Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Impian Oma


__ADS_3

''Oma punya impian Papi.. apakah kamu ingin mewujudkan impian Oma ? Apakah kamu tidak mengingat apa impian Oma? Kamu lupa, Pi? Apa yang pernah Oma katakan pada mu dulu sebelum beliau sakit-sakitan?'' tanya Alisa dengan terus menatap Gilang lekat.


Gilang masih bingung dengan impian Oma Diana. Matanya bergerak-gerak mengingat apa impian Oma Diana.


''Impian? Impian Oma??'' beo Gilang.


Sesaat ia mengingat impian Oma Diana dulu sebelum ia meninggal dunia. Matanya membulat sempurna. Matanya berkaca-kaca. Ia memanggil Oma Diana dengan buliran bening yang sudah bercucuran di pipi mulusnya.


''Oma....'' lirih Gilang. Alisa tersenyum, namun air mata juga ikut membasahi pipinya.


''Sudah ingat??'' tanya Alisa.


Gilang mengangguk. ''Ya.. waktu itu Oma pernah bilang ke aku... kalau.. kalau Oma punya impian. Jika kelak aku lahir ke dunia, aku akan di jodohkan dengan seseorang yang aku tidak tau siapa. Oma bilang, aku akan menemukan kebahagiaan yang tiada Tara disini. Impian yang selama ini tidak pernah terwujud karena Oma menikah dengan Opa. Dan akan ada saat dimana seseorang itu akan hadir dalam hidupku, tapi pada saat itu Oma telah tiada. Oma... Gilang kangen Oma..'' lirih Gilang dengan sesegukan.


Dadanya terasa sesak. Mengingat impian Oma dulu yang pernah ia ceritakan sebelum beliau sakit dan akhirnya meninggal dunia.


''Sayang...''


''Iya Oma... Oma mau apa? Biar Gilang ambilkan ya?''


''Tidak usah.. sini duduk dekat Oma. Ada yang ingin Oma katakan pada mu. Sebuah rahasia yang Opa mu sendiri pun tak tau.''


''Rahasia?? Rahasia apa Oma?''


''Rahasia masa lalu Oma sebelum Oma menikah dengan dengan Opa mu. Sebelum Oma menikah dengan Opa mu, Oma pernah menyukai lelaki lain. Lelaki itu keturunan Aceh. Kami saling mencintai dan akan berjanji menikah setelah lulus kuliah.. Tapi...''


''Tapi??'' beo Gilang

__ADS_1


''Tapi semua itu tidak terwujud, karena diri nya di jodohkan oleh kedua orang tuanya dan Oma pun juga begitu. Oma sangat terpukul saat itu. Tapi Oma tidak bisa menentang Eyang mu. Oma harus tunduk dan manut pada perintahnya. Oleh karena nya, Oma dan orang yang Oma cintai harus rela berpisah dan kami berjanji. Jika suatu saat kami tidak berjodoh, maka keturunan kami berikutnya lah yang akan meneruskan nya. Kami berdua sudah berjanji sehidup semati. Dalam hal dan keadaan apapun. Oleh karena itu, Oma meminta Opa mu untuk bisa tinggal di Medan. Karena di Medan inilah kalian berdua akan di pertemukan.''


''Kalian? Kalian siapa maksud Oma?'' Oma Diana tersenyum dan mengusap lembut kepala Gilang.


''Kamu dan calon cucu mantu Oma. Kamu akan bertemu dengan nya disini nanti. Karena inilah impian kami berdua. Bahwa jika kami menikah nanti, maka kami akan tinggal disini. Karena di tempat inilah kami berdua di pertemukan dengan tidak sengaja. Oma sangat berharap pada mu sayang.. mau kan kamu memenuhi impian Oma?? Mungkin saat itu terjadi, Oma sudah tidak ada di dunia ini lagi..'' lirih Oma dengan wajah sendu.


Mata Gilang berkaca-kaca mendengar ucapan terakhir Oma Diana. ''Gilang janji, Oma! Gilang akan mewujudkan impian Oma ketika Gilang sudah besar nanti. Oma tenang saja. Gilang tidak akan mengingkari janji! Janji Seorang lelaki pada seorang wanita kan yah?''


