
Eyyaaaa----Eyyaaa
Begitulah suara tangis Gifali yang meledak ditengah malam seperti ini, membuat Galih seketika bangun menerjepkan matanya.
Melihat Nadifa masih tertidur pulas, meringkuk didalam dekapannya. Ya, seperti malam-malam sebelumnya Galih berhasil meminta jatah akan hak nya malam ini.
Dipindahkan kepala Nadifa dengan pelan ke bantal sebelahnya, menaikan selimut sampai setinggi bahu, ia tidak mau istrinya kedinginan karna ia sudah berhasil melucuti semua kain-kain tipis yang bersarang dilekukan kulit istrinya itu. Ia tidak tega membangunkan Nadifa.
Sesudah mengenakan pakaian dan celananya lagi, ia bangkit dari ranjang lalu mendekati box bayi untuk menggendong Gifali. Membawa kesana-kesini, mengelus-elus, sesekali mengajak bicara, bayi itu tetap saja tidak berhenti menangis. Ia pun menoleh ke arah istrinya, sungguh sebegini susahnya kah mengurus bayi yang sedang rewel."Kamu hebat sayangku," ujar Galih memuji istrinya.
"Kok masih nangis aja sih anak papah, apa kamu haus ya Nak?" Galih terus menimang-nimang Gifali. Ia terus mencari-cari botol susu yang biasanya Nadifa letakan di nakas.
Ia pun meletakan Gifali yang berangsur reda dari tangis ke dalam box tidurnya. Melangkah keluar menuruni tangga dan memasuki dapur.
Ceklekkk
Lampu dapur dinyalahkan kembali, ia pun memilih-milih beberapa susu formula yang tertata rapih disana. Memang Nadifa berkali-kali menjajali Gifali dengan semua susu, karna ia tahu anaknya itu susah sekali adaptasi dengan susu formula. Sampai saat ini pun ia masih mencari-cari para ibu-ibu yang mau mendonorkan asi nya, namun sayang pencariannya tidak membuahkan hasil.
Setelah sebotol susu sudah jadi, ia pun kembali dengan cepat memasuki kamarnya dan meraih tubuh Gifali yang masih terjaga. Wajah anak itu sangat dominan mengambil wajah Bundanya, yaitu Almarhumah Gita.
__ADS_1
Disusui Gifali dengan amat kaku dalam gendongannya, tidak berapa lama bayi itu pun tertidur lagi. Jam di dinding sudah menunjukan pukul 02:00 Wib. Membuat matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
****
Subuh, 05:00 Wib.
"Papah-------!" Teriakan Nadifa mengembang beberapa oktav diudara, sekejap membuat mata Galih terbuka hebat dengan gemuruh dada yang tersengal-sengal.
"Kenapa?" Galih kaget bukan main, ia langsung loncat dari kasur menghampiri istrinya yang sedang berdiri di dekat box bayi Gifali.
"Liat nih!" Nadifa menunjukan botol susu yang ia temukan disamping tubuh anaknya.
"Iya emang anteng, tapi coba tuh liat pipi nya pada bercak merah-merah,"
Galih melihati lagi wajah anaknya lebih dalam,"Eh iya tuh sayang," lalu mengajak bicara Gifali ,"kamu kenapa Nak, apa yang kamu lakukan, sampai mamah kamu ini berubah jadi monster pagi-pagi?"
Nadifa makin geram, melototkan kedua matanya. Galih sungguh membuat dirinya semakin jengkel.
"Coba tunjuk susu mana yang kamu buat tadi malam?" tanya Nadifa ke pada Galih sambil menunjuk ke beberapa kardus susu yang berada didapur.
__ADS_1
"Ini----," Galih menunjuk ke arah dada Nadifa yang menutupkan gundukan indah dibalik piyama nya.
Nadifa pun mencubit perut Galih dengan kencang, membuat Galih berteriak histeris menerjang bagai kijang yang sedang dihujani tancapan panah."Ngomong yang bener!"
"Yang ini, Mah," tunjuk Galih takut-takut. Ia mengarahkan ke kardus susu yang mengandung susu sapi.
"Ya Allah papah ! kamu tau enggak sih, anak kita tuh alergi sama susu sapi, makanya jadi ruam-ruam kaya gini ! aaah aku kesel, enggak suka!" Nadifa menghentakan kaki nya beberapa kali ke lantai, menahan rasa gregetannya untuk menggiggit telinga suaminya.
"Kalo emang alergi, kenapa masih disatuin ditempat yang sama? bukan salah aku doang dong ini!" Galih memberi pembelaan yang masuk akal, sontak membuat Nadifa tidak bisa lagi mengelak. Ia juga teledor.
"Tapi kamu tuh harusnya bangunin aku aja, jangan sok-sok an bisa ngurus Gifali, coba liat kamu hampir aja nyelakain dia!"
Tanpa sengaja perkataan itu membuat Galih mematung dan membuat berat diarea dadanya.
"Emang aku mah engga pernah becus buat ngurus dia, apapun semua hanya kamu yang boleh melakukannya, aku kan papah nya. Enggak mungkin aku tega ngebuat dia celaka! kamu selalu aja batasin ruang aku kalo sama dia, kenapa sih? aku kan papahnya!"
Galih melakukan penekanan hebat disetiap kata-katanya. Nadifa seketika merinding dengan ucapan yang keluar dari suaminya, ia merasa disentil habis-habisan. Itukah unek-unek yang selama ini dipendam oleh suaminya ?
"Pah?!" Nadifa memanggil lembut suaminya yang sudah terlanjur menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
__ADS_1
Minta tolong kalian kalo ada poin buat nge VOTE yah🖤🖤 sama minta jempol nya buat Like dan Komen nya..makasi kesayangan🖤❤️💖