
Putra kecil Gilang itu semakin histeris saat Mama Dewi sengaja menggoda seperti itu.
''Huaaaa... adek Ndak mau!!! huaaaa... adek mau Mamiiii!! Mami Alisa!!!!'' pekik Rayyan semakin histeris.
Sementara Mama Dewi semakin tertawa melihat cucunya itu mengamuk seperti itu. ''Sayang.. dengerin Mami, Nak!''
Rayyan menoleh dengan wajah penuh air mata. ''No Mami! you understand?!'' seru Rayyan dengan wajah basahnya.
Mama Dewi tertawa lagi, sementara Vita kebingungan. Kevin terkekeh melihat tingkah lucu putra Vita dan Gilang itu.
''Nak? Sini sama Papa! Kita jalan-jalan yuk? Adek mau kemana?'' tanya Kevin mendekati Rayyan yang masih menangis.
Rayyan menoleh pada Kevin. ''Hiks Papa?''
''Ya, Papa! Papa Kevin!'' jawab Kevin. Dengan segera ia mengangkat tubuh Rayyan untuk dibawa ke dalam gendongan nya.
Pertama kali menggendong Rayyan ada rasa hangat di hatinya. Damai sekali. Ia menatap Vita yang menatap sendu padanya.
Kevin tersenyum. ''Tak apa sayang. Belum waktunya. Mama! Kami bawa Rayayn jalan-jalan ke mall dekat sini dulu ya? Nanti kami antarkan lagi kesini.'' imbuh Kevin dengan tersenyum menatap Mama Dewi.
''Ya, pergilah! Bawalah Rayyan jalan-jalan. Dia butuh waktu saat ini, karena Mami dan Papinya sedang bulan madu. Jadi tidak bisa di ganggu!''
Vita dan Kevin tertawa. Begitu juga dengan Mama Alina. ''Akan ada tambahan cucu lagi kita ini Besan! Moga-moga, kita dapat dua ya?''
''Hooh! seru jika punya cucu kembar apa lagi sepasang? hihihi..'' Mama Dewi terkikik setelah mengatakan hal itu.
Vita dan Kevin tersenyum saja. Mereka saling pandang. Namun pancaran mata kedua orang itu begitu sendu.
Tapi ketika melihat Rayyan mereka berdua kembali tersenyum bahagia. Walaupun cuma sebentar.
Setelah meminta izin untuk membawa Rayyan bersama mereka, kini mereka sedang di perjalanan untuk menuju mall terkenal di kawasan itu.
ALISA STORE
Itu mall yang mereka tuju saat ini. Saat Tiba disana, ia tersenyum. Dengan segera ia turun dari gendongan Kevin dan berlari ke taman samping mall itu.
Vita berlari mengejar nya. ''Tunggu Mami sayang!'' pekik Vita.
Karyawan toko Gilang terkejut. ''Loh? Den Rayyan? Sama siapa kesini? Bukannya Tuan Gilang dan Nyonya Alisa sedang bulan madu ya? Itu siapa pula mengaku sebagai Mami nya? Ah, aku ikutin saja lah. Mana tau nanti Den Rayyan perlu sesuatu.'' gumam karyawan ponsel di mall Gilang itu.
Sementara Vita kewalahan mengejar Rayyan yang terus berlari menuju ke samping mall itu. Disana ada taman buatan bertuliskan Taman Mami Alisa.
Vita terpaku pada tulisan itu. Namun ia tetap berlari mengejar Rayyan yang sudah menaiki ayunan disana.
__ADS_1
Melihat itu Vita terkekeh. Putranya dan Gilang itu begitu aktif. Ia menatap haru pada Rayyan. Setitik bulir bening mengalir di pipi chubby nya.
Kevin tiba disana dengan banyak makanan di tangan nya. Mereka duduk di bangku taman itu dan melihat Rayyan bermain ayunan seorang diri sambil tertawa.
Kevin merangkul bahu Vita. ''Setidaknya.. dengan melihat Rayyan putramu dan Gilang, bisa mengobati kerinduan kita terhadap anak kita yang belum hadir ke dunia ini..'' lirih Kevin.
Vita mengusap tangan Kevin dan tersenyum lembut pada nya. ''Tak apa By. Aku ikhlas. Inilah jalan hidupku. Allah sengaja menunda pemberian nya pada kita karena ada satu masalah yang belum kita selesai kan. Mungkin setelah melihat Kak Zahra dan bang Azlan bahagia, barulah Allah akan menitipkan anugerah nya kepada kita.'' lirih Vita dengan leher tercekat.
''Sabar sayang.. semua akan indah pada waktunya. Cup!'' Kevin mengecup sekilas rambut Vita yang di ikat kuncir kuda.
Melihat itu Rayyan mendekati nya. ''Papa?'' panggil Rayyan.
Kevin terkejut. ''Ah, Rayyan! Maaf. Adek butuh sesuatu?''