Oma Diana tergelak mendengar ucapan polos Gilang. ''Ya, sampai dimana itu terjadi Oma akan terus berdoa agar kalian bisa cepat di pertemukan. Dia gadis yang cantik! Bahkan sangat cantik! Kamu akan beruntung memilikinya. Ingat ini! Kamu akan bertemu dengan jodoh mu nanti disini. Di kota Medan ini. Dan ketika itu terjadi, maka ingatlah pesan Oma ini. Wanita ini sangat cantik, parasnya ayu, mata bulat, hidung tidak mancung tapi bisalah..''


Gilang tertawa mendengar ucapan Oma Tetang hidung jodohnya.


''Lagi Oma! Gilang semakin penasaran dengan nya! Jodoh Gilang! Aseeeekkk..'' Lagi, Oma tertawa.


''Ia sangat baik, namun nantinya kamu akan sangat sulit untuk meluluhkan nya. Karena wanita ini adalah wanita istimewa yang di kirimkan khusus untukmu. Dulu, Oma pernah meminta Papa mu untuk menuruti Oma, tapi Papa mu tidak mau. Karena dia sangat ingin menikahi Mama mu. Maka dari itu, Oma menginginkan mu yang akan meneruskan impian kami berdua. Kamu tidak perlu khawatir sayang.. jika memang sudah waktunya. Kamu pasti akan bertemu dengannya ..''


Oma terkekeh, ''Boleh, tapi cuma sekedar berteman saja. Tidak boleh lebih! Karena kamu sudah ada yang punya! Ingat itu. Kamu harus pegang janjimu. Walaupun nantinya kamu memiliki wanita lain dalam hidupmu, Oma mohon.. ingatlah selalu permintaan Oma ini. Karena kemana pun kamu pergi, kamu tetap akan pulang padanya. Oma tidak bisa meneruskan nya. Tapi kamu bisa. Karena Oma yakin, keturunan ketiga dari keluarga Bhaskara yaitu kamu, pasti bisa melaksanakan nya. Oma yakin! Ya sayang?''


Gilang mengangguk dan tersenyum begitu manis pada Oma Diana. Dibalas elusan lembut di kepala Gilang.


''Sejak itulah aku selalu memimpikan kehadiran mu di dalam hidupku. Tapi sayangnya aku tidak tau siapa lelaki yang dicintai Oma itu..'' lirih Gilang.


Ia semakin terisak setelah menceritakan tentang impian Oma dulu ketika ia masih SD. Walaupun tidak paham, tapi ia tetap menuruti kemauan Oma Diana.


''Entah sejak kapan rasa itu ada. Yang jelas, ketika Oma bercerita tentang mu, dalam hati dan pikiran ku selalu menyebut nama mu. Dan itu terbukti saat kamu hadir di dalam mimpiku. Alisa Febriyanti!'' ucap Gilang, ia menatap lekat pada Alisa.


Alisa tersenyum dan mengangguk. ''Begitu juga dengan ku. Aku juga sering memimpikan mu setelah nenek menceritakan mu pada ku. Ternyata Kakek mengatakan yang sebenarnya kepada nenek tentang semua masa lalu nya bersama Oma Diana dan juga impian mereka. Aku sempat bingung dengan semua ini. Tapi setelah aku melihat mu di pinggir jalan waktu itu, aku merasa.. jika kamu adalah orang yang selama ini ku tunggu. Mungkin takdirku dan takdir mu memang harus seperti ini. Di pertemukan saat kita memang benar-benar sudah siap untuk mengarungi samudera luas bersama-sama untuk menuju surga Nya, Allah.'' Jelas Alisa, mereka berdua saling tatap satu sama lain.

__ADS_1


Hingga tatapan mata itu terputus karena mendengar suara Linda dan Fabian yang menggerutu.


''Ayo ah Ma! Kita pulang! Yang punya rumah sibuk!'' ketus Fabian. Padahal dalam hatinya ia tersenyum. Sengaja ingin menggoda Gilang dan Alisa.


''Ih Papa! Nggak boleh gitu atuh.. kamu gimana sih?! Ishh...'' gerutu Linda.


Alisa dan Gilang saling pandang, kemudian terkekeh geli melihat tingkah dua orang tamunya itu.


💕


Udah ya? Kita lanjut sesi Gilang ke Aceh untuk menjemput Restu kedua orang tua Alisa.


Ikutin terus ye!


TBC


Nah, Nah.. sambilan kalian tunggu cerita Gilang update, Yuk mampir di cerita teman aku yang kece badai ini!


Karya : Vhendie


Judul : Asa di ujung lembayung.



Like dan komen klean selalu di tunggu..😘


Luvyu all..

__ADS_1


__ADS_2