Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Ngidam??


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan Presdir, dengan segera Andi keruangan informasi untuk meminta kepada petugas siapa yang ada membawa roti bakar Bandung harap menuju keruangan Presdir.


''Maaf tuan, ada apa anda keruang informasi? Ada yang bisa dibantu?'' tanya petugas informasi itu kepada Andi.


''Katakan pada seluruh karyawan, siapa yang punya bekal roti bakar Bandung harap menuju keruang Presdir, Istri Presdir menginginkan roti bakar itu.'' ucap Andi


Petugas itu mengangguk. ''Baik Tuan. Ehm, Test. Saya dari bagian informasi ingin menyampaikan pesan dari istri Presdir kita. Siapa yang memiliki roti bakar Bandung, harap menuju keruangan Presdir. Beliau menginginkan makanan itu sekarang!''


Suara dengungan mikrofon itu terdengar ke seluruh penjuru kantor. Beberapa orang saling bertatapan, karena mereka memiliki roti bakar Bandung yang baru saja mereka bawa dari rumah untuk bekal nanti malam saat lembur.


Dengan berat hati, beberapa orang itu segera berdiri dan berjalan menuju keruangan Presdir.


Disana Andi sudah menunggu mereka. Tiba disana, Andi menyuruh mereka berlima masuk.


''Bos, orang yang anda inginkan sudah tiba!'' kata Andi dari sebalik pintu yang tertutup itu.


Alisa dapat melihatnya dari kaca transparan di dalam ruangan Gilang itu. Dari luar terlihat seperti dinding. Tapi sesungguhnya itu adalah kaca yang tidak terlihat.


Alisa tersenyum, ''Ya, bawa masuk!'' sahut Alisa.


Dengan segera ia melepaskan Gilang yang sedang nemplok di dadanya untuk ia sandarkan di sofa.


Kasihan sekali melihat Gilang begitu lemas dan pucat seperti itu. Tapi Alisa tidak bisa berbuat apapun tentang itu.


Ceklek!


''Mari masuk! Nyonya, mereka ada disini.'' ucap Andi dengan segera bergeser berdiri disamping Gilang.


Alisa tersenyum. ''Silahkan duduk.''


''Terimakasih, Nyonya. Kami disini saja. Ini yang anda inginkan Nyonya. Roti bakar Bandung ini khas buatan istri saya. Begitu juga teman saya yang lain. Roti ini untuk kami makan saat lembur nanti.'' ucapnya membuat Gilang membuka matanya.


Deg!


Mata elang itu menatap datar pada kelima karyawan nya. Mereka berlima menunduk. Mereka berlima sangat tau, jika Gilang sangat tegas tentang Alisa.


Contohnya kemarin saat meeting saja Gilang rela pulang demi bisa menemui sang istri. Gilang menatap tajam pada mereka berlima.


Alisa memegang tangan Gilang dan menggeleng. ''By...'' tegur Alisa.


Gilang melengos. Andi terkekeh. ''Diam kamu Andi! potong gaji?!'' seru Gilang dengan menatap tajam pada Andi.


Andi menggeleng cepat. Alisa tertawa hingga kepalanya mendongak. ''Sayang... ayolah.. kamu menjatuhkan wibawaku di depan karyawan ku loh..'' tegur Gilang dengan suara manja nya.

__ADS_1


Kelima karyawan nya itu saling lirik. Sambil menunduk. Mereka mengulum senyum. Mereka lipat bibir ke dalam agar tidak menyembur kan tawa.


Alisa masih saja tertawa melihat wajah pucat Gilang yang sangat lucu di matanya. ''Nggak boleh gitu ih! Mereka itu datang karena permintaan ku! Jadi kamu jangan marah, okey? Jangan Potong gaji!'' tegas Alisa saat melihat Gilang mendelik pada Andi.


Gilang berdecak. ''Terserah mu lah sayang. Pokoknya aku mau makan roti bakar Bandung, titik tanpa koma!'' sungut Gilang dengan cemberut.


Alisa tertawa lagi. ''Udah ih! Ini kapan kelarnya coba? Ehem. Oke. Ada berapa roti bakar nya?'' tanya Alisa pada mereka berlima.


Salah satu dari mereka menoleh. Alisa tersenyum, pemuda itu pun ikut tersenyum. ''Hanya ada lima, Nyonya!'' sahutnya masih dengan menatap Alisa.


''Oke, saya minta semuanya ya?'' mereka berlima saling pandang.


Alisa terkekeh, ''Tenang... akan saya gantikan dengan kue langsung dari toko saya. Kalian bisa request! Akan saya pesankan untuk diantarkan kemari segera!'' mendengar ucapan Alisa seperti itu, mereka bersorak senang.


''Benarkah Nyonya?'' tanya mereka tidak percaya.


