Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Jangan sentuh


__ADS_3

Terlihat seperti akan ada yang jatuh kebawah menimpa siapapun orang yang sedang berjalan dibawahnya.


"Hah ! Nadifa ," ucap Malik dalam tatapan nya itu.


Malik yang menyaksikan itu langsung membuang Ice cream yang ada ditangannya dan berlari cepat menarik badan Nadifa yang akhirnya tersungkur bersamanya ke atas Aspal jalan


Bruggggg !!! palang besi bilboard jatuh ke aspal yang hampir mengenai kepala Nadifa tak jauh berjarak 1m dari nya.


Terdengar teriakan dari orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.


Nadifa yang masih kaget karna tidak tahu apa-apa ia masih terdiam hanya melihati lelaki yang telah menyelamati Nyawanya kini.


Lelaki itu adalah Kekasihnya yang sangat ia rindukan.


"Nadifa tidak apa-apa, ada yang sakit kah, ada yang luka ?" Malik memberikan beribu-ribu pertanyaan untuk menghilangkan kecemasannya itu, ia terlupa saat ini sedang berada dimana dan sedang bersama siapa.


Galih yang menyaksikan itu, lalu berlari meraih tubuh istrinya melepaskan Rangkulan Malik seketika.


Kinanti pun menghampiri dengan wajah aneh dipenuhi rasa kebingungan dengan ketidak wajaran suaminya itu.


Malik lepas kendali, ia tidak bisa mengontrol dirinya, ia reflex bersikap layak nya sepasang kekasih yang sedang takut akan kehilangan.

__ADS_1


Dania pun menangkap semua kejadian itu dengan baik, semakin membetulkan kecurigaannya selama ini.


apakah dunia mereka berakhir disini ???


"Tolong lepaskan, jangan sentuh istriku," Galih melepaskan tangam Malik yang masih bertengger di tubuh Nadifa yang masih terlentang di atas Aspal.


Mata Nadifa terpejam, berusaha mengingatkn dirinya bahwa ini hanya mimpi.


"Ayo sayang," Galih pun mulai mengangkat tubuh Nadifa dan dibawanya pergi meninggalkan Malik yang masih terdiam di atas Aspal.


"Ayahhh...!" panggil Aisyah dan Letta berlari menuju Ayahnya.


Semua mata karyawan tidak berhenti melihati kejadian itu, bukan hanya kaget karena bilboard jatuh tapi lebih kaget dengan sikap Malik yang begitu cemas dan takut akan Nadifa.


Kinanti pun mulai menundukan wajahnya, terlihat ketidaksukaan atas peristiwa itu, mungkin setelah ini akan menjadi celah pertengkaran yang akan mewarnai rumah tangga mereka.


Galih meletakan tubuh Nadifa di karpet plastik yang telah ia beli dari para penjual yang berkeliling.


" Ada yang sakit ?" tanya Galih.


"Ini!" Nadifa menunjuk luka goresan yang ada disikut tangan sebelah kanannya.

__ADS_1


Galih mengucurkan air dari air kemasan untuk mencuci luka goresan yang sudah bercampur dengan kerikil-kerikil aspal barusan.


Iya pun bangkit menuju toko yang menjual betadine dan plester.


"Kamu enggak apa-apa Dif ?" Dania menghampiri Nadifa yang sedang sendiri bersama kedua anak dan suaminy itu.


"Enggak apa-apa Mba, hanya insiden kecil,"


"Tapi itu fatal Dif, kalau saja Pak Malik tidak cepat menolongmu, aku enggak bisa ngebayanginnya," ucapan Dani makin membuat Nadifa merasa bersalah karena sikap Galih yang sangat tidak baik tadi.


"Ia juga terjatuh karena menopangku, mungkin saja tangannya luka seperti aku," batin Nadifa, inginnya ia berlari mengejar Malik.


Galih sudah datang kembali untuk mengoleskan betadine dan menempelkan handsaplas diluka itu.


"Aku tidak suka kamu dipegang-pegang seperti itu!" ucap Galih serius


"Tapi dia itu menolong ku, Mas ," Nada Nadifa meninggi, mengungkapkan ketidak sukaan nya atas sikap Galih ini.


Dania yang masih berada disana, mulai memberi kode mata kepada Nadifa agar Nadifa berhenti tidak menimpali kekesalan Galih.


Nadifa pun berhenti berbicara, ia hanya memikirkan Malik saat ini.

__ADS_1


__ADS_2