
''Udah datang orang nya, Pi?'' tanya Alisa dari belakang Gilang. Gilang menoleh dan tersenyum.
''Ya, baru saja!'' sahut Gilang masih dengan menatap Alisa.
Sedangkan Fabian terkejut mendengar ucapan Alisa untuk Gilang, pelanggan tetap di showroom nya. ''Papi?'' beo Fabian.
Ia jadi bingung dengan kenyataan yang terjadi di depan nya sekarang. Sedangkan Tama, ia melihat Alisa dan langsung saja menubruk nya.
''Mak!!! Abang datang!!'' serunya kegirangan.
Ia berlari mendekati Alisa. Alisa tersenyum melihat putra angkatnya itu.
''Tama!!'' pekik nya.
Mereka berdua saling mendahului, Gilang yang melihatnya melongo.
Grep!
Alisa memeluk Tama dengan erat. ''Ya Allah.. kangen banget Mak sama Abang! Gimana kabar nya Nak? Kamu sehat? Lah? Loh? Kok nangis? Ishh.. udah besar juga masih nangis ih!'' ucap Alisa saat mendengar Isak tangis Tama di dalam pelukan nya.
''Nak??'' panggil Alisa.
Tama tak menyahut, ia semakin erat memeluk tubuh Alisa dan sesegukan di dada Mak angkatnya itu. Dua orang di depan mobil itu terkekeh melihat tingkah putra mereka.
Sedang Gilang melototkan matanya. Haissshhh... enak bener ni bocah! Baru ketemu langsung meluk aja! Lah aku? Ck! Batin Gilang sewot.
Melihat pujaan hatinya di peluk oleh pemuda lain, ia geram, lalu berdehem. ''Ehem! Kamu sayang! giliran putra mu datang di peluk seperti itu! Giliran aku pulang, kamu nangis! Malah yang kamu peluk itu Rayyan!'' ketus Gilang.
Alisa terkejut dengan ucapan Gilang, dengan segera ia mengurai pelukannya dari Tama. Tapi Tama tak mengijinkan nya. ''Eh, Papi! hehehe...''
Dari arah belakang, Lana muncul sambil tertawa melihat wajah Gilang masam. ''Hahaha .. Papi ngambek!'' imbuh Lana masih dengan tertawa nya mengejek Gilang.
Gilang melototkan matanya. Ia melotot melihat Lana. Lagi, Lana tertawa terbahak. ''Buahaha... Papi marah Mak! Cembokur euyyy!!''
''Abang!! Ishh.. awas kamu ya? Nggak Papi kasi uang jajan baru tau rasa kamu!'' ancam Gilang.
''Hahaha... Iya deh, iya! Abang nggak akan gitu lagi. Janji! Waduh kalau papi ngambek beneran, bisa habis aku!" gumam Lana.
"Abang...?" panggil Gilang dengan mata memicing tajam.
"Hehehe... selow Papi.. selow Man! Bang Tama! Ih kangen Abang!" ucap Lana dengan segera menarik paksa tubuh Tama dari pelukan Alisa.
"Lana ishh! Abang masih kangen sama Mak! gimana sih?!" gerutu Tama.
__ADS_1
Walau begitu, ia tetap saja memeluk adik angkat nya itu. "Hehehe .. jangan memonopoli Mak kita bang! Tuh, pemilik aslinya sudah pulang!" celutuk Lana.
Membuat Alisa membulatkan matanya. "Abang!" serunya.
Gilang terkekeh melihat itu. "Ayo Om Bian! Kita masuk! Nggak ada habisnya jika dengan bocah nakal ini!" seloroh Gilang.
"Ih mana ada Abang nakal! enak aja!" sewot Lana.
Linda tertawa begitu juga dengan Tama. Tidak dengan Fabian. Ia masih bingung, dengan apa yang terjadi sekarang.
Melihat Fabian terdiam, Gilang terkekeh. ''Ayo Om, nanti saya ceritakan! Mari!'' ajak Gilang pada Fabian.
Fabian mengangguk walau wajahnya itu masih kentara sekali karena kebingungan. Mereka semua masuk ke dalam ruang megah milik Alisa.
Tiba disana Tama melihat Annisa sedang bermain dengan kucingnya. Tama tersenyum dan mendekati gadis kecil itu.
''Sayang...''
Deg!
Bocah kecil itu terkejut mendengar suara Tama. Matanya berkaca-kaca. Ia berbalik dan menoleh.
Matanya bertubrukan dengan mata bening milik Tama. ''Hiks .. Abang... hiks..''
Ia beerlari mengejar Tama. Tama pun demikian. Mereka berdua berlari untuk saling mendahului.
Grep!
Tama menangkap tubuh kecil Annisa. Mereka berdua saling berpelukan dan menangis. Gilang yang melihat itu, terdiam.
Ia melihat jika Tama tidak seperti Abang terhadap adiknya. Gilang merasa jika mereka berdua seperti pasangan.
''Pi??'' panggil Alisa.
''Hah?'' Gilang terkejut dan melihat Alisa yang sedang menatapnya.
