Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Pertemuan biasa


__ADS_3

Mobil Galih sudah mendarat baik didepan parkir loby kantor Nadifa. Hari ini lelaki itu mengantar istrinya untuk masuk kembali bekerja. Mata Galih terus menyelidik mencari-cari wujud yang ingin ia lihat.


Mungkin Fajar ? atau juga Malik.


"Hati-hati ya sayang, jangan terlalu capek!" Galih kembali mengecup bibir Nadifa yang telah kembali merekah dengan warna lipstik nute magenta. Membuat aura nya terlihat begitu segar dan menggairahkan.


Galih kembali hanyut, terus menyergap bibir itu dalam-dalam, Galih sepertinya masih menagih beberapa part yang tidak terjadi dalam ronde semalam. Tetapi Nadifa tidak membalas, ia hanya merasai apa yang kini suami nya lakukan.


"Iya sayang, aku faham." Nadifa melepaskan wajahnya dengan paksa, ia tidak mau jika Galih harus mengerang lagi dan tidak bisa disalurkan dengan baik.


Nadifa mengusap bibir suaminya dengan tisu, membereskan tatanan rambut yang sedikit berantakan di area depan dan memposisikan dasi agar lurus tegak di kerah lehernya.


Muach ! satu kecupan lagi bersandar di pipi kiri suaminya. Menjadi pengantar semangat untuk Galih berangkat ke kantor.


Nadifa mencium punggung tangan suaminya dan memeluknya erat. Membuat Galih makin tertohok-tohok. Jika biasanya ia hanya akan salim lalu turun dari mobil, namun sepertinya kebiasaan itu akan bertambah lebih berbeda.


Nadifa sengaja bersikap begitu romantis kepada suaminya, memberi perlakuan yang amat beda untuk Galih karena ia sedang berusaha untuk menetapkan kembali cinta nya, disamping itu ia ingin suaminya tahu, bahwa dia lah satu-satu nya lelaki yang ia cintai. Nadifa ingin belajar mengusir rasa kecurigaan Galih dengan mengembalikan rasa kepercayaannya kembali.


Nadifa melangkah pelan setelah turun dari mobil, sesekali ia menoleh melihat ke arah kaca gelap pada kendaraan yang mereka tunggangi barusan.


Dilihatnya Nadifa telah berlalu, Galih pun melajukan kembali deru mesin mobilnya. Ia berangkat ke kantor dengan wajah penuh kegembiraan.


"Gue ngutang banyak nih sama si penjahat kelamin!" ucap Galih sambil menahan tawa ia pun menaruh headset ditelinganya untuk menelpon Lukman.

__ADS_1


Hai broh !


Woy broh. Tumben lo pagi-pagi udah telepon gue


Kita ngopi yuk.


Tapi siang, gue ada janji meeting diluar ceman bentaran doang sih.


Dimana? nanti gue nyusul


Oke deh, Glory cafe ya.


Oke...Sip


Galih memutuskan sambungan teleponnya. Bukan hanya ingin mengucapkan tanda terima kasih kepada Lukman, namun ia ingin menanyakan sesuatu hal yang terasa mendesak baginya saat ini.


***


Difa diam tapi ia malas untuk menoleh, hatinya masih sedikit kesal karna ulah istrinya.


Tapi karena dikantor, ia adalah atasannya. Maka Nadifa harus tetap bersikap profesional. "Hey Pak!" Nadifa berbalik arah menatap wajah Malik yang belum sampai menutup langkah untuk berhadapan dengan nya.


"Kamu masih marah ya?" tanya Malik dalam hatinya. Ia hafal betul bagaimana mimik wajah Nadifa dalam bentuk apapun.

__ADS_1


"Gimana kabar kamu? saya senang lihat kamu sudah sehat lagi," Malik memberi ucapan perhatian layaknya teman kebanyakan.


"Baik, iya. Makasih," padat, singkat dan jelas. Ia tidak mau terlalu baik sekarang-sekarang dengan Malik. Bukan karna masalah dengan Galih, tetapi ia hanya menjaga-jaga tidak mau lengah jikalau Malik memanfaatkan keadaan untuk mengambil Gifali.


Padahal sesungguhnya Nadifa telah salah besar, ia sudah berprasangka tidak baik. Malik sama sekali tidak mengetahui apa maksud kedatangan Kinanti tempo lalu ke rumah Nadifa. Kinanti terus berdalih untuk menutupinya dari sang suami.


"Difa kenapa?" itulah Malik, ia tidak akan basa-basi untuk membaca setiap kode-kode yang dibuat oleh Nadifa. Ia akan lebih rasional jika langsung ke inti permasalahan.


"Nggak apa-apa!" Nadifa meletakan tas di meja kerjanya. Sikapnya dingin, wajahnya tidak ia izinkan untuk menoleh ke arah Malik. Ia tidak mau luluh lagi, sungguh hubungan mereka dulu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal dan telah menyisakan segala kecurigaan di mata Galih.


Malik tidak bisa memaksa, ia merasa tidak punya andil lebih untuk menanyakan mengapa dengan sikap wanita ini kepadanya. Bagaimanpun ia adalah suami yang telah berjanji kepada istrinya, untuk bisa menjauh dari bayang-bayang Nadifa.


Mereka akan butuh waktu !


Malik pun kembali berlalu menuju ruangannya, membawa segala tanya yang kini berkecamuk dalam otaknya.


Kenapa dengan sang mantan kekasih, sikap apalagi yang telah dibuatnya menjadikan Nadifa sebegitu benci tidak mau menatap.


Nadifa menarik nafas nya dalam-dalam lalu menghembuskan nya keluar. Ia harus bisa bernego dengan batin nya. Berjanji tidak akan ada lelaki lain masuk ke dalam hati, jiwa dan difikirannya.


Cinta nya hanya boleh untuk Galih ! pasangan Sah nya.


***

__ADS_1


Sebelum part ini tuh ada PART skidip papap nya Mamah Difa sama Papah Galih yang udah beberapa jam masih direview sama Mangatoon..jadi maaf ajah kalo terbitnya pas lagi jam-jam puasa..bisa diskip ajah🤭🤭 dan nggak tau nih, yang bakal keluar duluan part ini atau part yang sebelumnya.


Like dan Vote ya..boleh tinggalin komen kalian...lancar ibadah puasanya guys🖤


__ADS_2