
Kini di kamar.
Kinanti tengah menggendong-gendong Gifali dengan sangat rindu yang membakar dirinya. Ia terus menciumi Gifali diseluruh bagian wajahnya. Nadifa hanya melihati dengan tatapan bahagia sambil duduk ditepi ranjang.
Hatinya begitu tergugah ketika sedang menimang bayi laki-laki. Wajar saja, ia dan Malik hanya diperkenankan memiliki anak perempuan sampai detik ini.
"Dif, makasi ya kamu udah mau rawat Gifali se apik ini. Ia terlihat gendut dan bersih. Kalau ada masalah atau apa pun dengannya, jangan sungkan untuk menghubungi ku ya,"
Kinanti terus menimang-nimang sang keponakan.
"Enggak usah berterima kasih Bunda, ini sudah kewajiban Difa untuk menjaga anak sendiri. Gifali tetap anak Difa sampai kapan pun,"
Jawaban Nadifa semakin menciutkan keinginannya untuk mengambil Gifali menjadi anak ketiga mereka. Dengan sebab itulah Kinanti mengajak Malik bertamu ke rumah ini.
"Kamu juga jangan capek-capek ya, kan lagi hamil muda. Kalau semisal nanti anak kalian sudah lahir dan Gifali jadi susah untuk dirawat, saya dan Malik siap untuk mengurusnya menjadi anak kami,"
Pernyataan Kinanti sontak memberi rasa ketidaksukaan dibenak Nadifa. Ia merasa Kinanti lambat laun akan mengambil Gifali dari sisi nya.
Raut wajahnya seketika mengerut, biasanya jika dalam kondisi normal Nadifa bisa lebih memilih untuk calm down. Tetapi untuk saat ini, ia lebih cepat tersinggung mungkin karna pengaruh hormon kehamilan yang kini telah ia rasakan.
"Sini bun, biar sama Difa aja!" Nadifa mengambil paksa Gifali dari gendongan Kinanti.
Kinanti yang awalnya kaget dengan sikap Nadifa itu, tetap bersikap bijak untuk mendinginkan suasana.
"Maaf Dif, bukan seperti itu maksud ku," Kinanti ikut duduk ditepi ranjang. Mengelus-ngelus punggung Nadifa.
"Difa enggak akan biarin siapa pun ambil Gifali Bun. Walau pun aku dan Gifa tidak mempunyai ikatan darah langsung, tapi Difa sungguh mencintai dan menyayangi anak ini," Nadifa terus mendekap Gifa dengan erat. Air mata nya sudah menggenang di kelopak matanya yang tebal.
__ADS_1
"Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Gifali, secara Gita adalah adik sepupu saya. Saya berhak untuk mengurusi Galih secara penuh,"
"Tapi bunda jangan melupakan, ada yang lebih berhak mengasuh Gifali yaitu Mas Galih. Ayahnya, kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami!"
Mendengar penjelasan Malik sebelumnya bahwa kehamilan Nadifa saat ini sangat lah lemah, ia tidak mau jika perdebatan mereka ini membuat keadaan Nadifa semakin menurun.
"Iya Dif, saya ngerti. Maafkan saya sudah berbicara seperti ini!" Kinanti mencoba untuk mengalah dan tidak ingin memperburuk masalah.
***
"Om Malik mau minum apa?" tanya Galih sembari bangkit dari duduknya menuju dapur.
Malik pun mengikuti Galih sampai ke dapur.
"Apa aja, yang penting jangan racun!" Malik berdecis geli.
Seketika ruang dapur menjadi ramai karna suara riangan berdua.
"Lih, saya ingin bilang sama kamu. Kamu jangan lagi merasa saya ini adalah saingan kamu, karna..."
"Karna umur kita kan berbeda jauh, kenapa harus menjadi saingan ?" potong Galih cepat
"Lih!" Malik ingin Galih untuk fokus mendengarkan nya.
"Saya tidak mempunyai banyak mata untuk mengawasi gerak-gerik Difa setiap hari, selama dia sedang tidak bersama saya." Galih terdiam sejenak ,"Saya hanya bisa berdoa kepada Allah, agar istri saya selalu disadarkan dan tidak mengulangi dosa itu kembali. Sebagaimana saya juga pernah melakukan dosa kepadanya seperti yang sudah anda ketahui!"
"Bersyukurlah ketika kalian berselingkuh yang menjadi pasangan kalian adalah saya dan istri anda. Jika tidak ! tentu anda dan Difa sudah bersama-sama masuk kedalam lembah dosa tak terampuni oleh Allah dan akan kekal didalamnya!"
__ADS_1
"Saya rasa anda pasti sudah faham akan pernyataan saya barusan,"
Galih terus menatapi mata Malik dengan sedikit amarah yang masih menyalah. Suami mana yang akan terima jika istrinya pernah berselingkuh dan masih menjalani hubungan walau hanya sebatas teman kerja, terus bersama didalam kantor dan bertatap muka setiap hari.
"Saya akan pegang teguh janji saya, kisah kami tidak akan pernah terulang kembali. Hanya teman kerja, antara atasan dan bawahan serta sebagai sesama orang tua untuk Gifali,"
"Dan---!" Malik menghentikan kata-katanya ketika melihat Nadifa dan Kinanti sedang menuruni anak tangga.
"Ada apa dengan mereka ? kenapa wajah Nadifa terlihat begitu marah ! apa yang Kinanti lakukan padanya ?" Malik bertanya-tanya seribu pertanyaan kepada dirinya.
"Mau minum apa Bu ?" Galih menawarkan.
"Bunda sepertinya sudah letih, ia ingin pulang saja katanya!" Nadifa menjawab cepat pertanyaan yang bukan ditujukan untuk dirinya.
Wajah Nadifa memerah menahan sesak teramat sangat.
Seketika Kinanti mengerti maksud Nadifa saat ini, Nadifa marah dan dia mengusir Kinanti dengan halus.
Malik hanya memberikan kode mata ke arah istrinya, untuk mengiyakan ucapan Nadifa.
"Baiklah Galih, Difa. Kami permisi pamit pulang dulu."
Kinanti menarik tangan Malik untuk bergegas keluar dari rumah. Galih hanya mematung tidak mengerti. Berbeda dengan Nadifa yang kembali menaiki tangga dengan cepat masuk kedalam kamarnya.
"Sayang?"
Panggilan tersebut tidak digubris oleh Nadifa, ia tetap terus menaiki tangga dengan wajah masih memendam amarah.
__ADS_1