
Dari kejauhan Gilang sudah melihat asap hitam yang begitu mengepul. Sejenak ia terpaku. Apakah seperti kebakaran??
Secepat kilat Gilang memacu kuda besinya. Agar segera sampai di tujuan. Sesampainya disana Gilang melotot.
Mulutnya menganga lebar. Bagaimana tidak, jika rumah Alisa sedang kebakaran di bagian dapur.
Secepat kilat Gilang berlari. Ia meninggalkan begitu saja kuda besinya yang hampir tumbang karena berdiri tidak seimbang.
''Ya Allah... sayang...''
''Alisa....''
''Kakak...''
''Abang...''
''Adek...''
Brruaaak..
''Tidaaaaaakkkkk... awas minggir! kalian menghalangi jalan ku!'' pekiknya lantang pada Bapak-bapak yang sengaja menahan Gilang untuk masuk kerumah itu.
Gilang tidak melihat siapa pun baik itu Alisa dan juga anak-anak nya. Saat ingin bertanya, ia mendengar seseorang berbicara-
''Pak tolong! ada bayi didalam sana! Api nya semakin membesar! Yang lain sudah di selamat kan. Sedangkan satu lagi...''
''A-apa?! nggak! adeekk... Papi akan datang! tak peduli jika nyawa yang jadi taruhannya!!'' serunya lantang.
Gilang menghempaskan tangan Bapak-bapak itu dengan keras, kemudian ia berlari dan masuk kedalam rumah yang apinya sudah membesar itu.
Bapak-bapak tadi menjerit histeris saat melihat pemuda itu masuk kedalam kobaran api.
Gilang masuk melihat kesana-kemari dimana kiranya Annisa berada. Suara Annisa begitu kecil nyaris tak terdengar.
Suara gaduh diluar menambah konsentrasi Gilang agak sedikit goyang. Lelah mencari akhirnya ia memanggil Annisa dengan suara nya.
''Adeekk. ini Papi sayang.. adek ada dimana?? Papi nggak bisa lihat adek.. semua gelap! banyak asap! Ayo sayang.. tunjukin dimana adek sekarang.. biar Papi jemput adek.. hiks..'' Gilang menangis sambil mencari di mana keberadaan Annisa.
''Adek.. ayo sayang.. keluarkan suaranya.. Papi ada disini Nak.. ayo sayang.. kamu dengar suara Papi kan?? hiks..'' ucap nya lagi, masih dengan menangis.
Rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh nya tidak di hiraukan oleh Gilang. Yang dipikirkan olehnya ialah bayi kecil yang malang terjebak dalam kobaran api.
Samar-samar terdengar suara bayi menangis begitu lirih. Gilang terus mencari dalam kobaran api yang semakin membesar.
''Adeekk.. sayang.. maaf Papi terlambat datang.. maafkan Papi Nak.. ayo.. tunjukan dimana adek berada.. biar kita sama-sama keluar dari sini ya.. ayo sayang.. kamu pasti bisa..!'' ucapnya lagi, masih celingukan kesana kemari.
Tiba-tiba dari arah pintu dapur terdengar suara rengekan bayi. Secepat kilat Gilang berlari menembus api.
Tak peduli panasnya api menyentuh kulitnya. Yang ia pikirkan hanyalah bayi kecil itu. Putrinya.
__ADS_1
Saat tiba di depan pintu menuju dapur, ia melihat sebuah bungkusan kain yang bergerak-gerak dengan suara yang begitu lirih.
''Astaghfirullah ya Allah.. anakku.. putriku.. maafkan Papi terlambat Nak.. ayo kita keluar.. dari sini. hiks.. hiks.. kamu yang tenang ya.. sekarang adek sama Papi.. kita akan keluar sama-sama. Jika tidak, maka kita akan mati bersama disini!'' ucapnya pada bayi yang berbungkus kain itu.
Tak di sangka, bayi itu tersenyum melihat Gilang ditengah kesadaran nya yang begitu menipis.
Kulit dan seluruh wajahnya memerah karena menahan panas nya api. Sesak dada Gilang melihat nya. Gilang menangis lagi. Lagi dan lagi bayi kecil itu tersenyum sambil menangis.
''Sayang.. anak Papi! dengarkan Papi! kamu harus kuat ya! jangan tinggalkan Papi sendiri! Jika Adek berani ninggalin Papi! maka selamanya Papi akan benci sama adek! karena nggak nurut omongan Papi! Adek dengarkan??'' imbuhnya pada bayi kecil itu.
Sementara diluar, Alisa yang menyadari jika Annisa tertinggal di dalam menjerit histeris.
''Tidaaaaaakkkkk... haaaaa... anakku uuu.. huhuuuu... Gilaaaanggg.... haaaaa...'' teriaknya begitu pilu.
Deg.
Gilang yang mendengar Alisa memanggil namanya, tersenyum pada bayi kecil itu.
