
"Mas?!" Ucap Nadifa sambil bangkit mengangkat tubuhnya sedikit untuk disenderkan di sandaran tempat tidur, sambil menaikan selimut untuk menutupi dada nya yang polos karna ulah Galih beberapa belas menit yang lalu.
Galih memanfaatkan waktu tidurnya Gifali, untuk mengajak Istrinya berolahraga di atas ranjang dengannya, lebih awal dimalam ini.
"Hmmm," Galih menunggu apa yang ingin istrinya bicarakan, sorotan matanya tetap ke dalam layar Ipad.
"Aku masih takut sebenarnya ngurus Gifali," Nadifa berhenti sebentar untuk mengambil nafas ,"Aku takut enggak bisa jaga dan didik dia dengan baik," mata Nadifa sejurus melihati jendela kamar yang masih belum tertutup rapat, membuat suatu suara geprakan sedikit terdengar karna gesekan angin dan jendela.
Galih menoleh, menghentikan tatapannya yang sedari tadi terfokus melihati Ipadnya. Tangannya diulurkan untuk mengelus anak pucuk rambut istrinya yang sudah berantakan sedari tadi, karna pergulatan cinta mereka.
"Aku juga awalnya ada perasaan kaya kamu, tapi kalo liat orang-orang lain bisa buat didik dan jagain anak mereka, kenapa kita enggak?" Galih memberikan semangat untuk Nadifa.
"Aku aja masih takut-takut buat mandiin dia, aku juga masih bingung kalau liat dia nangis," Nadifa merintih peluh.
Dirinya baru menyadari bagaimana letihnya menjadi seorang ibu. Keinginannya yang selalu tercurah dalam doa ketika bersimpuh memeluk Illahi.
"Awal dulu nikahin kamu juga aku masih ngerasa gelisah dan cemas, takut enggak bisa nafkahin kamu, bahagiain kamu, dan didik kamu jadi istri yang baik. Tapi sepanjang perjalan menikah, fikiran itu sirna dengan sendirinya, walau ya--," Galih memberi jeda sebentar," Kamu jadi sempat salah arah, karna sikap ku juga, mungkin aku yang kurang tegas sama kamu," Galih mengungkapkan cerita panjang yang masih hadir didalam benaknya. Ia akan selalu teringat dengan kisah Istrinya dengan Malik.
__ADS_1
"Udah ah, kita kan udah sepakat enggak mau bahas itu lagi. Kamu tuh sebenarnya udah ikhlas belum sih maafin aku!" Nadifa berdecak kesal, lalu ia merentangkan tubuhnya menatap lampu yang kini tengah menyoroti mereka berdua dengan kilauan cahayanya.
"Aku udah maafin kamu kok, demi Allah. Tapi ya kan, aku harus terus selalu ingetin kamu, biar kamu enggak ngulangin hal itu lagi." Galih mencium bahu Nadifa yang masih polos tanpa penutup.
"Dan aku juga akan selalu ingatin kamu, biar enggak terjebak lagi untuk ngelakuin pernikahan ke tiga... ke lima..ke tujuh..maupun ke sepuluh,"
Galih tertawa terbahak-bahak.
"Ih jangan keras-keras Mas, kalo Gifali bangun. Aku akan repot lagi, setengah mati rayu dia untuk mau bobo,"
"Enggak lah, aku kapok banget!" Galih memeluki istrinya dengan manja, sambil terus menggesek-gesekan kepala dipipi istrinya.
"Mas?!"
"Dua hari lagi, aku kan harus udah masuk kantor, terus..."
"Ketemu sama Malik?" Galih menyambar cepat sambil meledek.
__ADS_1
"Awwww..sakit ih," Galih mengeluh ketika Nadifa mencubitnya kencang karna ledekannya yang tidak sama sekali lucu.
"Dengerin dong..!" Nadifa menghentikan paksa jari jemari Galih yang sudah mulai mengaduk-ngaduk setiap bagian kulit yang menempel lekat dengan tubuhnya.
"Iya!" Galih berucap tepat di telinga Nadifa, mengeluarkan sensasi udara yang mengembang untuk kembali meningkatkan gairah ditubuh mereka.
"Mas!" Nadifa berdesis kesal, suaranya melengking sedikit, ia geram karna Galih tidak konsen dalam mendengarkan apa yang ingin ia utarakan.
"Kok marah? biasanya kamu diem aja sambil senyum-senyum kalau aku lagi kaya gini," Galih terus menggerakan tangannya untuk menyusuri likak-likuk tubuh Nadifa yang ingin ia pijaki.
"Mas, aku tuh serius !" Nadifa kembali melengkingkan suaranya.
Melihat istrinya tidak bisa diajak kompromi, ia pun melepaskan pelukannya mencabut permainan jemarinya dan kembali ketempat semula sambil menatapi Ipadnya lagi.
"Tuhh kan! jadi males akunya," Nadifa sewot lagi.
"Apalagi sih salah aku, kamu nya aja yang emosian terus bawaanya," Galih kembali menggeser-geser layar Ipad dengan tangannya.
__ADS_1
"Tau ah, aku bete!" Nadifa pun memiringkan tubuhnya membelakangi Galih, ia terus menatapi box bayi yang sedang menopang tubuh Gifali yang sedang tertidur.
Nadifa hanya merasa cemas dan takut jika dirinya belum sebetulnya bisa menjadi Ibu yang baik untuk Gifali, untuk menghadapi kecengengan Gifali yang masih bayi saja ia belum sanggup, bagaimana jika Gifali sudah tumbuh besar dan mengetahui keaslian hubungan mereka. Ini semua betul-betul menguras tenaga dan fikiran Nadifa.