
Setelah melepas penatnya dengan menggoda Alisa, kini Gilang sedang melaksanakan ibadahnya yang tertunda.
Gilang melaksanakan sholat dhuhur pukul 2.30 siang. Karena ke asik kan menggoda Alisa hingga lupa waktu.
Jika bukan karena Ira yang menegur mereka berdua, bisa jadi sampai saat ini Gilang masih saja menggoda Alisa. Dengan Alisa yang terus menerus menepuk lengannya karena malu.
''Assalamualaikum warahmatullahi..'' ucap Gilang saat kepalanya menoleh kekanan dan kekiri.
Setelah nya ia berdoa sejenak, untuk keberkahan dan kenikmatan yang ia dapatkan, mohon diampunkan segala dosa, dan juga semua masalah yang terjadi akan ada jalan keluarnya.
Saat akan bangun, Gilang melihat Annisa yang tertidur di sebelah nya. Bayi yang berusia enam bulan itu, mendengkur halus.
Sesekali ia tersenyum dan tertawa. Membuat Gilang ikut tersenyum dan tertawa. Ira yang melihat Gilang tertawa, mendekati nya.
''Pi...''
Gilang menoleh, masih dengan senyum manis nya.
''Ya,'' sahutnya.
''Papi, kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu kah??'' tanya Ira.
''Nggak ada, hanya senang aja melihat Adek senyum dan tertawa sendiri. Menggemaskan!'' sahut Gilang.
''Hoo kirain ada apa? Rupanya karena adek toh.. ya sudah, Papi kalau mau istirahat silahkan aja! Kakak mau keluar dulu susulin, Mak ke warung Mbak Mila, untuk ngambil barang belanjaan untuk buat kue besok lagi.'' ujar Ira.
''Hem, ada yang pesan lagi kah??''
''Hooh, ada Pi! itu temannya bude Yuli ingin pesan lagi dalam jumlah banyak untuk acara lamaran anaknya, katanya. Jadi Mak, hari ini belanja di warung lagi.'' imbuhnya
''Ya sudah, Papi istirahat dulu disebelah adek aja. Papi akan temani adek sampai bangun.'' Ujar Gilang seraya merebahkan tubuhnya di samping Annisa.
Bayi kecil itu sangat anteng dengan tidurnya.
''Oke, Pi! kakak jalan dulu ya..'' imbuhnya seraya berlalu dan menutup pintu.
''Senangnya.. kalau punya bayi seperti ini? Ngegemesin. Andai secepat mungkin Alisa mau menikah denganku, pastilah aku akan mendapat putra dan putri yang cantik juga tampan dari nya. Hah! kapan ya aku bisa memiliki buah hati, seperti malaikat kecil ini?'' gumamnya pada diri sendiri.
Gilang mengelus pipi chubby Annisa. Sangat lembut dan menggemaskan. Gilang menatap Annisa yang tertidur, lama kelamaan tertidur juga.
Setengah jam kemudian.
''Kok sepi kak?? Papi kemana?? Terus adek mana??'' tanya Alisa.
''Ada! buka aja dulu pintunya! Nanti Mak, tau sendiri.'' Imbuh Ira seraya berlalu dari hadapan Alisa.
Sesampai di depan pintu,
Ceklek!
Pintu terbuka, dan terlihat pemandangan yang sangat mengharukan disana. Alisa yang melihatnya berdiri mematung.
Sementara Ira yang melihat Alisa mematung, terheran.
''Mak... ada apa?? Kok diam sih? Kenapa pula berdiri di depan pintu?? Awas ih! susah nih lewatnya?'' ucap Ira.
Alisa tetap diam.
__ADS_1
''Mak....'' Ira memanggilnya lagi. Matanya menoleh kemana arah mata Alisa memandang.
Ira tersenyum, terlihat disana dengan Gilang yang sedang menidurkan Annisa dia atas dada nya sambil berbaring telentang.
Tangannya sesekali mengelus tubuh belakang Annisa. Sesekali tangan itu terlepas. Sadar akan tangannya terlepas, Gilang mengelus lagi badan Annisa.
Alisa terharu melihatnya. Demikian juga dengan Ira.
****
Tadi, setelah kepergian Ira dari rumahnya.
Baru saja Gilang terlelap, sudah di kejutkan dengan tangisan Annisa.
''Huaaa.. aaaa... mmmm..'' bayi kecil itu menangis sambil menggumam.
Gilang tersentak. Ia bangun dan terduduk, mendapati Annisa yang menangis histeris.
''Sayang... adek... sayang Papi kenapa, hem?? Haus ya?? Bentar ya.., Mak belum pulang.. masih diluar belanja.. jadi adek sama Papi aja dulu ya??'' bujuknya pada bayi itu.
Ajaibnya tangisan Annisa mereda.
