
"Oke deh gue deal sama barang yang ini," ucap Galih lalu menanda tangani dokumen itu.
Fajar mengangguk senang.
"Oh iya Lih, gue mau bicara sebentar," mata Fajar menoleh ke arah Dendi.
"Langsung bawa ke Gita ya Den, minta di buatkan surat jalannya," Galih meminta Dendi untuk berlalu dari ruangan ini.
"Gita?" batin Fajar."Apakah benar yang ku dengar tadi"
Dendi pun berlalu meninggalkan mereka berdua. "Kenapa Jar?" tanya Galih to the point.
"Maaf Lih, mungkin ini masalah pribadi lo,"
Galih tampak bingung serta melipat dahi nya sehingga tidak beraturan."Ada apa Jar?"
"Apa betul lo poligami Nadifa?" tanya Fajar tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Galih kaget bukan kepalang, matanya terperanjat terus melihati mata Fajar, melihat reaksi Galih yang seperti ini membuat Fajar semakin curiga akan hasil jawaban yang ia tunggu.
"Lih, maaf mungkin gue terlalu lancang untuk nanya hal kaya gini," ucap Fajar untuk menyudahi percakapan tentang hal itu.
"Siapa yang cerita? Nadifa ?" tanya Galih mendadak bersikap dingin.
__ADS_1
Fajar menggeleng cepat iya tidak mau Galih bertengkar dengan Nadifa dirumah nanti
"Santai bro, gue enggak diceritain sama siapa-siapa, apalagi sama istri lo..Hemm.." Fajar terhenti sebentar.
"Apa?" Galih makin curiga.
Akhirnya Fajar menceritakan apa yang ia dengar sewaktu di lobby jika ada beberapa karyawan telah menggosipi Galih dengan Gita.
Galih terdiam lama, menyenderkan tubuhnya dikursi agak lama sambil menatap atap langit ruangan itu.
Galih pun mengangguk mata nya kembali diarahkan ke arah Fajar.
Fajar yang kaget dan tidak terima," Jadi bener lo!" Genggaman tangan bernada pukulan diarahkan ke arah Galih, mendadak suasana menjadi panas penuh emosi.
"Apa lo enggak punya hati, bawa istri kedua lo untuk tinggal serumah sama Nadifa, dimana hati nurani Lo?" Fajar semakin mengerang terus memaki Galih sampai habis, menghampirinya dan menggenggam kerah baju Galih.
"Demi Tuhan, ini bukan mau gue Jar, ini semua kemauan Nadifa, dia yang pengen Gita untuk tinggal serumah sama kita!"
Galih melepaskan genggaman tangah Fajar dari baju nya.
"Gue enggak nyangka sama lo, Nadifa bisa terus bertahan sama suami kayak lo!" Fajar kembali mengangkat telunjuknya ke wajah Galih.
"Ada apa sama Fajar, kenapa dia sebegininya kesal membela istriku," batin Galih bertanya-tanya.
__ADS_1
"Lo bukan Nabi yang bisa bersikap adil, gue tau Nadifa hanya terpaksa ngejalanin ini dan gue pastiin dia akan secepatnya pergi ninggalin lo, gue udah enggak mood lama-lama disini, gue permisi!"
Fajar berlalu pergi meninggalkan Galih seorang diri yang sedang tersengal-sengal karenanya.
Galih pun terdiam, matanya tajam, pipi nya memerah dan mengepal kan tangannya menggetarkan meja rapat.
*****
Satu jam kemudian Fajar sampai di lobby Darma Group, ia berjalan cepat ingin menemui Nadifa, hatinya tidak karuan ingin melihat wanita ini.
Ia pun berjalan keluar lift untuk menyusuri jalan menuju ruangan Nadifa, pucuk dicinta ulam pun tiba , dilihatnya Nadifa sedang berjalan mengikuti jalan dihadapannya sambil menunduk melihat beberapa berkas ditangan.
"Nadifa!" panggil Fajar dari arah depan, Nadifa pun mengangkat wajahnya dan melihat Fajar telah berlari cepat kearahnya.
Nyasssss....!! Fajar memeluk Nadifa dengan erat. Ia menyandarkan kepala di bahu Nadifa, meninggalkan keprihatinan berat didalamnya.
Brugggg !! seketika beberapa dokumen berjatuhan ke lantai, Nadifa masih kaget mematung dengan apa yang ia alami saat ini.
Entah ada angin apa Fajar memeluk dirinya seperti ini.
Kemudian dari arah belakang Nadifa, keluarlah Malik dan Dania yang lurus berjalan menyusuli nya dari belakang, melihati mereka sedang memeluk satu sama lain..
Kayak biasa guys...jangan lupa LIKE dan Koment yah...terima kasih 🖤🖤
__ADS_1