
"Aku duluan ya Dif, kamu hati-hati dijalan," ucap Dania ketika Gojeg pesanannya sudah datang didepan lobby.
"Hati-hati ya Mba," Nadifa melambai tangan ke arah Dania yang sudah berlalu.
Tinggal Nadifa yang masih berdiri disitu menunggu Gojeg datang, dari arah basement munculah mobil Malik ke arah depan Lobby.
Mobil itu yang hampir tidak pernah absen membawanya pulang, saling berpeluk manja didalamnya. Tidak ada bunyi klakson atau apapun, tidak perduli yang tengah berdiri siapa disana, mobil Malik tetap berpacu berjalan melewati wanita yang selalu ditumpanginya selama 7 bulan.
Malik tetap melihati Nadifa dari kaca spion dalam, ia melihati Nadifa yang masih berdiri terus melihati mobilnya itu.
"Aku rindu kamu!" gumam Malik, ia terus melajukan mobilnya sampai keluar dari pekarangan DG.
Mata Nadifa tetap tidak berpindah terus melihati bayangan mobil yang kini sudah berlalu, lalu terbangun dari lamunan karna bunyi klakson dari Tukang Ojek sudah datang.
****
Selama perjalanan Malik terus meratapi bayangan Nadifa sedari tadi, ia rindu akan wanita ini. Tidak ada lagi senyum tergambar penuh makna yang diberikan oleh keduanya, mereka terus beriringan dalam dinginnya asa kehancuran.
__ADS_1
"Aku doakan kamu selalu bahagia, dan secepatnya melupakan aku," batin Malik bergeming dan menyeka air mata yang akan turun dari pelipis matanya yang tebal.
30 Menit berlalu, mobilnya telah sampai di garasi. Keluarlah Aisyah dan Letta yang siap memeluk Malik dari dalam rumah.
"Hemmm..anak ayah sudah pada mandi," Malik menciumi Aisyah dan Letta lalu digendongnya dua anak itu ke dalam.
"Ayah, Bunda tidak mau makan, nangis terus dikamar," ucap Aisyah. Sontak kabar ini membuat Malik khawatir dan cepat menyusul Kinanti kedalam kamar tidur mereka.
Ada Kinanti ditepi ranjang sambil memeluk bantal dan terus menangis.
"Ada apa sayang?" Malik menghampiri dan memeluk Kinanti. Ia pun melepaskan bantal ditangannya dan menerima dekapan hangat itu.
Kinanti mengangguk dan masih terlihat sedih. Jiwanya masih tidak terima dengan apa yang ia lihat dan rasakan.
"Aku ingin Ayah memblokir kontak Nadifa dimedia apapun, tidak mau melihat kamu berhubungan lagi dengannya."
Malik terdiam sempat untuk memikirkan lama dan akhirnya ia pun menyetujuinya. Dirogohkan saku celanannya dan meraih HP itu, dicari kontak WA Nadifa lalu diblokir dan dihapus.
__ADS_1
Melihat hal itu, Kinanti lega dia baru bisa bernafas dengan baik. Ia yakin jika seperti ini Malik dan Nadifa tidak akan bisa bersama lagi.
Entah bagaimana perasaan Nadifa ketika mengetahui hal ini.
*****
"Assalammualaikum Sayang, aku pulang," ucap Galih menuju dapur menemui istrinya, dipeluknya dari belakang dan dicium tengkuk Nadifa.
Terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat menaiki anak tangga diiringi isak tangis menemani, itulah Gita saat ini.
"Kenapa Mba Gita sayang?"tanya Nadifa sambil tangannya mengaduk-aduk sayur sop dipanci.
"Entahlah, mungkin sedang sensitiv," jawab Galih tidak mau ambil pusing.
"Kenapa sih Mas? jangan galak-galak, dia itu lagi hamil loh!" Nadifa mengingatkan kembali.
"Sudahlah aku tidak mau bahas, aku mau mandi dulu, masak yang enak seperti biasa ya, cintaku," Galih mencium bibir istrinya lalu berlalu meninggalkan ia seorang diri lagi didapur.
__ADS_1
Hanya dengan memasak membuat Nadifa melupakan stress dari kegalauan hatinya, semakin hari terasa sangat berat karna Malik sudah benar-benar pergi dari hidupnya.