
Keep reading kesayanganku❤️🖤
****
Galih masih menimang-nimang Gifali didalam kamar, mengecupi dan memeluk nya dalam-dalam. Setelah perdebatan tadi pagi Nadifa sadar bahwa andil untuk merawat Gifali bukan hanya dirinya. Gifali berhak mendapatkan kasih sayang dan kedekatan batin dengan sang Bapak.
"Anak Papah siapa namanya?" coleteh Galih mengajak bicara Gifali yang hanya bisa menatap dan menguap.
Terdengar air keran menyalah, ada suara rintihan mual dan muntah beberapa kali disana.
"Mah, kenapa?" Galih mengerasakan suaranya agar terdengar sampai kedalam kamar mandi.
Nadifa tidak menjawab, ia terus muntah dan muntah.
"Mah?" panggil Galih lalu mendekat mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Lalu ia berjalan kembali ke dalam box Gifali untuk menaruh sebentar bayi itu. Terlihat Nadifa sudah keluar sambil memegangi perutnya, wajahnya pucat, tubuhnya terasa sedikit hangat.
Dirangkul tubuh istrinya untuk menepi diranjang."Ke dokter yuk, kamu kayanya sakit nih," Galih mengoleskan minyak kayu putih di perut istrinya.
"Masuk angin kayanya," Nadifa bangkit menuju ke box Gifali untuk mengambil anak itu karna akan menyusui nya dulu sebelum tidur.
"Kamu kayanya aku perhatiin belum datang bulan ya?" Galih mengingatkan Nadifa. Nadifa memutarkan kedua matanya ke arah kalender.
"Oh iya, udah tanggal 28 biasanya kan aku haid sekitar tanggal 10 ya. Udah lewat 20 hari nih !" ucapnya.
Galih menarik lemari dimeja rias Nadifa, dan mencari-cari barang kecil yang selalu istrinya pakai dulu, terakhir sekitar 10 bulan yang lalu.
"Masih bisa emang? kadaluarsa nggak ?" tanya Nadifa. Dengan cepat Galih mengecek exp date yang tertera disana.
__ADS_1
"Masih, ayo---!" Galih meraih tangan Nadifa.
"Mau ngapain Pah?"
"Mau pup !" mendengus pelan " Ya, aku mau kamu cek dulu pakai ini, siapa tau emang milik kita. Kalau ada dedeknya Gifali ya kan kamu bisa jaga-jaga, jangan capek-capek," Galih memberikan test pack kepada Nadifa.
"Ayo sana!" Galih mengambil Gifali yang masih ada didalam dekapan istrinya.
Nadifa diam, terus memegangi alat tes pack itu. Ia ingat bagaimana terkahir air matanya terus berderai ketika hanya melihat 1 garis merah sekitar satu tahun yang lalu.
Karna merasa lambat, Galih pun menaruh dulu Gifali ke dalam box nya lalu menarik tangan Nadifa untuk ikut bersamanya ke kamar mandi.
"Ayo cepet pipis !"
"Yaudah sana ih,"
"Aku disini liatin!"
"Udah buruan, apa mau aku yang bukain ?"
"Aduhhhhhhh kamu ahh----!"
Begitulah suara pasangsan suami istri ini, menggema nyaring dibalik pintu kamar mandi.
Lima menit kemudian, Nadifa masih menutup matanya. Biar saja Galih yang memberitahukan hasilnya.
"Yes, Pos----!" nada Galih kegirangan, sontak suara suaminya membuat Nadifa membuka matanya dengan cepat.
"Yah, Nee--gatif," Galih memelankan suaranya, ketika ia merasa hanya satu garis saja yang muncul disana, lalu melihati Nadifa yang masih bertengger di bahunya. "Ah tuh kan!" Nadifa kecewa, ia mencubit perut suaminya pelan lalu bergegas keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Nadifa duduk menepi di ranjang tidur milik mereka, ia tidak menangis. Tapi hatinya teramat sesak. Kekecewaan kembali merundung dalam sanubarinya.
"Buka piyamanya, aku kerokin kamu," Ucap Galih ikut menepi dibelakang istrinya. Ia mengambil minyak angin dan uang logam. Sekarang ia sudah mengerti bahwa istrinya hanya masuk angin bukan hamil seperti yang ia perkirakan.
Mereka berdua saling membisu, tidak membahas masalah tespack negatif itu. Galih tetap fokus mengeroki punggung Nadifa yang mulus dan bersih. Sesekali Nadifa menggeliat merintih karna sakit.
****
Pagi yang cerah menderah, memperlihatkan kedua insan saling mencintai dalam benteng persembunyian yang dibuat cantik oleh mereka.
"Ayo sayang, cepat nanti kita ketinggalan pesawat !" Galih memegang tangan Alea dengan mesra masuk kedalam mobil.
Mereka terlihat saling merangkul dalam cinta.
"Ayo Pak Jalan!" Galih memerintah sopir untuk menjalankan kendaraan yang kini mereka hinggapi.
"Sayang, tiga hari kan kita disana?"
"Iya sayang, sepuas kamu ! aku milikmu saat ini," Galih menciumi tangan Alea dengan Syahdu.
"Sayang, kalau istri kamu tahu bagaimana?"
"Dia tidak akan tahu, aku sudah bilang akan keluar kota tiga hari. Dan Nadifa mempercayaiku,"
Galih memeluk Alea dengan sangat erat, wajah mereka saling berhadapan dan sebentar lagi akan rapat menempel.
Dan duarrrrrr-------------
Ada Galih yang sedang memegangi tubuh Nadifa yang bergeliat menahan isak tangis. "Tenang sayang...tenangg,"
__ADS_1
Yesss alhamdulillah udah 5 episode untuk hari ini. Tetap stay tune sama kisah mereka ya guyss..yuk semangatin aku untuk LIKE dan bagi POINT kalian buat cerita ini. Silahkan tinggalkan komen jika mau..thankyou❤️🖤