
Malik yang sedari tadi gelisah dalam duduknya juga tidak fokus dalam menatap layar komputer tertangkap di pandangan Nadifa. Ia pun tidak tahan ingin menjelaskan semua ini. Ya..dirinya rindu dengan Malik.
Lalu ia menyusun beberapa file yang sudah ia print rapih untuk dibawa ke ruangan Malik.
tok..tok..tok..Nadifa mengetuk pintu ruangan Malik. Malik pun berdiri langsung menyambut Nadifa dengan baik diselimuti perasaan tidak enak. Mereka tetap bersikap sewajarnya seperti karyawan lain.
Nadifa duduk di bangku meja Malik, Malik pun kembali duduk di tempatnya.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi denganmu !" Perintah Malik dengan wajah tidak santai.
Nadifa menghela nafasnya dengan amat sangat panjang dengan wajah yang masih lemas dan pucat.
"Mengapa tidak membalas pesanku, tidak mengabariku, kamu melanggar janji mu," Malik berbicara terus mengeluarkan unek-unek dihatinya.
"Mendapat kecelakaan seperti itu pun kamu tidak memberi tahu aku, kamu mau menjauh dari ku ?" Malik terus mengeluarkan kata-kata tuduhanya membuat Nadifa tidak ada kesempatan untuk menjawab.
__ADS_1
Malik pun terdiam terus melihati perban yang menempel di dahi Nadifa.
"Maafkan atas semua ini, aku meminta maaf atas kekhawatiranmu ini kepadaku, sungguh dua hari sangatlah berat. aku terus memikirkanmu," Nadifa berbicara sangat dalam.
"Sesampai kantor suamiku dan menikmati acara, aku lupa membawa HP yang ku tinggal di dalam tas, Ketika aku hendak kembali ke dalam ruangan untuk mengambilnya aku terpeleset jatuh dan terbentur pintu, kata mereka aku pingsan tidak sadarkan diri"
Malik terus mendengarkan cerita Nadifa dengan fokus matanya terus menatap serius.
"Sesampainya dirumah, aku masih lemas untuk bergerak dan langsung tertidur karena reaksi obat, pada saat pagi nya aku mencoba membuka HP yang sudah mati karna lowbet..dan chargernya pun rusak tidak bisa terpakai, ya sudah aku tidak bisa berbuat apa-apa, apa yang kamu takutkan itu tidak benar adanya sayang..," Nadifa menjelaskan dengan lembut, Jiwa Malik pun kembali teduh dan terasa plong dibagian dada nya.
" Aku sangat rindu kamu..sayang," Malik menatap Nadifa penuh kerinduan.
" Aku juga, aku amat sangat rindu kamu,makanya aku belakan masuk kerja hanya untuk lihat kamu," Nadifa menjawab diringi senyum yang cantik.
"Kesehatan mu lebih penting, aku akan bersabar menahan rindu walau itu menyakitkan yang penting kamu tetap sehat," ucap Malik sendu.
__ADS_1
"Aku ingin memelukmu ..." Lirih Malik.
" Aku pun sama.. " Nadifa menenangkan Malik.
"Oh iyaa ini berkas yang harus kamu tanda tangani , lusa kan ada rapat lagi dengan Presdir supaya bisa kamu cek dulu jadi aku ada waktu memperbaikinya jika ada revisi,"
"Baiklah sayang..hari ini aku sudah bersemangat lagi, sudah mendapatkan kabar darimu, hatiku tidak sesak lagi. Oh ya ini ambilah Charger punyaku, buat kamu saja. charger kita kan sama, itu pasti cocok ke HP kamu,"
Lalu Nadifa mengambil charger yang diberikan oleh Malik.
"Ingat ya, tidak ada alasan lagi untuk tidak mengabari aku," Perintah Malik.
" Siap sayang...bosku !"Nadifa dan Malik pun tertawa dalam lingkaran cinta terlarang yang sudah mereka buat.
Semua karyawan yang sedang bekerja hanya bisa menafsirkan Nadifa berada diruangan Malik hanya untuk berbicara masalah pekerjaan lain hal dengan Dania yang terus melihati mereka berdua dari jauh dengan perasaan curiga.
__ADS_1