
"Walau berjuta-juta kali kamu bilang cinta, tetaplah Aku hanya orang lain dalam bayangan hidupmu."
"Kinanti lah istri SAH mu, yang sudah berhasil melahirkan anak-anak mu."
"Mungkin kamu hanya sedang bosan dan sedang mencari kesenangan semata denganku."
"Aku yang terlalu bodoh memberikan hatiku seluruhnya kepadamu, melupakan segala perjuangan rumah tangga yang telah kulewati dengan suamiku,"
"Apa yang ku lakukan saat ini!"
"Tetap Kinanti lah tempat peraduan terakhir mu,"
"Sebagaimana kita saling cemburu, tetap kita tidak akan saling memiliki,"
"Sungguh, hubungan ini makin menyiksaku** !"
Rintihan Nadifa dalam pedih hati nya kini .
Nadifa tetap melihat mereka yang sedang berada ditengah taman, masih riang gembira berfoto bersama.
Memang batin sangatlah kuat, Malik menengok ke arah belakang melihat siapa yang ada disana sedang melihati mereka
Dilihatnya Nadifa yang sedang menyeka air matanya dan memutar langkah untuk berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Malik terperangah kaget melihati sosok wanita yang ia cintai menghilang dengan membawa pikulan kesedihan di pundaknya.
__ADS_1
Mau memanggil itu tidak mungkin ia lakukan saat ini, ia hanya bisa pasrah jika Nadifa cemburu.
Malik pun mendidih terbakar cemburu ketika Galih terus menggenggam tangan Nadifa, namun ia sadar Galih adalah orang yang berhak atas hidup Nadifa.
Malik menjadi diam sebentar terus melihati kemana arah kaki membawa Nadifa berjalan, ia tahu Nadifa pasti ingin seperti dirinya.
"Sayang, kenapa kesini. Istirahat saja disana," Ucap Galih yang masib setia berdiri menunggui pedang sosis kelar membakar.
"Abis kamu lama Mas, aku takut ada penculik, kalau aku sendirian disana," Nadifa meledek.
Galih memajukan bibirnya sedikit," Huh, pede ah kamu, paling bos kamu itu yang pengen culik kamu," Galih menertawakan dirinya.
"Iihh...apaan sih," Nadifa bernada tidak suka, ia sepertinya masih terbawa suasana cemburu semenjak pemandangan yang dilihatnya tadi.
Galih mengeluarkan uang untuk membayar.
Nadifa tanpa menunggu apa-apa langsung memakannya dengan lahap, ia memang sangat suka sekali sosis bakar.
"Aku jadi ingat tamasya pertama kali sama kamu setelah kita menikah, kesini juga kan," Ucap Galih mengingatkan Nadifa akan kenangan mereka.
"Iya yah 5 tahun yang lalu," Nadifa meletakan kepalanya dipundak Galih dan tubuh mereka saling merangkul.
Nadifa menyuapi Sosis ke mulut Malik yang sehabis dikunyah dari mulutnya.
"Kamu enggak akan ninggalin aku kan?" tanya Galih serius.
__ADS_1
Lagi-lagi Galih menyengitkan dahinya untuk mencerna kalimat itu dengan cepat.
"Asal kamu tidak menikah lagi saja hehehe," Nadifa berguyon.
Galih seperti tertampar disiang bolong, dia pun semakin memperdalam keingin tahuannya itu.
"Jika semisal aku menikah lagi, apa yang akan kamu lakukan?"
"Ya tentu saja, aku akan marah, meninggalkan mu, membencimu dan menghapus mu dari memory ku," balas Nadifa santai dan masih mengunyah sosis bakar nya.
Makin jelas semua, yang ditakutkan Galih benar-benar menjadi nyata, apa yang keluar dari mulut Nadifa memang ada semua disetiap terkaannya.
"Jika kamu meningalkan ku apa kamu akan menikah lagi?"
"Iih apaan sih Mas, dari tadi bahasnya ginian melulu, serem tau," Nadif menggerutu.
"Kok serem ?"
Nadifa kembali memasukan gigitan sosis kedalam mulutnya ,"Ya serem dong, masa kamu mau nikah lagi, aku bisa gila nanti Mas, tapi aku mah tahu, kamu mah enggak akan tega ! kan kamu sayang sama aku hehehe,"
Nadifa kembali meletakan kepalanya dipundak Galih, ia mencoba menenangkan hati yang masih bergejolak menahan amarah karena melihat Malik barusan.
Lain hal dengan Galih yang masih saja diam seribu bahasa mendengar semua terkaan mengenai Nadifa mulai menjadi nyata.
Nayatanya suami mu kini tega menikah lagi dan menghamili wanita lain tanpa sengaja dan keinginannya.
__ADS_1