Maura tadi. Kamu lihat sendiri kan??''


''He'em,'' gadis kecil nan cantik itu tersenyum.


''Ayo kita masuk! Adek mau makan apa??''


''Mau makan apa aja yang dimasak Mak Abang! Ada ayam crispy kah??'' tanya nya dengan mata berbinar.


Lana terkekeh. ''Ada! Ayo!'' ajaknya pada gadis kecil itu.


Setiba nya di dalam, Lana melihat para orang tua yang berdiam an. Lana mengajak Maura ke dalam kamar, karena pasti ada Ira dan Raga disana.


Tepat seperti dugaan nya. Dua saudaranya nya itu sedang bermain dengan Annisa. Dengan Mira juga ada disana.


Kakak nya Maura. Putri sulung dari pak Madan.


''Kak! Pada ngapain sih tuh orang tua? kok malah diam-diam an??''


''Eh?? Siapa yang diam-diam an??''


💕


Mau lagi??


Dasar Lana! anak koplak! Lihat aja ntar! othor jodohkan sama Maura baru tau rasa! eh?

__ADS_1


TBC


__ADS_2