
''Hem.. ternyata kamu menolak setiap lelaki karena pemuda ini ya Lis?'' goda Fabian pada Alisa. Membuat Alisa terkejut di sela-sela kekehan nya bersama Gilang.
Tama yang berada tak jauh dari mereka, menoleh dan mendekati Linda. Dan duduk di sebelah nya.
Dengan Annisa ada di pangkuan nya. Gadis kecil itu terus saja bermain di pangkuan Tama.
''Eh? Maksud Abang apa tuh?'' tanya Alisa, karena melihat raut wajah Gilang berubah menjadi datar.
''Ya, selama lima tahun ini, aku mencoba mengenalkan mu pada seluruh teman serta sahabatku. Kamu menolaknya Alisa. Ternyata semua ini karena pemuda tampan disamping mu ini yang telah berhasil meluluhkan kebekuan di hati mu selama ini ya? Kalau boleh ku tau, mengapa kamu menyukai Gilang? Apa yang kamu lihat dari Gilang, hingga kamu memilihnya sebagai tempat terakhir untuk kamu berlabuh?''
''Bukankah selama ini yang aku tau, jika kamu takut akan menikah lagi? Lantas, mengapa sekarang kamu berubah pikiran? Apakah ini karena pemuda itu Gilang? Makanya kamu menolak semua pemuda yang aku pilihkan untuk berkenalan dengan mu?''
''Jika iya karena Gilang, kenapa kamu menolak mereka? Padahal selama ini kamu tau, kalau aku banyak mengenalkan mu pemuda yang sama bahkan sangat mirip seperti Gilang ini. Boleh aku tau Alisa? Apa yang membuatmu hingga kamu tetap menunggu Gilang kembali dari studi nya?'' tanya Fabian begitu dalam.
Fabian dan Gilang sama-sama menunggu jawaban dari Alisa. Ia menoleh pada Linda, dan Linda mengangguk kan kepalanya.
Alisa menghela nafasnya. ''Bang Tama.. bawa kedua adikmu keluar ya? Mak mau ngomong penting disini. Mana Lana?''
''Ada Mak. Katanya tadi ke kamar mandi bentar. Nah, tuh orang nya muncul! Ayo, kita harus keluar. Kita main diluar ya?'' bujuk Tama pada Annisa dan Rayyan.
''Adek sama Abang! Nggak mau sama bang Lana! Bosen!'' celutuk gadis kecil itu.
Lana mendelik mendengar ucapan adiknya ini. ''Hilih! giliran ada bang Tama aja, Abang kamu cuekin! Nanti Abang pulang, baru kamu sibuk ngejar Abang lagi! Awas kamu kalau minta gendong Abang lagi! Abang mau gendong Adek Rayyan aja! Ayo Dek!'' ketus Lana. Sekalian ia membawa Rayyan keluar dari rumah itu.
Sedangkan Tama tertawa melihat tingkah Lana. ''Ayo sayang! Kita main di depan ya?''
Annisa mengangguk, dengan segera gadis kecil putri bungsu Alisa itu bergelayut manja di leher Tama.
Gemas, Tama mencium pipi chubby itu. Membuat sang empu tertawa. Alisa yang melihat tingkah kedua anak itu tertawa.
Setelah Tama pergi, Alisa menoleh pada tiga orang yang sedang menatapnya. Mata yang tadinya berbinar cerah kini berubah menjadi sendu.
Gilang tetap berwajah datar. Karena ia tidak terima dengan ucapan Fabian baru saja. Kalau Alisa sudah berulang kali di jodohkan oleh pemilik showroom langganannya itu.
Alisa menoleh pada Gilang dan mengambil tangan besar Gilang dan dibawa ke pangkuan nya untuk ia genggam.
