
"Daahhhh..!" Nadifa melambai kan tangan kedalam mobil Malik. Hari ini ia menolak untuk diantar pulang sehabis bekerja, hanya ingin diantar sampai di super grosir perbelanjaan, mengingat ia mau berbelanja kebutuhan Gita dan kehamilannya.
Karena ia takut jika Galih akan mempergoki dirinya lagi yang pernah turun dari mobil Malik di jam-jam pulang kerja mereka.
Cekrek...cekrek...
Ada suara memfoto kan moment dimana Nadifa turun dimobil Malik. Ada seseorang bertopi disebelah kiri sedang melihati Nadifa masuk kedalam tempat perbelanjaan, dirasa moment tersebut sudah diabadikan, Ia pun pergi menghilang dari tempat itu.
Kringggg...kringgg....
Dering Hp nya berbunyi, Nadifa membuka tas nya dan meraih HP nya.
Husband Incaming Call
Nadifa : Assalammualaikum iya sayang
Galih : Sudah keluar kantor belum ? aku ingin menjemput kamu.
Nadifa : Tidak usah jemput, aku sudah keluar kantor sekarang masih di super grosir ingin belanja dulu.
Galih : Ya sudah aku jemput kesana
Nadifa : Baiklah, hati-hati dijalan.
__ADS_1
Galih meraih gagang telepon dan menelpon Gita keruangannya.
Galih : Git, aku tunggu dimobil. Cepat ya jangan lama-lama, aku ingin menjemput istriku.
Gita : Ya, baik.
Gita kembali menghela nafasnya setiap mendengar Galih memanggil Nadifa dengan sebutan Istriku, hatinya masih seperti tersayat termakan cemburu. Tapi ia sadar bahwa Nadifa memang pantas mendapatkan gelar seperti ini.
****
Deru mesin mobil Malik sudah terhenti, ia memakirkan di garasi mobil yang megah itu.
Malik terus masuk kedalam rumah, melihat tidak ada suara anak-anak yang biasanya menghampiri dan memeluk menyambut kedatangan dirinya.
Semakin dekat langkahnya, semakin dekat dengan seseorang itu. Malik dipenuhi rasa penasaran untuk terus melihatinya.
"Oh Bunda sudah pulang, sore sekali. Ayah fikir akan pulang malam,"
Kinanti berbalik dengan air mata yang membasahi pipinya. Malik kaget lalu meraih tubuh istrinya.
"Ayah fikir Bunda akan pulang malam dan membiarkan Ayah untuk pergi bersamanya lagi?" Kinanti melengkingkan suaranya lalu melemparkan beberapa foto.
Malik masih bingung dengan ucapan sang istri lalu ia mengambil beberapa foto yang sudah bertebaran dilantai.
__ADS_1
Dilihatnya foto Nadifa yang sedang berdiri disamping mobil milik Malik dan masuk kedalam Mall.
"Siapa dia?" Kinanti mendorong Malik yang masih lengkap dalam berpakaian kantor belum sama sekali ada air yang diteguk untuk menyambut dirinya pulang.
"Ini Nadifa, hanya minta nebeng karena mau berbelanja,"
"Bohong! tempat belanja itu tidak searah dengan rumah kita, kamu sengaja mengantarnya, ingin berduaan dengannya dimobil !" Kinanti semakin murka.
Malik merasa dirinya sudah diketahui, ia sudah kepalang basah untuk tidak bisa mengelak. Orang suruhan Kinanti pun pasti sudah memata-matai mereka seharian ini.
"Maafkan Ayah, Bunda," Malik memeluk Kinanti kuat.
"Bunda enggak nyangka, Ayah yang sebijak ini bisa melakukan ini, menghianati aku dan anak-anak!" Kinanti menangis dan menjatuhkan dirinya di sofa.
Malik membungkuk dan berjongkok memegangi dengkul Kinanti.
"Ayah adalah seorang pemimpin rumah tangga, seharusnya ayah bisa menjaga amanah yang diberikan oleh aku dan anak-anak,"
Setiap Kinanti menyebutkan kata anak-anak, Dada Malik merasa terenyuh ia baru tersadar bahwa sikapnya ini tidak hanya menyakiti Istrinya tetapi juga anak-anak mereka.
"Posisikan bagaimana anak-anak kita seperti aku saat ini, apakah kamu sebagai Ayahnya akan rela ?" Kinanti mengucap dengan suara amat lemah.
Malik masih tertunduk malu ..amat malu sekali. Yang ia ingat saat ini hanyalah keluarganya, Nadifa seperti terhempas mendadak dalam ingatannya.
__ADS_1