
Gita sudah duduk rapih di meja kantornya, sesekali ia membuka aplikasi wa untuk memulai chat kepada Galih, tetapi ia masih bingung dari mana akan memulainya.
Tidak lama kemudian datang Dendi menuju meja Gita.
"Direvisi ya, tambahkan surat keluarnya, Mau dikirim PO sama pak Galih," kata Dendi sudah berdiri di meja, dan mengagetkan Gita yang sedang berfikir.
"Galih menyuruhmu Den ?"
"Iya, dia menyuruh aku menemuimu,".
Lalu Gita terdiam dan menarik nafas pelan menahan rasa kesal yang ingin mencuat dari wajahnya.
"Oiya bagaimana keadaanmu sekarang Git," tanya dendi penuh perhatian.
"Aku sudah mendingan, Den,"
"Jaga kesehatan Git, makan jangan telat," ucap Dendi. Gita mengganguk dan mulai memunculkan senyum bersahabat kepada Dendi.
"Baiklah, aku kembali ke ruangan," Dendi pun permisi kembali.
"Kenapa sama kamu? malah nyuruh si Dendi anterin berkas ini, biasanya juga kamu yang datang sendiri, menanyai keadaan ku saat ini saja tidak, kamu jahat Lih," Gita termenung dalam hatinya, ia kembali sedih dan membendung air mata yang tergenang dikelopak kedua matanya.
"Aku benci kamu, tapi aku sayang...!!" Gita tetap meraung dalam hatinya. Ia terus menatapi layar ponsel nya yang dipasangkan walpapper foto mereka berdua pada saat jaman SMA.
Dendi pun kembali keruangan dan duduk di meja kerjanya. Galih dengan cepat menoleh melihati dendi.
"Sudah diberikan berkasnya ?" tanya Galih.
__ADS_1
"Sudah Pak," jawab Dendi enteng sambil memainkan mouse dengan mata menatap layar komputer.
"Syukurlah dia sudah masuk kembali," kata Galih dalam hatinya yang kembali menatap layar komputernya. Sesekali Fokus, sesekali kemudian memikirkan Gita. Apakah sikapnya yang seperti ini memang betul akan berakhir sesuai idenya, atau akan terjadi sesuatu hal yang buruk dikemudian hari.
****
bep bep bep.
Notifikasi wa Nadifa berbunyi.
Malik mengirimkan foto komputernya kepada Nadifa tanpa berkata apa apa.
"Komputernya mleduk Pak..😁😁 ?" balas Nadifa disertai emote itu.
"Iya nih komputernya mati, mungkin dia ngambek," balas Malik
"Bujuk dong Pak, belikan lagi nasi goreng cumi...hehehe,"
"wkwkwkwkw, engga perlu dibalas lagi Pak hehehe,"
"Komputernya masih mati nih, saya bingung mau ngapain. Sudah panggil IT sih," Malik mebalas kembali, ia semakin senang berbalas chat wa dengan Nadifa. Hal yang sama pun terlihat dari gurat wajah Nadifa.
Mereka berdua terus menunduk ke layar HP masing masing, menggerakan jari jemari berbalas balasan pesan.
"Sabar ya Pak, sebentar lagi IT datang,"
"Sebenarnya saya enggak pengen mereka yang datang"
__ADS_1
"Loh Pak, lalu siapa," tanya Nadifa penasaran menunggu Malik mengetik di notif atas WA
"Orang yang ada disamping saya sekarang..😁🙈🙈," balas Malik.
Nadifa menyengitkan dahi langsung mengangkat wajah ingin melihat siapa yang berada disamping Malik saat ini.
lalu apa yang terjadi, ia melihat Malik sedang menoleh ke arah dirinya dengan senyum tanda cinta. Nadifa pun tersenyum bahagia membalas Malik.
"Pak, hati hati disamping bapak tuh engga ada siapa siapa loh, takutnya ada setan Pak...ihhh🙈🙈😁," ketik Nadifa.
Malik pun tertawa dan masih melanjutkan percakapan mereka.
"Kalau hantunya kamu, saya tidak masalah,"
Nadifa semakin menjadi akan rasa yang terus mencuat. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak senyum senyum sendiri.
"Mau makan siang dimana ?"ketik Malik
"Belum ada rencana Pak,"
"Ada es teller enak, lumayan 20m dari sini,"
"Nadifa siap untuk ditraktir Pak, hehehe,"
"Okelah siap, sesudah dzuhur tunggu diparkiran mobil ya,"
"Oke pak🤗," tanpa sengaja Nadifa mengirim pesan disertai emotion seperti itu.
__ADS_1
tanpa sadar mereka sudah melangkah jauh , mengikuti rasa cinta yang hadir namun salah ini. seperti dimabuk asmara, mereka merasa hari-hari adalah hari-hari mereka seorang.
Malik seperti terlupa dengan keluarga dan Nadifa pun sebaliknya. saat ini mereka berdua sudah menjadi aktris dan aktor yang hebat memainkan drama percintaan mereka.