__ADS_1
''Aku akan menjawabnya. Mengapa aku lebih memilih Gilang dari pada pemuda lain? Yang sama kaya dan sangat mirip dengan Gilang? Aku tidak menginginkan mereka, yang aku inginkan adalah Gilang. Pemuda berandalan yang dulunya pernah ku temui saat ia sedang tawuran antar sekolah. Pertama kali aku melihatnya, seperti ada desiran aneh di hatiku. Begitu juga dengan jantungku. Tidak tau kenapa, jantungku berdegup begitu kencang ketika pertama kali melihatnya. Berbeda dengan Ayah anak-anak dulu. Bahkan sangat jelas perbedaan nya. Untuk menutupi rasa itu aku sengaja bersikap datar padanya. Karena aku ingin menjaga hatiku yang sudah tidak karuan saat pertama kali melihatnya..''
''Aku pernah melihat Gilang di dalam mimpiku beberapa tahun silam. Bahkan ketika aku baru beranjak remaja, Gilang selalu muncul dalam mimpiku. Pemuda kecil nan tampan, hidung mancung berkulit putih dengan rambut ada belahan di tengahnya. Ketika ia tersenyum, aku terpesona melihat matanya yang sipit seperti orang cina.''
''Aku heran dengan diriku, kenapa Gilang selalu muncul dalam mimpi ku setiap malamnya? Dan itu terjawab. Saat itu aku sedang sakit, karena Papa menolak keinginan ku untuk bisa sekolah di Medan. Tempat ku sekarang berada. Papa menolak tegas semua itu. Katanya, kami tidak punya saudara disini. Belum lagi jarak yang begitu jauh membuat Papa tidak mengijinkan ku untuk bisa ke Medan. Padahal aku sangat ingin ke Medan. Dan itu semua karena mimpiku. Mimpi bertemu Gilang disini. Aku sampai sakit karena Papa menolak permintaan ku waktu itu.''
''Setiap kali aku merasakan sakit hati, pastilah Gilang muncul dalam mimpiku sebagai penawar rasa sakit ku. Bahkan ketika aku menikah dengan bang Emil pun, Gilang selalu datang menyapaku dengan wajah penuh air mata.. hiks..''
Gilang juga ikut menangis melihat Alisa menangis. Karena mimpi yang disebutkan oleh Alisa juga ada di dalam mimpinya.
''Hiks .. setiap kali aku kecewa.. Gilang hadir di dalam mimpiku dan selalu memberikan ku semangat untuk terus bisa lebih kuat. Setiap kali rasa sakit itu muncul, pastilah Gilang ikut hadir bersama rasa sakit itu. Kadang aku berpikir, apakah ini nyata? Atau cuma mimpi? Bukankah mimpi itu bunga tidur? Lalu, kenapa aku merasa jika Gilang itu nyata adanya? Setiap malam aku selalu memikirkan ini. Hingga suatu saat aku mendengar kata-kata terakhir dari almarhum Nenek.''
Alisa berhenti, ia menyusut ingusnya. Gilang terkekeh. Dengan segera ia memberikan tisu padanya.
''Terimakasih Papi.. Kata Nenek, Jika mimpi itu sering hadir di dalam mimpi ku disaat aku merasakan sakit dan juga kecewa, maka itu adalah petunjuk dari yang maha kuasa untukku. Yang artinya, jika jodohku sudah ada dan terlahir kedunia. Sempat bingung dengan pernyataan Nenek. Tapi Nenek meyakinkan ku. Bahwa beliau dulu juga sama seperti ku. Yang artinya Kakek ku juga ada di dalam mimpi nenekku. Nenek juga menikahi kakek saat usia kakek seusia Gilang saat ini. Hanya saja nenek waktu itu masih gadis, sedang aku? Janda...'' lirih Alisa.
Gilang tercekat mendengar ucapan Alisa. Ia semakin erat menggenggam tangan halus itu. Alisa melanjutkan lagi ucapannya.
''Oleh karena nya, setelah aku berpikir dan aku juga menghubungkan kejadian masa lalu dan juga sekarang, benar! Jika mimpi itu benar adanya. Jika Gilang yang ada di mimpiku itu memang benar Gilang yang ada di depanku saat ini. Jodohku. Jodoh masa depanku. Oleh karenanya, aku menolak semua pemuda yang Abang kenalkan kepadaku saat itu. Karena bagiku tidak ada yang sama seperti Gilang ku ini. Karena dialah aku bertahan hingga sampai sejauh ini. Karena permintaan nya aku juga masih berada disini.'' Jelasnya dengan sedikit merendahkan suaranya.
