
Bonus deh buat kalian, aku segerain Up enggak nunggu lagi besok ❤️❤️🖤
Sekilas tatapan khawatir telah berubah hangat, ceria dan bahagia di benak Galih. Mengingat sebelumnya perkataan Bapak Presdir SUAM kepadanya beberapa menit yang lalu
"Saya sudah mendapati orang yang cocok untuk menggantikan posisi yang saat ini Pak Galih tempati, oleh karena itu saya ingin meminta Pak Galih untuk berpindah posisi dengannya untuk menjadi Wakil saya di SUAM."
Galih merasa mendapatkan berkah dari semua kejadian yang telah ia alami dalam satu tahun terakhir ini. Ia tidak pernah membayangkan posisi jabatan nya akan naik secepat ini.
Menjadi Wakil Direktur !
Ia telah memenangkan dirinya untuk naik beberapa level dari posisi lama ke posisi yang baru ini. Dirinya tau ini adalah rezeki Nadifa dan Gifali, berkah dari anak dan istrinya.
Wajahnya terus dihiasai dengan kebahagiaan. Membayangkan segala fasilitas akan ia dapat, dari gaji yang akan naik drastis, mobil baru dan rumah baru untuk mereka. Semua sudah terpampang nyata di benaknya. Nadifa dan Gifali pasti akan bangga padanya.
Tentu Galih harus faham, ini semua tidak akan begitu saja mudah untuk dijalankan, dibalik kesukesan pasti akan ada keterjalan yang meradang.
Maka berhati-hatilah !
***
Dua bola mata saling bertemu dalam kerinduan, mungkin tepatnya lelaki ini yang lebih merindukan Nadifa. Dilihatinya terus lelaki yang ada dihadapannya, tiga bulan bukan waktu yang sedikit untuk melupakan kenangan kebersamaan, walau Nadifa hanya mengganggap dirinya sebagai sahabat tidak lebih seperti kepada Malik dulu.
"Kamu gimana kabarnya, Dif ?" tanya Fajar membuka obrolan sehabis bersalaman dengan Nadifa, yang tak sengaja mempertemukan mereka dilorong kantor.
Nadifa membuka senyum lebar, ia terlihat lebih cantik saat ini." Alhamdulillah aku sehat, kamu sama Naka gimana Mas?"
"Aku sehat, Naka juga sama," balas Fajar tanpa menambahi kalimat apapun lagi.
Sikap Fajar sontak banyak berubah, ia tidak seakrab dulu ketika berucap, seperti ada jarak yang membatasi mereka dengan sebuah dinding kekecewaan.
__ADS_1
Ya, Fajar masih patah hati !
Mengingat ia selalu melihat status WA Galih yang selalu update tentang kebersamaannya dengan Nadifa dan Gifali. Memang, Galih sengaja melalukan itu. Ia hanya ingin membuat Fajar sadar, kalau Nadifa hanyalah
Miliknya ! Istrinya !
Fajar harus bisa menelan pil pahit dalam-dalam agar semua perasaanya sirna dan hilang dimakan waktu. Entah mengapa setiap ia menatap sosok Nadifa, rasa suka nya terus membuih.
"Difa sehat terus ya, salam buat Galih dan bayi kalian," Ucap Fajar mengakhiri pertemuan mereka, meninggalkan Nadifa yang belum sempat membalas ucapan terkahir dari nya. Nadifa sangat tahu bahwa lelaki itu sedang dirundung kesedihan karna perbuatannya.
"Maafin aku ya, Mas," Nadifa merintih, menolehkan setengah badanya untuk melihati sosok Fajar dari belakang.
*****
Jam sudah menunjukan pukul 16:00 Wib. Nadifa mulai resah menunggu kehadiran Galih yang tidak kunjung datang. Suaminya telah berjanji akan menjemput dirinya tepat waktu lalu membawa Gifali pulang dari Babby Day Care.
Nadifa mulai geram. Ia sudah rindu dengan Gifali saat ini. Ia mencoba menghubungi Galih, namun telepon tidak diangkat mengirim pesan WA pun belum dibaca-baca.
"Mungkin masih dijalan,"
Nadifa mencoba untuk sabar dan bersikap bijak, mungkin saat ini suaminya sedang dalam perjalanan, ia terus meraup oksigen diudara untuk menghilangkan emosi nya biar sinar.
Tetapi !
Waktu terus berdetak, kini jam sudah menujukan 16:30, yang artinya Galih sudah telah 30 menit. Emosi yang telah sirna kini kembali memuncah, ia mengulagi lagi untuk menghubungi suaminya, namun hanya si nihilawati yang ia dapat !
Nadifa menghentakan kakinya ke tanah, ia amat kesal dengan Galih yang tidak bisa menepati janji sebagai suami sekaligus Ayah.
Mengingat Day Care akan tutup jam 17:00, tanpa alih-alih ia sudah memutuskan saat ini bahwa tidak akan lagi menunggui Galih, Ia raih HP nya untuk memesan Ojek Online.
__ADS_1
"Bang, yang cepet ya Bang !" Nadifa terus bergeming dibalik pengemudi yang sekarang sedang memboncenginya.
Nadifa terus mengumpat dan memaki dirinya yang mau saja percaya akan janji suaminya itu.
"Bang, ayo dong. Jalannya yang cepet !" ucap Nadifa tidak sabar, ia terus melihati arah jarum jam diarlojinya yang sudah menunjukan pukul 16:45.
"Bang, ayo Bang!" Nadifa terus menyuruh pengemudi mempercepat jalannya.
"Tenang neng, lambat gapapa yang penting kita selamat,"
"Aduh Bang, yang cepet !"
Kemudian...Prakkkk...eung...
Terguling lah mereka dari motor ke aspal jalan. Meninggalkan luka lecet disekitar sikut Nadifa, terlihat Abang Ojek pun mengalami lecet disekitar kakinya.
Karna mendengar kebawelan dari Nadifa membuat Abang Ojek tidak konsen mengendarai motor apalagi ketika seekor kucing tengah menyebrang, dengan refleks ia pun membanting stir ke tepi jalan.
"Duh Neng, makanya jangan bawel!" Abang ojek memaki-maki Nadifa. Sontak kejadian tersebut membuat jalanan menjadi ramai karna perjalan kaki dan motor mengerubungi mereka.
Tidak lama kemudian
"Ini bang," ada suara dari lelaki yang kini tengah berdiri sambul menyodorkan uang merah satu lembar kepada Abang Ojek," Ini cukup buat ngobatin luka abang di Klinik!"
"Ayo, bangun!" lelaki itu menyodorkan tangan ke arah Nadifa.
"Mas?!" Ia kaget terus menatap.
Minta tolong kalian kalo ada poin buat nge VOTE yah🖤🖤 sama minta jempol nya buat Like dan Komen nya..makasi kesayangan🖤❤️💖
__ADS_1