Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Pasca Perpisahan 2


__ADS_3

Nadifa semakin tidak bergairah, hatinya semakin hampa dan kosong, jika kemarin ketika mendapatkan musibah akan kejadian Galih dan Gita, ia masih bisa untuk tegar dan kuat, karna masih ada sesosok Malik berada dibelakangnya.


Namun hal itu tidak dirasakannya lagi karna cinta mereka kini sudah kandas, saat ini hanya ada Malik yang berubah kembali ke posisi normal nya. Malik harus memperlakukan Nadifa seperti Dania dan karyawan-karyawan yang lain.


Nadifa meraih HP nya untuk menelpon sang suami.


Galih : Iya hallo sayang


Nadifa : Aku enggak masak dulu hari ini ya, Mas. Aku ada lembur.


Galih : Sampai jam berapa ? nanti aku jemput


Nadifa : Enggak usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri. Sudah ya, aku hanya mau bilang itu saja.


Dengan cepat ia mematikan sambungan telepon itu karna melihat Malik sudah berjalan kearahnya sambil membawa tas kerja untuk kembali kerumah. Ini memang sudah saatnya jam pulang kerja.

__ADS_1


Malik hanya memberikan senyuman tipis ke arah Nadifa lalu bergantian ke arah Dania. Ia berjalam pulang tanpa membuka suara.


Nadifa hanya menatapi sampai sosok itu hilang keluar dari pandangannya, diringi langkah kaki karyawan lain yang membawa tubuh mereka untuk kembali kerumah. Dirasa semua sudah sepi Nadifa pun menangis sejadi-jadinya dimeja kerjanya.


Dania pun cepat menangkap tubuh itu dengan pelukan hangatnya.


Nadifa semakin menangis, mengerang dan memeluk erat Dania.


"Aku sangat sayang padanya, Mba. Setiap hari kami pulang kerja selalu bersama, tapi mulai saat ini dia meninggalkan ku, Mba!"


Nadifa menangis makin kencang. Dania pun ikut terenyuh dengan kejadian ini.


"Apa aku sanggup Mba, menjalani ini semua! aku letih Mba ! aku sakit ! aku hancur.." Nadifa menangis semakin menangis.


"Kami yang salah, namun aku sudah dibalas. Mas Galih dan Mba Gita sebentar lagi akan punya anak, Mba. Sementara aku hanya akan sebagai parasit dirumah itu, enggak ada yang bisa aku banggakan lagi,"

__ADS_1


Nadifa memuntahkan semua unek-unek yang ada didalam hatinya, melampiaskan segala kekecewaan yang bergelayut didalam dihatinya.


"Ini bukan mau ku, Mba ! aku enggak pernah nyangka hidup aku akan hancur sekaligus seperti ini," Nadifa terus menangis mencekam suasana ruangan yang sudah sepi.


Dania terus menemani, memeluk dan menguatkan diri wanita yang sedang kehilangan arah ini.


"Kita pulang ya, ikut aku dulu kerumah, tenangkan diri kamu, menangislah sekenyangnya, sampai hati mu tidak sesak lagi."


Dania melepas pelukannya dan menyeka air mata Nadifa yang tumpah membanjiri kedua pipinya, mata dan hidungnya memerah dan bengkak.


"Kasian sekali hidupmu Difa!" Dania merintih melihati sahabatnya itu.


Malik masih berdiam didalam kemudinya, air matanya menggenang tidak mau jatuh, hatinya sesak melihati bangku kosong disebelahnya, ia ingat-ingat bagaimana mereka saling merangkul didalam, manja nya, marahnya apapun yang Nadifa lakukan selama mereka berdua didalam mobil.


"Terus sama aku ya sayang...iya dong pasti,"

__ADS_1


Sebait kalimat seperti itu yang terus terngiang-ngiang dikepala Malik saat ini, Ia masih bisa merasakan jelas suara Nadifa ditelinganya, masih bisa mencium wangi farfum yang dipakainya, masih bisa merasakan halusnya belaian tangan Nadifa kepadanya.


Malik memukul stir mobil dengan keras, ia gundah gulana penuh nestapa, tidak dibayangkan sebegini cepatnya dipaksa berpisah ketika cinta masih melekat tak urung mencuat.


__ADS_2