Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Bersatu


__ADS_3

Warning!!!


Area 21+


Yang dibawah umur menyingkir, atau skip aja yah! Othor nggak tanggul jawab loh..


🌸🌸🌸


Alisa di tuntun ke kamar mandi tanpa melepas hijab serta bajunya. Gilang dengan sabar menuntun Alisa masuk hingga terdengar suara air di dalam kamar mandi barulah ia keluar untuk mandi di kamar sebelah.


Kamar Lana.


Sedari tadi, darahnya terus berdesir setelah merasakan sekali kecupan hangat di bibir sang istri.


Berulang kali mengontrol jantung. Tapi tetap saja jantung itu berdenyut denyut tak karuan. Sakit rasanya. Tapi itulah yang ia inginkan.


Seakan tau, Jika sang pemilik tubuh sudah ada di dekatnya. Dengan segera ia mengambil handuk dan mandi. Hanya butuh lima belas menit saja Gilang sudah siap.


Dengan segera ia berwudhu dan memakai baju dan menuju ke kamar sang istri. Untuk melanjutkan ibadah mereka yang tertunda.


Gilang membuka pintu dengan perlahan.


Deg, deg, deg.


Jantungnya berdegup lagi. Matanya menatap nanar pada Alisa yang baru saja siap memakai baju dan sedang mengeringkan rambutnya yang panjang sepinggul.


Seutas senyum terbit di bibir tipisnya. Gilang menatap Alisa dari ujung kaki sampai ke ujung rambut yang tergerai indah itu.


Terlihat jika tubuh semampai Alisa sangat pas saat memakai baju batik halus pemberian Gilang. Alisa masih sibuk dengan menyisir rambut halusnya di depan cermin.


Ia tidak sadar, jika sang suami sedang berdiri bersidekap dada di depan pintu sambil tersenyum melihat nya.


Setelah selesai menyisir rambut, dengan segera Alisa membetulkan letak liontin yang berputar ke arah belakang menjadi ke depan.


Gilang menutup pintu dan menguncinya. Walaupun rumah itu hanya mereka berdua, tapi tidak menutup kemungkinan bukan sang biang rusuh bisa pulang tiba-tiba?


Gilang terus berjalan hingga berdiri tepat di belakang Alisa. Wanita cantik yang sedang sibuk dengan pengait liontin nya itu tidak sadar jika Gilang sudah berdiri di belakang nya.


Sadar, jika ada sesuatu di belakang nya Alisa menoleh ke cermin. "Astagfirullah Hubby! ih, bikin kaget aja!" Alisa terkejut sampai maju ke depan hingga membentur kursi riasnya.


Gilang terkekeh. "Sudah siap?" tanya Gilang dengan terus menatap Alisa melalui cermin.


Alisa menoleh dan tersenyum. "Sudah. Ayo kita sholat dulu. Setelah nya kita istirahat!" ucap Alisa dengan cepat berlalu untuk memakai mukenah nya.


Gilang terkekeh lagi. Dengan segera Gilang berdiri dihadapan Alisa yang sudah terbentang sajadah disana.


Setelahnya mereka mulai melaksanakan ibadah mereka yang tertunda. Sholat isya, Disambung dengan sholat tahajud. Terakhir sholat dua rakaat setelah mereka sah menjadi suami istri.


Selesai dengan ibadah mereka, Gilang berdiri dan duduk di tepi ranjang mereka menunggu Alisa yang sedang memakai skincare di kulitnya.


Ia tersenyum. "Sini ku bantu. Biar cepat selesai!" imbuh Gilang dengan segera ia membalur seluruh kaki Alisa dengan skin care yang ada ditangannya.


Gilang mendongak menatap Alisa dengan tersenyum lembut. Alisa tersenyum, namun malu.


Semburat merah itu terus menerus timbul di pipinya. Gilang terkekeh. Ia menyentuh pipi yang menyembulkan semburat merah itu.


"Cantik! Kamu sangat cantik malam ini. Bisakah kita memulainya?" tanya Gilang dengan terus menatap nya.


Alisa mengangguk. Lagi, pipi itu menyembulkan semburat merah. Dengan segera Gilang bangkit dan membawa Alisa menuju ranjang mereka yang bertabur bunga mawar putih dan merah jambu.


Ia tuntun sang pujaan hati untuk duduk dan menghadap padanya. Dengan segera Gilang membaca bismillah dan mengucapkan doa di telinga Alisa.


''Bimillahi allahumma jannibissyaithoonaa wa jannibissyaithoonaa maarozak tonaa..''


Artinya : ''Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkan lah kami dari ( gangguan ) setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang akan Engkau anugerah kan kepada kami.''


