
''Berhenti Alisa Bhaskara! Sekali kamu melangkah dari pintu itu, maka aku akan mengutuk mu karena sudah melawan ku suami mu!''
Deg!
Deg!
Jantung Alisa bergemuruh hebat. Tapi Alisa tidak peduli. Toh, secara hukum tapi belum sah secara agama kan? Pikirnya.
Ia terus melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa ia berjalan meninggalkan Rayyan yang semakin histeris disana.
Mama Dewi melihat cucu nya terus menjerit memanggil Alisa, mengambil dan menggendong nya.
Mama Dewi berusaha mendiamkan cucu nya itu. Tapi Rayyan bukan nya bertambah diam, malah bertambah mengamuk.
Melihat itu semakin membuat Gilang meradang. Tangannya terkepal erat, hingga buku buku di tangannya memutih.
''Berhenti kataku! Apakah kamu tidak mendengarkan titahku Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian?? Aku mengharamkan mu untuk melangkah keluar dari rumah ini walau hanya satu langkah saja!''
Ddddduuuaaarrrr..
Alisa tersentak, tubuhnya mematung. Keringat sebesar biji jagung mengalir di dahinya.
Semakin ia berusaha menghindar, rasa sakit itu semakin mendera kepalanya sebelah kanan.
Ira yang tau mendekati Alisa. Tapi belum lagi Ira mendekati Alisa, tubuh itu sudah ambruk jatuh kelantai nan dingin di depan pintu rumah keluarga Bhaskara.
Brrrruuuukk.
''Maaaakkkk!!!!'' pekik Ira dan Lana.
Deg!
Deg!
''Sayang!!!'' pekik Gilang.
Ira dan Lana mendekati Alisa yang jatuh terkapar di lantai. Annisa dan Rayyan yang melihat nya, semakin histeris.
Rayyan meronta-ronta ingin turun dari gendongan Oma Dewi. Sedangkan Annisa ia berlari hingga tersungkur dilantai.
Beruntung Gilang berada di depan nya. ''Hati-hati, Nak!'' pekik Gilang.
Annisa menangis. ''Hiks... Mak... banguuuunnnn.. jangan tinggalin Kakak.. bangun Mak... hiks.. hiks.. Papi!! Mak sakit! Mak sakit Papi!!'' seru Annisa sambil menangis.
Gilang terkejut, ia sekarang berada dihadapan Alisa yang sedang di pangku oleh Ira. Sedang Lana sedang berusaha menyadarkan nya.
''Hah? Sakit?! Sakit apa??'' pekik Gilang saking terkejut nya.
__ADS_1
''Mamiiii... banuuuun... jangan tinggalin adeeekkk... huaaaa... Mamiiii.... Papiii...'' pekik Rayyan pula.
Semua yang melihat Alisa jatuh terkapar di serang serangan panik. Mama Dewi dan Papa Angga diam mematung memandangi mereka semua yang mengerumuni Alisa.
''Bangun Mak! Udah Kakak bilang kan tadi pagi? Mak itu lagi sakit! Tapi tetap aja memaksakan diri agar bisa kemari! Sekarang lihatlah apa yang terjadi!'' sungut Ira pada Alisa yang terdiam tak sadarkan diri.
''Kakak! Jangan berbicara seperti itu! Mak lagi sakit! Sakitnya pun karena kita! Jangan berbicara yang macam-macam! Lebih baik segera kita bawa ke rumah sakit! Sudah seminggu ini Mak seperti ini! Tapi demi kita, ia tetap memaksakan diri.'' Ujar Lana membuat Gilang semakin terkejut.
Dengan cekatan ia mengangkat Alisa dan membawa nya ke depan sambil memanggil Pak Kosim.
''Pak!!! Pak Kosim!!!!'' teriak Gilang dengan terus berjalan cepat. Dengan Alisa masih dalam gendongan nya.
"Saya Den! Loh? Ada apa ini?? Kenapa dengan Neng Alisa?!" pekik Pak Kosim pula.
Ira dan Lana bergegas membuka pintu mobil. Dengan segera Alisa dibawa masuk dengan Gilang duduk memangku kepala Alisa.
Rayyan semakin histeris melihat ketiga saudara nya tidak membawa nya serta. Lana yang tidak sampai hati, segera membawa Rayyan dan menggendong nya.
Mama Dewi kalah cepat dari Lana. Masing-masing mereka membawa satu orang adik. Ira membawa Annisa.
Sedang Lana membawa Rayyan. Dengan cepat mobil Alphard milik Gilang meninggalkan kediaman keluarga Bhaskara untuk menuju rumah sakit Pirngadi Medan.
Karena rumah sakit itu yang paling dekat dengan perumahan elit keluarga Bhaskara. Meninggalkan Mama Dewi dan Papa Angga yang berdiri mematung disana.
Di perjalanan Gilang terus berusaha menyadarkan Alisa. Tapi wanita pujaan hatinya itu tak kunjung sadar.
