
"Oh iyaa, jam berapa kita akan mulai rapat nya dif ? oh..Pak Malik sudah datang rupanya ," Dania mengangkat kepalanya melihat ke ruang kerja Malik.
"Aku tidak tahu mba, nanti saja tunggu perintah dari bos kita," ucapnya cuek, ia masih termakan api cemburu semenjak tadi.
Mereka pun kembali hening dan sibuk membereskan laporan-laporan yang akan mereka bawa ke ruang meeting, dari dalam ruangan kaca pun Malik sedang sibuk terdiam membaca beberapa laporan yang sudah ada di mejanya, mereka akan bersiap berjuang mempresentasikan laporan kerja akhir tahun.
Dua jam kemudian, Malik keluar dari ruangan kaca dan menuju meja mereka berdua
"Ayo kita berangkat ke ruang meeting , dibawa saja apa yang perlu dibawa ," ucap Malik sangat berkarisma, hanya Dania yang menjawab dan Nadifa tetap fokus dalam merapihkan beberapa map yang akan ia bawa.
"Saya tunggu kalian diruang meeting ,"
tidak ada respon dari Nadifa, Malik pun melanjutkan kembali langkahnya.
"Huh...dasar menyebalkan..!!" batin Nadifa yang telah siap dan bangkit dari duduknya berjalan bersama Dania mengikuti jejak Malik yang sudah cepat berlalu menuju ruang meeting.
__ADS_1
Sesampainya didalam ruangan meeting yang cukup besar dan megah itu. Terlihat Malik sedang bercakap-cakap dengan para manajer direksi kantor sambil mengunggu Pak Wijaya Presiden Direktur mereka dideretan bangku depan.
"Kita dibelakang saja yuk dif, tunggu aba-aba dari pak Malik baru kita duduk dibelakangnya ,"
Nadifa mengangguk dan berjalan mencari kursi kosong di belakang bersama Dania, dari arah belakang datang lah seseorang yang mendekati Nadifa.
"Assalammualaikum dif , boleh saya duduk disamping kamu," lelaki itu adalah Fajar yanf sedang menunjuk bangku kosong disamping Nadifa.
"Waalaikumsallam mas fajar, ayo silahkan mas, belum ada yang isi heheh,"
"Nadif sudah sehat sekarang ?"
"Alhamdulillah sehat, kenapa memang mas ?"
muncul raut wajah kebingungan yang muncul dari nadifa , mengapa Fajar mengetahui dirinya sedang sekit kemarin, Fajar pun faham akan hal itu.
__ADS_1
"Kemarin saya keruangan pak Malik lalu ia cerita karena aku bertanya kenapa meja mu kosong, dan aku melihat kamu siang kemarin diantar pak Malik,"
Mendengar penjelasan itu Nadifa langsung mendadak batuk seperti tersedak terkena pecutan luar biasa menggeleger ditenggorokannya, melihat Nadifa terkejut seperti itu dengan cepat Fajar mengambul air botol kemasan yang dibawanya.
"Minum lah Nadif ," Fajar memberikan air minum itu kepada Nadifa, Ia pun meminumnya sambil melihat ke wajah Fajar. tangan Fajar pun masih bertengger memegangi botol minuman itu ia membantu Nadifa agak minum dengan pelan.
ini yang mengasikan sekali...
Ketika sedanf bercakap-cakap dengan para direksi, mata Malik seperti dibelokan ke arah belakang tubuhnya melihat pemandangan yang tidak begitu enak, ya...dilihatnya Fajar sedang membantu Nadifa untuk minum, Raut wajah Malik pun seketika berubah dan bangkit menuju mereka.
"Hemmmm..." Malik berdehem berdiri sambil melihati mereka , karena mereka terkejut air botol pun jatuh ke karpet.
"Nadifa, Dania ayo ikut saya kedepan, rapat mau dimulai ," perintah Malik dengan serius. Fajar masih bersikap biasa sambil memungut kembali botol yang terjatuh ke karpet lantai.
"Terima kasih ya mas Fajar ," Nadifa dengan ramah meninggalkan pesan tersebut lalu bangkit disusul oleh Dania.
__ADS_1
Dua wanita ini pun berjalan mengikuti bos nya kearah kursi depan. Fajar pun memperhatikan sikap Malik yang berbeda dari biasanya, Malik dikantor dikenal sebagai Manajer yang paling baik dan santay, tetapi kali ini sangat berubah ia terlihat seperti lelaki yang serius ,tidak bersahabat dan tidak ramah sama sekali.