''Kamu lihat sayang?? Itu Mak, sedang manggil kita! jadi kita harus keluar dari sini! adek siapkan??'' tanya nya pada bayi kecil itu dengan berderai air mata.
Bayi itu tersenyum dengan mata yang sudah tertutup. Secepat kilat Gilang keluar dari rumah Alisa.
Gilang menghindari banyaknya kayu yang hampir habis terbakar. Semua orang menjerit histeris di sana saat menyadari jika pemuda yang nekat masuk tadi belum juga keluar.
Bruaakk..
Pintu terlempar keluar. Gilang keluar dengan wajah yang memerah karena panas. Dalam pelukannya ada seorang bayi kecil yang sudah tidak sadarkan diri.
Gilang yang sedang panik, lari ngacir hingga keluar dari komplek perumahan. Ia tak menyadari jika Alisa ada disana sedang memperhatikan nya dengan raut wajah terkejut.
''Awas! saya mau lewat! anak saya sedang krittis! minggir!!'' serunya lantang.
Alisa tersentak mendengar gertakan Gilang. Belum pernah selama ini, ia melihat Gilang sepanik itu.
''Putriku..'' lirih Alisa.
Gilang menoleh pada Alisa. ''Apa lagi yang kamu tunggu Lis! ayo.. Adek dalam bahaya!!'' serunya lantang membuat Alisa sadar.
Secepat kilat ia berlari meninggalkan tempat itu. Namun sebelum jauh, ia menatap ustad Dhanu.
Seakan paham, ustad Dhanu mengangguk. Alisa berlari kencang menuju Gilang yang sudah nangkring di jok motornya.
Alisa mengambil alih Annisa dari pelukan Gilang. Alisa langsung naik ke jok belakang. Secepat kilat Gilang melesat menuju rumah sakit Adam Malik Medan.
Karena hanya disana fasilitas kodekteran yang lengkap. Karena waktu yang masih pagi, itu membuat Gilang lebih leluasa dalam berkendara.
Gilang mengendarai motor nya dengan kencang. Hingga Alisa yang dibelakangnya tanpa sadar tangan wanita itu sudah nangkring di pinggang Gilang.
Dengan sebelah tangan ia terus memeluk Annisa dengan erat. Sesekali menangis terharu. Karena Gilang datang tepat waktu.
__ADS_1
Tiga puluh menit waktu yang ditempuh, akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Alisa masih gemetaran di belakang, sedang Gilang begitu cepat mengambil Annisa dari pelukan Alisa.
Ia berlari sambil teriak memanggil dokter. Suster yang melihat Gilang sedang membawa seorang bayi, secepat kilat mereka bergerak.
Mereka membawa bayi malang itu ke ruang NICU untuk segera ditangani.
''Bertahan sayang.. Papi ada disini.. Papi berjanji tidak akan meninggalkan kalian lagi.. hiks.. Alisa...'' lirihnya.
Terkejut dengan ucapannya, ia melihat sekitar tidak menemukan siapa pun disana. Gilang berlari keluar di mana motornya terparkir.
Gilang menatap Alisa yang duduk melamun diatas jok motornya. Gilang menangis melihat Alisa seperti itu.
Ia mendekati wanita itu. Berharap ingin melepas rindu malah menjadi duka lara.
''Sayang... Lis...'' tegurnya, membuat sang empu menoleh.
''Gilang! Papi!!! Adeeek... Annisaaa... haaaaa... huuuuuuuu..'' Alisa menangis di hadapan Gilang.
Ia turun melompat dan memeluk Gilang dengan erat. Karena Memang ia sudah berdiri disana sedari tadi.
''Sayang.. maaf... aku terlambat... hiks.. maafkan aku...'' lirihnya dengan bibir bergetar.
Air mata berjatuhan membasahi pipi tirusnya. Sedangkan Alisa masih dalam pelukan Gilang.
Teringat akan Annisa, Gilang membawa Alisa masuk yang masih memeluk dirinya erat.
''Ayo.. adek nunggu kita disana.." lirihnya masih dengan menangis.
Sesampainya di meja resepsionis, Gilang berhenti. Dan melepaskan sebelah tangannya yang masih memeluk Alisa.
Gilang menarik dompetnya dan memberikan identitas nya sebagai wali dari bayi yang baru saja dirawat di ruang NICU.
Setelah selesai dengan pendaftaran dan biaya administrasi, kini mereka berdua menuju ruang NICU dimana Annisa sedang diperiksa.
Alisa masih saja menangis dalam pelukan Gilang. Baju basah karena air mata, belum lagi wajah Gilang yang begitu kucel tidak dihiraukan oleh Alisa.
Ceklek,
''Keluarga pasien??''
''Saya! saya ayahnya!''
Deg.
💕
Sesak nulis bagian ini.. othor sampai nangis nulis nya.. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Karena author juga punya bayi yang masih berusia lima bulan.. 😖
__ADS_1
Ikutin terus kelanjutannya ya! hiks.
TBC