''Hanya itu? Tidak ada yang lain lagi?'' tanya Fabian menggoda Alisa.
Alisa tersenyum malu, ia menunduk tidak mau menatap Gilang. ''Karena aku mencintai nya jauh sebelum kami di pertemukan!''
Deg!
Gilang terkejut. ''Apa?! Bagaimana bisa?! Kamu cenayang??'' tanya Gilang. Alisa merengut dan menggeplak tangan kekar Gilang.
Plak.
''Aduhh.. sakit sayang!'' keluh Gilang, karena Alisa menimpuk lengannya begitu kuat.
''Habisnya, kamu itu asal kalau nuduh! Mana ada aku cenayang! Nenek yang bilang padaku, jika aku juga akan mengikuti jejaknya. Dan juga nama itu sudah tertulis sebelum aku ada!'' ketus Alisa.
Linda dan Fabian tertawa melihat Alisa jadi jutek pada Gilang. ''Mana mungkin sayang.. nenek kamu itu bukan Tuhan loh.. kok bisa sih, nenek kamu tau jika aku adalah jodoh mu kelak??''
__ADS_1
''Karena antara Kakekku dan Oma Diana pernah memiliki impian ini. Jika suatu saat mereka tidak berjodoh, maka kita sebagai penerusnya lah yang akan meneruskannya!''
Deg!
''Apa?! Bagaimana bisa kamu kenal dengan Oma Diana?'' tanya Gilang dengan suara meninggi.
Alisa menatap dalam pada Gilang, dan dibalas tatap begitu dalam juga oleh Gilang.
''Aku tidak mengenalnya. Tapi aku melihat foto Oma mu ada didalam kamar mu saat aku pernah berkunjung ke rumah mu dua tahun yang lalu. Wanita yang sangat di cintai oleh kakek ku, mereka berpisah karena status sosial mereka dan juga Oma Diana sudah di jodohkan dengan Opa mu. Semua itu sudah tersimpan di dalam laci nakas kamar mu. Paling bawah. Bukalah dan baca. Semua itu jelas disana.'' Jelas Alisa, membuat Gilang semakin terkejut.
''Masa' sih? Kok aku nggak tau ya? Malah kamu yang lebih tau?''
''Karena Oma tau, saat nanti Oma pergi meninggalkan mu, kamu pasti akan sangat sedih. Sebagai ganti untuk menghibur mu, ia menuliskan sebuah surat untuk mu dan juga untukku. Surat itu berada di dalam lemari nakas kamar mu. Tidak ada yang bisa membuka nya selain kita berdua. Karena kunci dari lemari itu ada padaku.'' Jelas Alisa lagi.
Semakin membuat Gilang terkejut. ''Pantas saja lemari itu sangat sulit untuk di buka. Bahkan aku pernah memukulnya pakai palu saking geram nya karena tidak bisa di buka. Eh, taunya kunci nya ada sama kamu! Hadeuhhh...''
''Oma punya impian Papi.. apakah kamu ingin mewujudkan impian Oma ? Apakah kamu tidak mengingat apa impian Oma? Kamu lupa, Pi? Apa yang pernah Oma katakan pada mu dulu sebelum beliau sakit-sakitan?'' tanya Alisa dengan terus menatap Gilang lekat.
''Impian? Impian Oma??'' beo Gilang
Sesaat ia mengingat impian Oma Diana dulu sebelum ia meninggal dunia.
''Oma....''
💕
Biar jelas ya, mengapa dulu mereka berdua saling bermimpi yang sama. Ini dia jawabannya.
Ada satu part lagi. Tunggu aja! Baru setelahnya kita lanjut menjemput Restu ke Aceh. 😁😁
Tuntas ya Doble up nya? Kalau sempat Ntar malam othor update lagi.
Sering-seringlah kasi othor hadiah, kopi misalnya? Agar othor bisa lembur untuk lanjutin satu part lagi okey?
Hihi.. othor maksa ya? 😄😄
__ADS_1
TBC