Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Putra Gifali Hadnan.


__ADS_3

Nittt...Nittt....Nittt...


Suara ventilator begitu nyaring terdengar di ruang ICU, menunjukan angka-angka tekanan darah, nadi dan respirasi tubuh Gita. Ia terlihat lemah tidak berdaya, matanya sedikit terpejam namun mulutnya mengigau. Ia terus memanggil nama suaminya, Galih.


Nadifa duduk dikursi samping tempat tidur, ia lihati perut buncit Gita yang sedang bergerak-gerak, menggenggam jari jemari Gita agar bisa melewati keadaan ini dengan baik. Di ekor matanya terlihat bulir-bulir air mata yang turun membasahi pipi lalu ke bantal.


Nadifa merasa amat bersalah, ia mengambil Galih beberapa jam dirumah pada saat Gita sedang membutuhkan suaminya.


"Istri bapak sudah masuk kedalam fase Eklampsia. Istri bapak mengalami kejang sebelum melahirkan. Tensi darah nya sangat tinggi yaitu mencapai 180/90 mmhg, ditemukan juga protein di dalam darahnya. Jika bayi nya tidak cepat dikeluarkan, saya takut akan mengancam nyawa bayi dan juga ibunya," Dokter di ruang ICU menjelaskan begitu rinci kepada Galih.


Nadifa pun menoleh cepat ketika mendengar kalimat terakhir yang disampaikan oleh Dokter itu."Ya Allah, Mba, ternyata darahku belum cukup untuk membantumu," Nadifa lalu menangis pelan, ia terus mengusap-ngusap perut Gita yang sebentar lagi akan melahirkan seorang bayi suci tanpa dosa.


Galih diam, ia terus menggeleng-gelengkan kepala, menahan sesak seperti sulit untuk bernafas, ia terus melihati keadaan istri keduanya dengan cukup gelisah."Saya setuju saja dok, yang penting ibu dan bayinya dapat selamat,"


"Baik Pak, saya akan kabari dulu ke Dokter Kandungannya,"


"Terima kasih, Dok!" Galih berlalu meninggalkan Dokter yang sedang menghubungi Dokter spesialis kandungan. Ia berdiri disamping Nadifa, melihati Gita yang parau.

__ADS_1


"Galih!" suara Gita bergetar. "Iya Git, sabar ya. Sebentar lagi kamu akan melahirkan," Galih mengubah posisinya untuk lebih dekat dengan tubuh Gita.


"Gita sayang Galih," Ucap Gita berbicara sangat terpapah pelan.


"Jagain anak kita ya Lih!" suara Gita makin bergetar diiringi dengan isak tangis yang tidak terlalu terdengar karna alat sungkup pernapasan bertengger dihidungnya.


"Kamu sama Mas Galih, akan menjaga anak kalian bersama-sama," Imbuh Nadifa memberikan semangat.


"Dif?" panggil Nadifa lalu mengangkat tangannya sedikit agar bisa diraih oleh Nadifa."Maafkan aku ya, maafkan segala perbuatan ku!" Gita menangis kembali, ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Ia belai rambut Gita dengan lembut, diseka air matanya agar kembali surut, walau sampai saat ini Galih belum bisa mencintai Gita, tapi setidaknya ia tetap harus memperhatikan Gita layaknya seperti istri sungguhan, memberikan kehangatan dikala Gita sedang berjuang melawan rasa sakit.


"Anak kita harus cepat dilahirkan, walau lebih maju satu bulan dari perkiraan, karna jika tidak. Resiko nya akan mengancam kamu dan si bayi. Jangan fikirkan macam-macam, aku dan Difa ada disini menemani kamu,"


Nadifa terus menangis mendengar nya, entah ia seperti merasa amat bersalah atas kejadian Gita.


"Dif?" Gita memanggil lagi. "Tolong jaga anak kami ya, sayangi seperti anakmu sendiri. Berilah nama Putra Gifali Hadnan "Putra Gita, Difa dan Galih" pada anak ini!"

__ADS_1


Hadnan adalah nama yang ada dibelakang nama Galih. Sepertinya Gita sudah menyiapkan nama untuk anak itu dari jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan Galih.


Galih Hadnan !


Nadifa makin terisak mendengarnya, ia terus menangisi setiap kata-kata yang keluar dari mulut Gita.


"Dif, kamu tidak boleh meninggalkan Galih ya, apapun yang terjadi, jangan sakiti hatinya, cintai ia selalu, karna dia amat mencintaimu."


Suara Gita semakin berat dan payah.


Gita mengangkat jari kelingkingnya ke arah Nadifa," Ber....janjilah!" Nadifa pun menyambut dengan jari kelingking kepemilikannya.


Nadifa tidak kuat untuk menjawab, sesuatu hal itu yang memang harus ia jawab dan harus ia laksanakan.


"Permisi Pak, Dokter kandungannya sudah siap, kami akan membawa Ibu Gita ke ruang operasi sekarang," Perawat mendatangi mereka yang sedang dibanjiri gundah,gulana, kecemasan dan kekawatiran yang membuat mereka sedikit sesak untuk bernafas.


"Tolonglah selamatkan mereka berdua, aku mohon."

__ADS_1


__ADS_2