Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Penjelasan Ema


__ADS_3

Gilang menggerakkan alisnya naik turun menggoda Alisa.


Apa?


Apa? Aku 'kan memang tampan?


Alisa memutar bola matanya. Gilang tertawa lagi. Semua itu tak luput dari perhatian Papa Yoga.


Ia masih setia duduk disana. Ingin tau lebih lanjut tentang masalah Alisa dan Gilang seperti apa. Hingga menyebabkan dirinya kabur pulang kerumahnya.


Tapi melihat dari tingkah Gilang dan Alisa, Papa Yoga yakin. Jika mereka berdua sudah berdamai. Dan Gilang pun sudah mengatakan yang sebenarnya pada Alisa.


Terlihat jelas dari wajah Alisa yang berwajah masam saat Ema memandangi Gilang. Papa Yoga terkekeh.


Alisa menoleh dan menatap tajam Papa nya. Papa Yoga dan Gilang semakin tertawa. ''Udah dong.. jangan masam gitu ah mukanya. Aku beneran Lis.. suami kamu itu memang tampan! Tapi.. aku tidak akan merebut nya darimu. Awalnya iya. Karena aku menyukai pemuda tampan bersikap dingin. Membuat jiwa jomblo ku ini meronta-ronta ingin menaklukkan hati nya,'' ujar Ema semakin membuat Alisa berwajah masam.


Gilang masih saja menatap Alisa, mata itu menatap nya penuh cinta. Ema bisa melihat itu walau hanya sekilas. Pancaran mata penuh cinta terhadap pujaan hatinya.


Beruntung sekali kamu Lis..


''Dan ya, kejadian di hotel kemarin itu merupakan salah ku. Suami kamu saat itu tiba-tiba mual dan ingin muntah. Ia berlari ke salah satu kamar hotel. Tiba disana ia memuntahkan semua isi perutnya. Aku mengejar nya duluan, di susul tuan Andi. Namun ketika aku masuk ke kamar hotel itu aku menoleh ke belakang, aku tidak menemukan tuan Andi,'' ujarnya lagi semakin membuat Alisa menatap datar padanya.


Ema terkekeh kecil melihat raut wajah Alisa yang semakin dingin menatap nya. ''Aku masuk ke kamar mandi dan membantu suami mu memijit tengkuknya. Niat hati membantunya, agar muntahnya itu mereda, eh! malah sebaliknya. Suami kamu semakin mual dan muntah saat mencium aroma parfum ku. Ia muntah-muntah sampai jatuh terduduk lantai. Kasihan aku melihatnya, aku membopong nya sampai keluar. Namun naas, karena tubuhnya dan tubuhku tidak seimbang, kami jatuh berdua di atas ranjang itu..'' Ema menunduk.


Ada rasa tercubit dihatinya saat ingin menceritakan hal ini pada Alisa. Ema menghela nafasnya.


Sedangkan Alisa masih menatapnya dengan dingin dan raut wajah itu datar. Ema tidak bisa menebak, apakah Alisa marah ataupun tidak.


Kamu sama dengannya Lis! Hah! Pupus sudah harapan ku! Ternyata .. aku tak berjodoh dengan nya! Hiks.. kasian amat lu Ema! ck! ck! ck!


Gumam Ema dalam hati. Miris sekali nasib jomblo!

__ADS_1


''Saat suami kamu jatuh keranjang, aku pun ikut terjatuh bersama nya. Yang aku tidak sangkarnya, suami kamu memanggil nama ku dengan sayang. Ku pikir itu memang panggilan nya untukku... Tapi ternyata aku salah! Walau dalam mata terpejam, ia tau kedatangan mu! Aku tertegun sejenak, maaf tanpa sengaja aku ingin sekali mengecup... emm.. I-itu... maaf Alisa.. maaf.. aku khilaf.. tapi aku bisa jamin kok! Aku tidak jadi menyentuhnya, karena dengan cepat ia mendorong ku hingga jatuh terjengkang ke belakang! Meninggalkan rasa sakit pada bokong ku! Untuk tidak hamil, Jika hamil pastilah janin itu brojol gara-gara kelakuan suami kamu yang kurang ajar itu!'' ketus Ema.


Gilang, Papa Yoga, Tuan Hamid dan Andi tertawa begitu keras. Alisa mengulum senyumnya.


Ingin tertawa takut tapi terbongkar nanti rencana yang sudah ia siapkan. Lama mereka tertawa, tapi Alisa tetap diam.


Matanya masih menatap Ema dengan dingin. ''Lis... maaf.. jika di dalam hatiku sempat berniat ingin merebut suamimu. Aku tidak tau saat itu jika kamu istrinya. Sahabat karibku. Teman sekaligus saudara bagiku. Maafkan aku Lis.. maafkan aku.. aku benar-benar minta maaf.. setelah ku tau jika kamu istrinya, aku langsung berlari ke kamarnya dan bertanya padanya. Suami kamu mengatakan, benar jika kamu Alisa Febriyanti putri dari Paman Yoga Sebastian. Sahabatku.. hiks.. maafkan aku Lis.. maafkn aku.. aku salah Lis.. aku salah.. maafkan aku..'' isak Ema dengan menundukkan kepalanya di depan Alisa.