Lana diam. Begitu juga dengan Ira. Lagi, Gilang menghela nafasnya. ''Papi pergi lima tahun loh.. Apakah kalian sudah tidak ingin mengatakan apapun lagi ke pada Papi??''
Kini Lana menoleh dan menatap sendu pada Gilang. ''Tanpa Abang beritahu pun Papi sudah tau apa yang terjadi dengan Mak kami.'' Sahut Lana dengan terus memeluk Rayyan dengan erat.
Karena sedari tadi Rayyan terus terisak memanggil Alisa, Mami nya. Mendengar ucapan Lana, Gilang meraup wajah kasar.
''Beneran, Nak.. Papi tidak tau Mak kalian sakit apa? Selama lima tahun ini sesekali Papi memantau kalian. Selebihnya Papi beneran tidak tau, Nak..'' lirih Gilang masih dengan mengusap pipi Alisa.
Ia mengusap pipi mulus itu dengan sayang. Ia menatap nya dengan dalam. Banyak perubahan yang terjadi pada diri Alisa.
Wajah yang dulu nya kucel tak terawat, kini menjadi bersih dan kinclong. Tubuh yang dulunya begitu kurus, kini semakin berisi.
Bahkan dadanya terlihat lebih besar. Gilang menggelengkan kepalanya saat memikirkan hal yang berseliweran di kepalanya.
Ia terkekeh. Namun setelah itu ia mengusap lagi wajah itu dengan lembut berharap Alisa bisa bangun dengan sendirinya.
Dan benar saja, Alisa mengerjabkan matanya. ''Uuhh... Sssttt... pusing...'' lirihnya.
Gilang tersenyum. ''Kita putar balik, Pak! Pulang kerumah kami!'' titah Gilang, Pak Kosim mengangguk patuh.
Ia tau jika Alisa sudah sadar. Begitu juga dengan Ira dan Lana. Mereka bisa bernafas lega sekarang.
__ADS_1
Masih di pangkuan Gilang, Alisa merasakan sesuatu mengeras dibelakang kepala nya. Ia belum sadar jika itu tubuh Gilang.
Alisa menggerak-gerakkan kepalanya pada pusat tubuh Gilang, membuat Gilang memejamkan matanya.
Semakin di gerakkan semakin keras pula benda itu. Gilang menggigit bibir bawahnya. Alisa semakin kuat menggerakkan kepalanya.
Ini apa sih? Kok keras? Kayak kayu laut? Eh bukan! Kayak rudal??? Eh masa' sih disini ada rudal?? Ini kan lagi di mobil? Hemm.. wangi ini... Batin Alisa, masih dengan menggerakkan kepalanya di pusat tubuh Gilang yang terbungkus celana jeans.
Hingga ia tersadar saat Gilang berdehem untuk menghilangkan sesuatu yang timbul akibat perbuatan Alisa.
''Ehem.. Kamu sudah sadar ternyata! Kenapa tidak bangun? Betah ya tiduran dipangkuan Papi, hem??'' goda Gilang membuat Alisa terkejut dari perbuatan absurd nya itu.
''Eh? Iyakah?'' Alisa mendongak, mendapati Gilang tersenyum hangat pada nya.
Blussshh..
Wajah Alisa memanas. Semburat merah timbul di pipi putihnya. Alisa malu, hingga memeluk pinggang Gilang dengan erat.
Gilang tergelak hingga kepalanya mendongak keatas. Begitu juga dengan kedua anak Alisa. Ira dan Lana terkekeh melihat kelakuan Mak mereka.
''Udah! Diem ah!''
''Hahaha.. kamu kenapa? Sakit apa sih sebenarnya? Hem? Sakit kangen sama aku kah? Rindu berat?? sampai-sampai sakit begini, hem??'' goda Gilang lagi.
Puk!
Alisa menepuk lengan Gilang sedikit kuat. ''Aduhh.. kok di pukul sih sayang! Sakit loh..''
''Halah! Badan berotot gini kok ngaku sakit di pukul tangan aku yang nggak ada tenaga nya sama sekali!'' ketus Alisa.
Lagi membuat Gilang semakin tertawa. Inilah yang ia rindukan dari pujaan hatinya. Sikap jutek namun sayang pada nya.
''Kamu sakit apa?? Kok nggak dijawab sih? Dari tadi loh Papi tanyain?''
Alisa mendongakkan kepalanya melihat Gilang, ''Nanti aku jelaskan saat kita sampai dirumah.'' Sahut Alisa.
Ia memejamkan kedua matanya dan memeluk pinggang Gilang kembali. Membuat Gilang semakin menerka yang tidak baik tentang penyakit nya ini.
💕
Ada yang tau dengan sakit malaria nggak? Eh salah! Maksudnya Mala rindu.. Uhuyyyyy..
Hehehe... othor mau promo lagi nih! Jangan marah ya? Hehehe.. Sambilan nunggu cerita Gilang update, mampir yuk di cerita teman aku ini!
Like dan komen klean selalu ditunggu!! 😘😘
__ADS_1