Nafas hangat Gilang menyentuh telinga kanan Alisa. Tubuh Alisa berdesir. Bulu halusnya berdiri.

__ADS_1


Ia memejamkan kedua matanya saat nafas Gilang menerpa wajahnya. Gilang mengecup kening Alisa begitu lama.


Setelah itu turun ke mata, hidung, pipi dan terakhir, bibir. Sesuatu yang dulu pernah ia rasakan sekali dan itu membuat sesuatu di dalam tubuhnya terbakar.


''Aku sangat beruntung memiliki mu Alisa. Sangat beruntung!'' bisik Gilang di telinga Alisa. Setelah ia mengecup sekilas bibir ranum sang istri.


Gilang mendekat kembali pada wajah Alisa dan mencium lembut kembali daging tak bertulang itu.


Mengecap, memagut hingga melumaat nya dengan lembut. Tangan kirinya tidak diam saja.


Ia menyentuh tubuh Alisa dan mengelusnya dengan lembut. Membuat tubuh Alisa terbakar.


''Ugh..'' satu lenguhan keluar dari bibir sang istri.


Gilang melepaskan pagutan dan menatap Alisa dengan nafas memburu. Gilang tersenyum. ''Cantik! Aku suka! Cup!''


Lagi kecupan lembut itu Gilang berikan pada Alisa. Membuat Alisa mabuk kepayang. Entah sejak kapan, Alisa sudah tiduran diatas ranjang dengan Gilang diatasnya.


Semakin lama semakin menuntut. Dengan sebelah tangan, Gilang melepas baju Alisa dan membuangnya asal. Begitu juga dengan kaca mata kuda milik Alisa. Ia lempar entah kemana.


Nafas mereka berdua terus memburu. Saling sahut menyahut dalam gai rah yang sama. Gilang melepas pagutan nya dan mulai turun ke leher jenjang yang putih mulus.


Ia mengecup, memancing gairah sang istri agar ikut hanyut bersamanya.


Ah..


Lenguhan itu keluar lagi dari bibir tipisnya. Gilang semakin semangat. Ia turun dan semakin turun.


Hingga tiba di dua perbukitan yang begitu sintal. Nafas hangatnya menyentuh buah sintal yang lima tahun lalu sempat menggodanya.


''Kamu tau, pertama kali aku melihat ini darahku berdesir. Tubuhku bereaksi dengan sempurna seperti sekarang ini.'' bisik Gilang lagi di telinga Alisa.


Alisa tak mampu berkata-kata. Ia mengigit bibirnya karena tak tahan dengan rasa gejolak yang sedang mendesak ingin segera di tuntaskan.


''Uhh.. sssstttt..'' Desis Alisa saat merasakan sesuatu yang keras menyentuh miliknya yang sudah berkedut tak menentu.


Terus mengecup, meraba dan merem*s. Hingga tiba di pusat inti milik Alisa, Gilang tidak ingin melihatnya. Karena ia tau bagian itu memang tidak boleh dilihat.


Banyak hal yang ia pelajari saat di Kairo dulu. Salah satunya tentang jimak. Atau hubungan suami istri.


Gilang terapkan itu sekarang pada Alisa. Istrinya.


Ia hanya meraba dan mengelus saja bagian pusat tubuh sang istri ysng masih tertutup cd. Ia melepasnya dengan pelan dan membuangnya asal.


Lagi, ia belai lagi lembah surgawi milik sang istri dengan lembut. Sementara bibirnya terus memagut dan mengecap seluruh tubuh sang istri. hingga sang istri melenguh untuk yang kesekian kalinya.


''Ugh .. udah, By!''


''Hem? Aku belum mulai loh.. Masa' iya udahan aja?'' bisik Gilang di telinga Alisa lagi, membuat tubuh sang istri semakin bergetar hebat.


Hingga tubuh itu melengkung seperti busur panah barulah Gilang berhenti. Ia bersiap berdiri di kedua kaki Alisa.


''Kita mulai!'' katanya masih dengan menatap Alisa yang terengah-engah dengan nafas memburu.


Gilang menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan mulai melesakkan pusaka nya untuk masuk ke lembah surgawi milik Alisa.


Satu kali, gagal.


Dua kali, gagal.


Gilang berhenti dan menatap Alisa. ''Kamu? Kamu apakan sayang? Kok sempit gini?'' tanya Gilang masih mencoba memaksa masuk ke lembah surgawi milik Alisa.


Pertanyaan yang sama dulu ia ajukan pada Vita. Pada saat ia pertama kali menyentuh Vita karena obat.


Lagi, ia paksa masuk. Alisa meringis menahan sakit. Gilang berhenti. Ia menatap sang istri sejenak. Tangan Alisa mencengkram erat tangan Gilang.