''Di ajak atuh Bang Bian nya? Ayo! Masa' tamu dibiarkan berdiri saja?'' imbuh Alisa, dengan sedikit merengut pada Gilang.
Gilang terkekeh. ''Iya sayang ku..'' sahutnya. Kemudian ia beralih pada Fabian dan Linda. ''Mari Om Bian! Tante Linda! Mari silahkan duduk.'' Ajak Gilang dengan segera melangkah kan kakinya ke sofa di ruang tamu itu.
Fabian dan Linda segera duduk. Mereka berdua terkekeh saat melihat sepasang anak manusia beda umur masih larut dalam tangisan mereka.
''Lihat Pa! Putra tunggal mu! Sepertinya jodoh putra mu sudah nampak hilal nya!'' celetuk Linda.
__ADS_1
Fabian tersenyum. ''Adiknya sayang.. bukan jodoh nya. Kamu ini ada-ada saja.'' Sahut Fabian dengan sedikit kekehan di bibirnya.
''Beneran loh.. lihat aja nanti. Pasti Annisa yang akan menjadi jodohnya! Mama yakin kok.'' Imbuhnya dengan tersenyum manis menatap dua anak manusia beda generasi itu.
''Jangan berkhayal yang terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit loh..'' tegur Fabian.
''Nggak! Lihat saja nanti! Mama yakin kok.'' Keukeh Linda lagi.
''Jangan mendahului Tuhan sayang.. kita lihat saja nanti. Aku nggak yakin akan hal itu. Lihatlah Tama. Jika ia menikah dengan Tama, berapa kira-kira umur nya? Apakah Annisa mau mendapatkan suami yang lebih tua darinya? Apa ia menerima Tama yang menjadi suaminya, sedang ia tau kalau selama ini jika Tama adalah Abang nya?''
Linda terdiam. Ia masih menatap kedua anak manusia beda usia itu. Linda yakin, jika Tama juga memilki rasa pada gadis kecil itu.
Begitu juga dengan Annisa. Mereka berdua pasangan yang memang sudah di tentukan garis tangan nya.
Linda menoleh pada Fabian. ''Kamu ingat tidak dengan kisah nabi Muhammad sebelum menikahi sayyidah Aisyah? Beliau di jodohkan oleh Allah dengan nabi kita pada saat beliau sudah berumur matang. Namun ketika Sayyidah Aisyah sudah besar, beliau Menikahi nya. Padahal selama ini, beliaulah yang selalu mengajak bermain Sayyidah Aisyah kemana pun. Apa kamu masih ingat dengan kisah ini, Pa? Kamu tidak boleh menyangkal semua ini. Aku yakin, jika mereka memang sudah ditakdirkan bersama, pasti mereka akan di persatukan kelak.'' Jelas Linda panjang lebar.
Fabian tertegun mendengar penjelasan istrinya. Begitu juga dengan Gilang. Ia menatap dua anak manusia itu.
Mereka bercanda bersama saling menggoda. Lebih banyak Tama sih yang menggoda gadis kecil itu.
Gilang terkekeh. ''Tante benar! Kita tidak tau dengan masa depan. Contohnya aku. Berapa jarak usia ku dan Alisa? Terpaut sangat jauh. Tapi kami bisa saling melengkapi satu sama lain. Ya... walaupun belum sah secara agama sih.'' Imbuh Gilang, dengan sedikit kekehan di bibirnya.
Fabian terkejut. ''Belum sah? Kenapa begitu?'' ucap Fabian dengan suara meninggi.
Gilang tertawa mendengar suara tinggi Fabian. ''Sebentar lagi, Om! Kami sudah sah secara hukum, tapi agama belum. Aku harus berjuang lagi untuk mendapatkan restu kedua orang tua Alisa. Selama lima tahun ini aku menunggu jawaban darinya. Tapi belum juga di jawab. Ck! Kadang aku bingung dengan istri sah ku itu! Apa sih yang ia tidak terima dari diriku? Aku tampan, kaya, baik iya! Lalu dimana letak kekurangan nya?'' imbuh Gilang dengan sedikit sewot.
Alisa yang berada di belakang nya terkekeh geli. ''Karena kamu istimewa Papi. Maka dari itu, aku harus bersabar untuk mendapatkan mu! Kamu ibarat perahu layar yang sedang terdampar karena tersesat. Aku ingin memiliki mu, tapi aku sadar aku tidak pantas berada di perahu itu. Karena aku melihat, nan jauh disana ada keempat orang tua kita dengan wajah sendu. Aku menerima mu Papi sedari dulu. Tapi semua itu terhalang karena orang tua kita. Jika kamu ingin memiliki ku, maka raihlah restu kedua orang tua ku. Setelah kamu mengantongi restu kedua orang tuaku, kapan pun aku siap untuk kamu halal kan. Untuk menjadi istrimu!''
Deg!
💕
Wooaaahhh... mau minta restu euuuyyy..
Hihihi..
Semakin seru ya? Yuk mampir dulu ke cerita teman othor ini sambilan nunggu cerita othor update!
Karya : Nirwana Asri
Judul : Kekasihku Pria Amnesia
__ADS_1
Like dan komen selalu othor tunggu! 😘😘