''Adek mau makan! Laparrr..!!'' serunya dengan wajah begitu manis.
Kevin yang gemas, mengangkat tubuh Rayyan dan mencium pipi chubby milik Rayyan. ''Adek?? Boleh Papa tanya sesuatu?'' tanya Kevin di sela-sela ia menciumi Pipi Rayyan karena gemas. Vita tertawa melihatnya.
''Papa mau nanya apa? Tentang Mami sama Papi kah?''
Jleb!
''Tepat benar dah ni bocah pertanyaan nya? Sama kayak Papi nya!'' Batin Kevin.
Rayyan menatap Vita dan menata Kevin. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap bulir bening yang mengalir di pipi Vita.
Vita terpaku. Mata bulat miripnya itu tersenyum padanya. ''Mama Vita!''
Deg!
Vita dan Kevin terkejut. ''Apa?! Adek bilang apa barusan? Coba ulangi?'' kata Kevin pada Rayyan.
Rayyan terkikik geli. ''Adek sudah tau, kalau adek punya dua Mami!'' lagi, mata bulat bening itu menatap lembut pada Vita dan Kevin.
Vita dan Kevin semakin penasaran. ''Dari mana adek tau?'' tanya Vita masih dengan wajah terkejut nya.
''Mami Alisa! Mami Adek!''
Deg!
Deg!
Dua orang itu semakin membeku di tempat. Tidak tau harus berbicara apalagi. ''Ja-jadi...''
__ADS_1
Rayyan tersenyum dan mengusap lagi pipi Vita yang semakin basah karena air mata. ''Ya, sedari dulu Mami sudah bilang cama adek. Kalau adek punya dua Mami. Satu Mami yang lahirin adek. Satu lagi Mami yang ngurusin adek, Mami Alisa. Mami serring bilang, jika suatu caat adek akan ketemu cama Mama Vita! Mami ngajarrin adek untuk manggil Mama dengan Mami. Tapi adek Ndak mau! Adek mau manggil Mama Vita dengan Mama. Bukan Mami. Mami adek cuma satu. Mami Alisa. Mama Ndak malah kan?'' tanya Rayyan dengan logat campur aduk. Kadang jelas kadang cadel.
Vita tertegun lagi. Mata itu semakin basah. Kevin menyentuh tangan nya dan mengangguk.
Vita mengerjab dan tersenyum menatap Rayyan. ''Enggak sayang, Mama nggak marah kok. Cuma heran saja. Dari mana adek bisa buat panggilan tentang Mami dan Mama pada Mama Vita dan Mami Alisa?'' tanya Vita dengan wajah penuh air mata.
Rayyan terkikik geli. ''Benelan Mama Ndak malah sama adek?'' tanya nya dengan wajah polos namun menggemaskan.
Vita menggeleng dan tersenyum. ''Nggak akan! Coba katakan! Siapa yang mengajari adek ngomong gitu?''
''Papi! Papi Gilang!''
Deg!
Deg!
''Kata Papi, adek hanya punya satu Mami dan satu Papi aja. Untuk Mami yang melahirkan adek, harus dipanggil Mama. Begitu kata Papi.'' Vita dan Kevin saling pandang.
Setelah itu mereka terkekeh. ''Ternyata panggilan itu sampai terbawa pada anak kami, By! Tapi Tak apa. Aku bahagia dipanggil oleh putra sulung ku ini. hem? Tapi sesekali boleh dong, Mama di panggilan Mami sama adek?'' goda Vita.
Kevin terkekeh. ''No Mama! Mama Vita bukan Mami Vita! Mami adek cuma satu! Mami Alisa! Titik tanpa koma!'' sahutnya dengan bibir mengerucut kayak bebek.
Vita dan Kevin tergelak keras. Mereka tertawa bersama hari itu. Rayyan ada sesuatu yang berharga hadir dalam hidup mereka.
Puas dengan bermain dan bersenang-senang, kini mereka sudah mengantar kan Rayyan kembali ke hotel.
Karena hari ini seluruh keluarga Gilang akan pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Vita.
Mereka berdua juga harus balik ke Bandung hari ini. Karena Kevin tidak boleh lama-lama meninggalkan pekerjaan nya.
Vita menceritakan semua kejadian mereka tadi saat di mall bersama Rayyan. Mama Dewi yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak.
Begitu juga dengan Lana dan Ira. Mereka sangat geli ketika mengingat ucapan Rayyan yang begitu menggemaskan.
Akhirnya, hari itu mereka kembali ke tempat masing-masing. Membawa kenangan baru dalam kehidupan mereka. Yaitu Rayyan Putra Bhaskara.
Pangeran sulung keluarga Bhaskara! Dari Papi Gilang dan Mami Alisa.
Flashback end
💕💕💕💕
Kita masuk sesi penyelesaian Maslah Alisa ye!
__ADS_1
Jangan pernah bosan okey?