
Gilang dan Papa Yoga masih saja berbincang hangat saat deringan ponsel miliknya berdering kencang.
''Sebentar Pa, ada telepon masuk.''
''Ya,'' sahut Papa Yoga.
Gilang merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menghubungi nya saat ia sedang berbicara penting dengan Papa Yoga.
''Alisa?'' Gilang mengucapkan nama itu dengan tersenyum manis.
Papa Yoga dan Mama Alina saling pandang. ''Aku angkat sebentarya, Pa? Ini dari Alisa.''
''Silahkan, nak!'' sahut Papa Yoga.
Ia begitu senang saat mendengar nama Alisa. Begitu juga dengan Mama Alina. Gilang mengangkat sambungan ponsel itu yang sudah berubah menjadi video call.
''Assalamualaikum, sayang...'' sapa Gilang dengan tersenyum saat melihat wajah Lana.
''Papiiii!!!'' pekik Lana begitu girang. Gilang tertawa melihat tingkah putra sambung nya itu.
''Jawab dulu Nak.. salamnya! Kamu muslim bukan?'' tanya Gilang masih dengan menatap ponsel mahal nya.
''Hehehe .. wa'alaikum salam Papiiii... hiks.. Abang mau Papi!!!'' sahut Lana terkekeh namun menangis secara bersamaan.
Membuat Gilang bingung. ''Lah, loh? Kok nangis? Kamu kenapa Nak? Ada apa? Cerita sama Papi! Kamu kenapa??'' tanya Gilang panik melihat Lana semakin tersedu.
Lana tidak menjawab, namun ia semakin menangis saat melihat wajah Gilang yang begitu berseri saat ini.
''Abang??''
''Hiks.. Abang mau Papi! Kenapa kemarin nggak ajak Abang untuk menemui nenek dan kakek? Hiks.. Papi jahat! hiks..'' sahut Lana masih dengan terisak.
Gilang melihat kedua orang tua Alisa. Mereka menatap Gilang dengan penasaran. Kemudian tertawa.
''Hahaha... Papi punya tugas penting disini sayangku! Nanti, jika Mak Abang udah mau nikah sama Papi!'' ujar Gilang masih dengan tertawa nya.
Melihat Gilang tertawa, Papa Yoga pun ikut tertawa. Begitu juga dengan Mama Alina. ''Hiks! Abang nggak mau lagi sama Papi!! Hiks..'' Rajuk Lana.
Lagi Gilang tertawa. ''Hahaha.. kamu yakin nggak mau lagi sama Papi, hem?''
__ADS_1
Lana merengut, ''Abang kesal sama Papi! Masa' Abang di tinggal disini sendiri sama Mak? Kasian Mak, Pi. Nggak ada yang bela saat orang lain menuduhnya dengan tega!''
Deg!
''Orang lain? Siapa maksud mu? Siapa yang berani menuduh Mak Alisa macam-macam? Biar Papi yang hadapi mereka! Katakan! siapa orang nya!'' tegas Gilang dengan raut wajah dingin.
Papa Yoga terkekeh melihat perubahan pada wajah Gilang. Lana duduk tegak dan menghadap ke video call itu secara sempurna.
Ia menyusut ingusnya yang hampir meleleh. ''Sshhhuyyuutt.. siapa lagi jika bukan saudara kakek dan nenek! Datang-datang bukannya berbicara baik-baik malah menuduh Mak Abang yang tidak-tidak! Abang kesel sama mereka!''
Gilang terkekeh melihat Lana menyusut ingusnya. Padahal tadi ia sudah begitu serius mendengar kan apa yang akan Lana sampaikan.
''Saudara Kakek Yoga maksudmu?'' tanya Gilang, ia menatap dua paruh baya yang menegang disana.
''Ya, siapa lagi? Memang ada berapa rupanya saudara kakek Yoga yang bernama Nenek Irma?'' sahut Gilang begitu kesal.
Gilang melihat lagi kedua orang tua Alisa. ''Iyakah?''
''Iya, Papiii ih! Udah ah! Usah dibicarakan mereka! Gimana? Gimana sama tugas penting Papi? Sudah berhasil belum?'' selidik Lana dengan wajah seriusnya.
Gilang terkekeh, kemudian berubah menjadi murung. ''Papi di tolak Bang...'' lirih Gilang dengan menunduk.
Papa Yoga yang melihat Gilang melotot tertawa. ''Hahaha.. kamu memang benar cucuku! Papi mu ini memang tidak beres!'' celutuk Papa Yoga.
Mama Alina melototkan matanya. Dengan segera ia menimpuk lengan Papa Yoga.
Plaakk..
''Aduhh... sakit Mama! Kok di pukul sih?!'' gerutu Papa Yoga.