Alisa mengangguk. ''Kalian boleh request sekarang.''


Mereka berlima berbinar senang. ''Saya pesan puding lumut!''


''Saya risoles dan bakwan udang, hehehe..''


''Saya bolu karamel dua loyang! hihi..''


Alisa tersenyum lembut menatap kedua orang tua sebaya Om Karim itu.


''Baiklah, akan saya pesankan segera. Hallo, Assalamualaikum, Fitri. Kirimkan dua dus Puding lumut, seribu picsis dan risoles, Bakwan udang dan jagung masing-masing seribu picsis, dua dus bolu karamel, tiga dus bolu pisang dan Satu kotak onde onde diantarkan sekarang juga ke kantor Bhaskara Group. Kalau di toko utama tidak ada, pesankan pada toko cabang. Untuk Onde-onde nya kamu lainkan ya? Pisahkan untuk saya makan! Ya. Sekarang. Hehehe.. kamu bisa saja. Saya tutup. Assalamualaikum.'' ucap Alisa pada sambungan ponsel miliknya.


Mendengar pesanan kue langsung dari toko kue Alisa. Mereka semua bersorak senang. ''Ini roti bakar Bandung nya Nyonya. Apakah anda sedang ngidam??'' tanya salah satu karyawan Gilang yang terakhir tadi tidak memesan apa-apa.


Alisa dan Gilang saling pandang. ''Ngidam??''


''Ya, ngidam.''


''Maksud Anda, istri saya sedang hamil begitu?'' tanya Gilang pula.


Bapak-bapak itu terkekeh-kekeh, ''Wajah pucat tuan sangat mirip seperti orang ngidam! Apakah Nyonya sedang hamil? Kalau begitu, selamat Nyonya, Tuan Gilang!'' seru Bapak itu.


Alisa terkekeh, ''Saya sedang tidak hamil, Pak. Baru saja dapat kok bulan ini. Mana mungkin saya hamil?''


''Eh, masa' sih? Seingat aku, kamu nggak dapat tamu bualan loh.. bulan ini?'' Alisa mendelik.


''By! Maluuuuu...'' seru Alisa dengan suara lirih. Gilang terkekeh. Begitu juga dengan Andi.

__ADS_1


''Hehehe... maaf Pak! Pesanan kue kalian satu jam lagi akan tiba. Andi!''


''Saya, Nyonya!''


''Kalau kue dari toko saya sudah tiba, kamu bagikan rata ya pada seluruh karyawan kantor ini? Kalau kurang, nanti saya pesankan lagi.'' kata Alisa pada Andi.


''Siap Nyonya! Kalau begitu kami permisi! Ayo, kita keluar!'' ucap Andi pada karyawan nya itu.


''Terimakasih Kue nya Nyonya. Saya doakan semoga anda dan Tuan Gilang cepat diberikan momongan. Saya yakin kok Jika anda sedang hamil.'' celutuk nya membuat Gilang mendelik.


Alisa tertawa. ''Amiinn.. semoga ya Pak? Di tunggu kue nya!''


''Tentu, Nyonya! Kami permisi.''


''Ya,'' sahut Alisa.


Setelah itu mereka keluar dan kembali keruangan masing-masing.


Sedang kan Gilang sudah tidak sabar ingin makan roti bakar itu. ''Buka sayang. Pingin banget aku sama roti bakar ini.'' ucap Gilang dengan mata berbinar senang.


Alisa menoleh dengan heran pada Gilang. ''Setauku, aku loh yang pingin banget makan ini roti bakar? Sekarang kenapa kamu pula yang pingin makan?''


Gilang cengengesan. ''Lapar sayang.. baunya enak banget loh.. besok-besok aku suruh bapak-bapak itu lagi untuk membawa roti bakar ini! Nanti aku ganti dengan makan siang atau lembur mereka. Bismillahirrahmanirrahim..'' ucap Gilang dengan segera roti bakar itu masuk ke mulutnya.


Gilang tersenyum saat merasakan enaknya roti bakar Bandung buatan orang itu. Alisa tertawa melihat nya.


''Kamu mirip Rayyan sayang! hihihi..'' Alisa terkikik geli.


Gilang pun ikut terkikik geli. Mereka berdua sarapan dengan roti bakar milik karyawan Gilang.


Andi yang paham, segera membeli jus Pokad untuk Gilang dan juga Alisa. Minuman kesukaan dua Bos nya itu.


💕💕💕💕


Hihihi.. beneran nggak nih, cebong Papi Gilang udah jadi?


Ikutin terus kelanjutannya!


Akhir bulan ini, cerita ini end. Pantengin terus agar tidak ketinggalan!


Selamat menikmati akhir pekan...


Jalan-jalan nggak woy? 😁😁

__ADS_1


__ADS_2