Ia mengigit bibirnya. ''Jangan di gigit, nanti luka. Gigit tubuhku saja untuk mengurangi rasa sakit di tubuhmu. Maaf..'' bisik Gilang di telinga Alisa.

__ADS_1


Alisa mengangguk. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya saat ini. Gilang mencumbui Alisa lagi agar relaks dan tidak tegang sembari sesuatu di bawah sana terus ia paksa masuk dan..


Ah...


Jeritan Alisa menggema di kamar itu. Gilang terdiam. Ia menatap Alisa yang memejamkan matanya.


''Sakit? Maaf.. aku akan pelan..'' lirih Gilang. ''Aku mencintaimu Alisa! Sangat mencintai mu! Cup!'' lirih Gilang lagi di telinga Alisa.


Dengan lembut ia mulai bergerak di tubuh sang istri. Alisa mengigit bibirnya. ''Gigit tubuhku, jangan bibir mu. Nanti terluka.'' bisiknya lagi masih dengan bergerak maju mundur seirama.


Alisa merengkuh leher Gilang dan memeluknya dengan erat. Bersentuhan seperti itu membuat tubuh Gilang semakin panas.


Ia bergerak sesuai tempo. Lenguhan dan desahaaan sahut menyahut di kamar pengantin baru itu.


Yang tadinya meringis sakit, kini hilang entah kemana. Yang ada hanya rasa nikmat merasuk hingga ke tulang.


''Ugh.. nikmatnya..'' racau Gilang.


Ia terus bergerak memompa tubuh sang istri untuk mencapai kenikmatan bersama. Entah sudah berapa lama mereka masih saja mengejar kenikmatan yang tiada muara nya.


Hampir pagi aktivitas itu baru berhenti. Dengan tubuh Alisa lemah tak berdaya. Tubuh mereka dibanjiri oleh keringat.


Gilang ambruk di tubuh sang istri dengan nafas memburu. ''Awas By, berat..'' keluh Alisa begitu lirih seperti suara bisikan.


Gilang menoleh dan tersenyum. Ia melihat sang istri masih dengan mata terpejam. ''Terimakasih, aku mencintaimu sayangku. Sangat mencintai mu. Ayo kita istirahat. Hampir subuh kayaknya.'' Gilang terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Alisa hanya tersenyum saja. Tubuhnya begitu lelah saat ini. Gilang merengkuh tubuh Alisa dan memeluknya dengan erat.


''Terimakasih sayang. Aku mencintaimu sangat mencintai mu. Tapi aku heran, kenapa milikmu menjadi sempit seperti itu? Padahal kamu udah ngeluarin tiga kepala?'' cecar Gilang masih dengan nafas memburu.


Alisa terkekeh. ''Besok saja ya aku jawabnya? Capek By! Kamu ih! Seperti nggak ada habisnya itu tenaga? Tepar aku!''


Gilang tertawa terbahak. Gemas ia ***** lagi bibir ranum merah jambu itu. Alisa hanyut kembali.


''Kamu sangat nikmat, sayang! Sangat nikmat! Bikin nagih!''


Pluk!


''Ih kok di pukul sih? Aku beneran loh.. kagak bohong! serius! Mau nambah lagi, boleh?'' tanya Gilang setelah pagutan nya terlepas.


Alisa melotot. Gilang tertawa. ''Hahaha.. jangan gitu ih mukanya. Senyum sayang.. senyum! Kamu cantik kalau tersenyum!'' goda Gilang.


Alisa memutar bola mata malas. ''Gombal!''


''Nggak sayang! Kamu beneran cantik. Apalagi saat tadi kamu memanggil namaku saat penyatuan kita?'' goda Gilang, membuat muka Alisa memerah karena malu.


Pluk!


Pluk!


Pukulan demi pukulan di lengan kekar Gilang terus menerus di berikan oleh Alisa. Gilang tertawa karena telah berhasil menggoda sang istri.


Satu hati satu tubuh sudah menyatu menjadi satu. Kini mereka berdua bukan lagi seorang duda atau seorang janda.


Tapi, sebagai pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama. Mereka sudah bersatu dalam kapal yang sama. Tempat dimana Gilang sebagai nakhoda yang akan memandu kapal mereka untuk menuju surga Nya.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Hehehe... malu euuy! othor tidak pendek yang buat hot-hot pop makin gaya makin ngepop! eh?


Hihihi..


Udah ah! keriting jari othor ngetiknya! So.. sebagai balasannya othor minta hadiah sama kalian!


Like , komen, vote dan Rate! Othor minta hadiahya? Puaanjaaaang amat ini bab?


Hehehe... uhuyyyyy!!! πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2