''Kamu! asal ngomong aja sama cucu! Mana ada Nak, Gilang tidak beres! Yang ada itu kamu yang tidak beres! Udah tua! pikun lagi!'' ketus Mama Alina.
Papa Yoga melotot.
Sedanh Gilang, mengulum senyum. Tapi tidak dengan Lana. Ia mematung mendengar suara itu. ''Papi??''
''Ya, nenek dan kakek, Abang! mau ngomong??'' tanya Gilang pada Lana.
Lana terdiam. Namun setelah nya ia mengangguk dan tersenyum lebar. ''Pa.. Lana mau ngomong sama kalian berdua. Gilang letakkan disini ya ponselnya? Gilang mau ke kamar kecil dulu udah kebelet!''
__ADS_1
Mama Alina dan Papa Yoga saling pandang. Mereka tersenyum dan mengangguk. ''Baik! Mama sudah kangen sekali dengan cucu lelaki ku itu!'' sahut Mama Alina.
Sedangkan Papa Yoga terdiam, ''Ini Pa, Ma.. Gilang ke belakang ya?''
''Oke!'' sahut Mama Alina.
''Ponsel Papi berikan sama Nenek. Ngomong sama Nenek ya? Papi kebelet mau kebelakang!'' imbuh Gilang dengan mengedipkan matanya sebelah menggoda Lana.
Lana tertawa. Ia menunggu kedua orang itu muncul di layar ponsel. Tapi yang di tunggu tidak muncul juga.
Yang terdengar hanya Isak tangis kedua paruh baya itu. ''Assalamualaikum Nenek.. Kakek... ini Lana! Apakah kalian berdua tidak ingin melihat ku?'' tanya Lana dengan suara serak menahan tangis.
''Wa-waalaikum salam cucuku Maulana Akbar!'' sahut Papa Yoga dan Mama Alina bersamaan.
Lana tertawa namun air mata itu mengalir di pipi mereka bertiga. ''Hiks.. Apa kabar Kakek? Nenek?'' sapa Lana.
Papa Yoga dan nenek Alina menangis melihat cucunya yang ternyata sudah besar saat ini. ''Alhamdulillah baik.. nak.. hiks.. kami kangen sekali padamu cucuku. Kapan kalian akan pulang ke Aceh lagi?'' tanya Nenek Alina.
Karena Papa Yoga tidak sanggup untuk berbicara dengan Lana. Ia hanya bisa menangis melihat wajah Lana yang begitu mirip dengan Emil.
Eh? Bukan! Tapi lebih mirip.. Gilang? Gumam Papa Yoga di dalam hati.
Gilang yang berada tak jauh dari mereka pun ikut menangis. Begitu juga dengan Andi dan Pak Kosim.
''Den... beruntungnya Lana memilki Ayah sambung seperti den Gilang! Lihatlah! mereka yang selama ini terputus karena jarak dan waktu, kini bisa bersua walau hanya lewat dunia Maya. Aden adalah penyambung tali yang sudah di putuskan oleh Emil. Bapak bangga sama Aden! Bapak yakin, jika Aden pun bisa menjadi suami Alisa nantinya! Bapak percaya itu!''
''Betul itu Bos!'' timpal Andi.
Gilang terkekeh, namun air mata itu tetap mengalir di pipi nya. ''Alhamdulillah Pak.. aku senang, jika kehadiran ku di dalam keluarga ini, bisa menjadi penyambung bagi mereka semua.. Memang ini yang aku harapkan, Pak! Makanya aku kesini! Untuk menyambung tali yang sudah di putus paksa oleh Abang Emil. Tapi aku tidak mau menyalahkan bang Emil dalam hal ini. Jika bukan Karena bang Emil, maka aku tidak akan pernah bertemu dengan Alisa dan ketiga anaknya. Aku sangat bersyukur Pak! Aku sangat beruntung memiliki mereka sebagai keluarga ku! Apapun tantangan yang akan Papa Yoga berikan, akan ku taklukkan! Karena seorang Gilang Bhaskara Tidak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang sudah ia inginkan sedari dulu. Pantang bagiku mundur sebelum memulainya!'' ujar Gilang panjang lebar.
Ia tersenyum melihat Papa Yoga dan Mama Alina sedang tertawa karena tingkah Lana.
''Terimakasih sayang.. karena kehadiran mu di dalam hidupku, membuat hidupku yang dulunya datar-datar saja kini berubah menjadi berwarna. Aku sangat menyayangimu Alisa Febriyanti!''
💕💕💕
Bonus!! hehehe.. othor lagi kemaruk nulis cerita Gilang! Uhuyyyyy.. seru euuuyyy... 🤣🤣🤣
TBC
__ADS_1