''Pinter! ayo kita bobok sini ya.. Adek bobok diatas dada Papi aja ya? Papi ngelusin belakang adek.. tapi adek bobok ya sayang?? Papi ngantuk nih.. hooaaammm...'' ujar Gilang sambil menguap lebar.
Matanya yang sangat mengantuk, terasa berat. Sambil menidurkan Annisa di tubuhnya, Gilang sesekali menyandungkan sholawat.
Seakan tau, jika Gilang mengantuk berat, bayi kecil itu terlelap kembali. Sesekali Gilang tersentak saat tangannya terlepas dari tubuh Annisa.
Ia mengelus nya sampai Annisa terlelap kembali. Sampai ia tak sadar, jika Alisa dan Ira sudah berdiri di depan pintu.
****
Ia jadi membayangkan jika suatu saat nanti mereka akan seperti itu.
''Astaghfirullah! sadar Lis! angan mu ketinggian! ishh..'' gerutu Alisa. Masih bisa di dengar oleh Ira.
''Ya udah kita masuk, sebentar lagi bangunin Papi, agar ia menyusul Abang ke sekolah.'' ujar Alisa seraya berlalu.
''Oke,'' sahut Ira.
Pukul 15.30 Alisa menyuruh Ira untuk membangunkan Gilang. Karena Lana sebentar lagi akan selesai dari bermain sepak bolanya.
''Kak.. bangunin Papi! Untuk sholat dan jemput Abang kesekolah nya!''
''Iya Mak..''
Ira berjalan, di mana Gilang dan Annisa terlelap. Sesampainya disana, Ira menunduk dan melihat Annisa yang tertidur dengan iler yang meleleh ke baju Gilang.
Ira cekikikan. Membuat Gilang tersentak.
''Astaghfirullah! Kakak! Papi pikir bayi kunti! hisshh.. buat jantung Papi hampir copot!'' gerutu Gilang.
Ira tergelak. Membuat Annisa tersentak dan membuka matanya. Ia menatap Gilang dan Ira, tapi setelahnya tidur lagi.
''Ishh.. kakak gimana sih?! Kan bangun tuh adek nya??''
''Hehehe.. maaf Pi.. habisnya lihat adek bobok kayak begitu lucu!''
__ADS_1
''Hah?! Apanya yang lucu? Orang adek anteng kok boboknya??''
''Hihihi.. tuh.. lihat aja sendiri! udah nyetak pulau tuh di baju Papi!''
Gilang menoleh, ''iyakah??'' dan terlihat jika benar Annisa sedang membuat pulau disana, dengan mulut sedikit terbuka.
Gilang terkekeh. Ia merasa lucu melihat Annisa seperti itu. Pasti akan membuat pulau jika Annisa tidur dengannya.
''Ya sudah, Papi mau bangun! kayaknya baru aja adzan ashar kan??''
''Ya, baru aja selesai adzan nya! Papi bangun dan sholat! setelah nya jemput Abang disekolah nya.''
''Oke.'' Sahut Gilang serta berlalu untuk ke kamar mandi.
Sesampainya di dapur, ia berpapasan dengan Alisa. Gilang tersenyum, dan berlalu ke kamar mandi.
Alisa bengong. Biasanya pemuda itu akan menegur nya. Ini kok diam aja pikir nya. Alisa larut dalam lamunan saat Gilang memanggilnya.
''Lis... ambilkan handuk! aku lupa nggak bawa tadi!'' serunya dari balik kamar mandi.
Alisa menoleh, ''ya! sebentar!'' imbuhnya seraya berlalu meninggalkan Gilang, dan mengambil handuk baru dari lemarinya.
''Gi..''
''Ya!'' Gilang mengintip dan mengeluarkan kepalanya sedikit. Tangan mengulur untuk menerima handuk.
''Terimakasih!'' bisiknya.
''Ya,'' sahut Alisa.
Setelah nya Gilang berwudhu dan sholat ashar sebelum pergi ketempat Lana berada.
''Lis! aku pergi dulu ya! Waktunya Abang pulang nih. Jadi aku harus segera kesana, kalau nggak putra ku yang satu itu pasti akan mengamuk padaku,'' gerutunya.
Alisa yang mendengar terkekeh pelan.
''Ya, pergilah!''
''Oke! assalamualaikum..''
''Waalaikum salam!'' sahut Alisa.
Setelah nya ia menuju ke lapangan terdekat, karena Lana disana sedang mengikuti pelatihan sepak bola untuk lomba antar sekolah.
Lima menit kemudian.
Gilang sampai disana saat seluruh siswa baru saja selesai dengan pelatihan nya. Gilang celingukan mencari Lana. sedang yang dicari tak tampak batang hidungnya.
Dari jauh sana, terlihat seorang anak kecil berlari kearah Gilang. Ia hampir saja tersungkur saking kencangnya ia berlari.
''Papiii...''
💕
Masih mau lanjut??
TBC
__ADS_1