Melihat Alisa yang diam saja, tuan Hamid angkat bicara. Ia tetap harus meluruskan kesalahpahaman ini.


Ia adalah saksi dari kejadian itu. ''Ehem, izinkan saya bicara Nyonya Alisa.'' imbuhnya sambil menatap Alisa dengan lembut.


Aura pancaran mata dari tuan Hamid membuat Alisa tertegun sejenak. Mata itu begitu mirip dengan mata Papanya.


Alisa menoleh pada Papa Yoga. Papa Yoga tersenyum lembut padanya dan mengangguk. Alisa pun tersenyum, tapi sangat tipis.


''Apa yang Nona Ema jelaskan, itu benar adanya Nyonya. Saya sebagai saksi dari kejadian itu. Saya pada saat itu ingin menunggu anda, karena tuan Gilang mengatakan jika dirinya saat itu sering sekali mual muntah dan mengantuk di setiap pagi.'' Tuan Hamid menatap Alisa yang juga sedang menatapnya.


''Saya menebak, jika anda sedang hamil saat ini. Kehamilan simpatik atau covade sindrom yang mana terjadi pada ibu hamil yang memiliki ikatan batin dengan sang suami begitu kuat. Begitu pun sebaliknya. Saya seorang dokter dulunya. Saat istri saya hamil anak pertama pun sama seperti tuan Gilang ini. Saya sering mengalami mual muntah hingga harus dirawat di rumah sakit.'' cerita tuan Hamid pada semua yang ada disana.


Alisa masih mendengarkan dengan seksama. Matanya tak beralih pada Gilang yang sejak tadi sudah terkekeh-kekeh.


''Saya bisa menebaknya saat melihat tuan Gilang muntah seperti itu. Belum lagi saat itu, saya melihat jika anda berlari dengan tergesa dan meninggalkan rantang makanan kepada seorang resepsionis. Anda salah paham Nyonya. Suami anda tidak seperti itu. Apakah anda melihat ada luka di pelipisnya?'' tanya tuan Hamid pada Alisa.


Alisa menoleh pada Gilang. Benar. Ada luka kecil disana yang tertutup dengan plaster kecil.


Gilang tersenyum lembut melihat Alisa. Kemudian menatap tuan Hamid lagi. Matanya tak sedikitpun menoleh pada Ema.


Sang sahabat semakin merasa bersalah karena kelakuan nya itu. Ia menunduk dengan tubuh berguncang.


Sebenarnya Alisa ingin sekali memeluk sahabatnya itu. Tapi ia tahan. Ia sedang bertahan sampai waktu yang ia tentukan selesai.

__ADS_1


Ia tidak marah pada Ema. Karena sebelumnya, Gilang sudah menceritakan terlebih dahulu padanya.


Lebih baik mendengar kan dari mulut pasangan kita sendiri dari pada mulut orang lain. Karena itu akan sangat menyakitkan untuk hati.


Alisa menghela nafasnya. Ia menatap tuan Hamid tanpa tersenyum. ''Terimakasih tuan, anda sudah bela-belain datang kesini demi meluruskan permasalahan rumah tangga saya dengan suami saya. Sekali lagi Terimakasih. Bukankah suami saya mengatakan jika benar saya hamil, Anda akan diberikan hadiah?''


Ema menoleh pada Alisa dengan wajah sembab. Tuan Hamid dan Gilang tertawa. Andi tersenyum sambil menatap Ema dengan dalam.


Alisa tau itu.


''Anda benar sekali Nyonya! Saya akan menagih janjinya! Bukan begitu tuan Gilang?'' goda tuan Hamid.


Gilang mengangguk setuju sambil terus tertawa. Semua itu tak luput dari perhatian Ema.


Gadis itu masih termenung dengan pernyataan tuan Hamid. Ia menatap Alisa, tapi Alisa tidak menatapnya.


Ema menunduk. Sekuat tenaga Alisa tidak ingin memeluknya. ''Pinta saja padanya tuan Hamid. Kalau begitu saya permisi. Mau istirahat! Jangan sungkan tuan Hamid, anggap saja rumah sendiri!'' ucapnya dengan segera bangkit dan menoleh pada Gilang.


Kita perlu bicara!


Oke sayang!


Gilang mengangguk, kemudian pergi mengikuti Alisa. Tanpa meninggalkan sepatah katapun pada Ema.


Ema semakin tercubit hatinya melihat sikap Alisa yang berubah dingin padanya.


Maafkan aku Alisa.. maaf..


💕💕💕💕💕


Kira-kira.. apa ya rencana Mami Alisa? 🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2