
Matahari siang hari ini entah mengapa tidak seterik hari kemarin, suasananya sedikit agak redup dan udaranya begitu sejuk. Memberi kedamaian psikologis bagi manusia - manusia yang sedang menyembuhkan jiwa-jiwa mereka.
Sesuai kesepakatan tadi pagi, Nadifa dan Malik makan siang diluar bersama, mobil mereka menepi dipinggiran kebun teh, sedikit agak ramai karena banyak yang pedagang yang berjualan dipinggir jalan.
"Pelan-pelan makannya, sayang," ucap Nadifa kepada Malik yang sedang menghabiskan bekal makan siang yang dibawakan olehnya.
"Melihatmu lagi seperti ini, membuat rasa laparku kembali meningkat," Malik memuji.
Nadifa mengelap sudut bibir Malik yang menyisakan beberapa nasi disana dengan sapu tangannya.
"Ayo minum dulu, jangan terlalu cepat makannya, nanti kamu tersedak," Nadifa membukai tutup botol air kemasan lalu memberikannya kepada Malik.
Dibelai-belai rambut Malik dengan teramat sayang dan cinta, perhatian Nadifa akan Malik memang sangat tulus luar biasa.
Nadifa melihati lagi Malik, sampai ia pun melamun dalam bayangannya.
"Hey, Difa ku, kamu mau makan apa ? biar aku yang turun untuk membelikan mu," Malik membangunkan lamunan Nadifa dengan belaian tangan menyisir anak rambut Nadifa.
Nadifa menggeleng ,"Aku tidak lapar, sekarang aku hanya ingin berdua denganmu!"
Malik memberikan senyuman terindah yang ia miliki diwajahnya itu.
__ADS_1
Malik menciumi kedua tangan Nadifa dan ia pun kembali mengusap-usap punggung Malik dengan begitu cinta.
"Kamu tau kan, kalau bulan dan matahari tidak pernah bersama dalam menemani bumi?"
"Ya karena mereka berada di suasana yang berbeda, jika matahari hanya berada di pagi dan siang maka bulan hanya berada di malam,"
"Cerdas ya," Nadifa menyentuh hidung Malik dengan jari.
"Walau dalam perbedaan itu, mereka tetap berdampingan kan? tetap sama-sama menemani bumi dengan baik,"
"Ya, begitulah," Malik tidak terlalu menanggapi hal itu, ia hanya kembali asik memainkan rambut Nadifa.
"Begitu pun cinta, walau dua hati tidak bisa saling memiliki tapi setidaknya si pemilik hati tetap bisa berdampingan dengan baik,"
"Kenapa kamu jadi puitis begini, seperti penyair, aku jadi rindu ketika malam, kita saling berkirim puisi untuk mengantar tidur,"
Nadifa tersenyum mendengar itu, ia memejamkan matanya sebentar, menarik nafasnya dari dalam lalu menghembuskan nya ke luar.
"Aku mau cerita ke kamu," ucap Malik membangunkan Nadifa untuk membuka matanya kembali.
"Baik, aku dengarkan,"
__ADS_1
Malik mulai menceritakan apa yang dimimpikan oleh istrinya itu, Malik merasa istrinya mengetahui tentang hubungan ini.
Jantung hati Nadifa berdebar, mungkin ini adalah salah satu firasat yang didatangkan oleh Tuhan kepada Kinanti.
"Memang ini harus dihentikan," balas Nadifa pelan.
"Maksudnya?" Malik menyengitkan dahinya, ia tampak bingung dengan kalimat itu.
"Sudah sebaiknya hubungan ini kita kembalikan ke posisi sebenarnya!"
Malik menatapi Nadifa dalam-dalam mendengarkan sekata demi kata yang keluar saat ini.
"Hubungan seperti ini tidak akan ada titik ujungnya, hanya sesak menahan rindu, tidak bisa bersama disetiap waktu, menahan sakit karena saling cemburu,"
Malik terus mendengarkan apa yang terus keluar dari mulut Nadifa.
"Kebahagiaan Pak Malik adalah segalanya untuk Nadifa."
Malik merasa bingung dengan arah ucapan Nadifa, ia seperti merubah ini dengan cepat. Tidak pernah sekalipun sedang bersama ia mengubah panggilan untuk Malik.
Menyebut nama dengan menggunakan kata Pak, selalu hanya digunakan saat mereka dikantor atau sedang bersama dengan karyawan lain, namun jika sedang berdua Nadifa akan selalu berbicara lembu dengan menggunakan kata sayang..
__ADS_1
Hayy guyss...maafin nih rada bawel ingetin terus kalian buat Like dan Coment...aku sih enggak minta banyak..cuman pengen tauu respon kalian tentang cerita ini...krktik dan sarannya ya...tengkyu🖤🖤🖤