
Oke deh untuk mengobati kerinduan kalian, aku terusin season 2 disini ya.
semoga sukak🖤❤️🖤❤️ keep reading guys
***
Hari ini adalah awal kehidupan baru untuk Nadifa dan Galih. Akhirnya mereka membawa Gifali dari Rumah Sakit, karna sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter Anak disana.
Gifali sempat masuk inkubator 3 hari dan sekarang sudah dinyatakan sehat dan bisa dibawa pulang. Beberapa hari ini mereka memang fokus menyiapkan proses pemakaman serta acara tahlilan untuk Gita.
Nadifa dan Galih telah mendapatkan hak cuti dari kantor masing-masing.
Klekkkkk !!
Galih menggerakan handle pintu utama dan membukanya. Ia berdiri diambang pintu terus melihati sekeliling dalam rumah, mengingat tidak akan lagi menemui sosok Gita yang sekarang sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Mas, ayo masuk. Ini dedeknya kasian!" ucap Nadifa dibelakangnya sambil menggendong Gifali dengan kain gendongan yang melilit di pundak dan dada. Kain gendongan yang kini dipakainya pun adalah hadiah pengantar pulang dari Rumah Sakit.
Nadifa terlihat sangat kaku ! sangat🤭
__ADS_1
"Ayo," Galih memundurkan langkahnya untuk sejajar dengan tubuh Nadifa lalu merangkulnya untuk membawa mereka kedalam.
Selama kehamilan, Gita belum sempat membeli segala kebutuhan untuk bayinya yang akan lahir, dia merasa tidak enak jika menyuruh Galih untuk menemaninya belanja, mengingat keadaan Galih yang sedang frustasi dirundung lara karna Nadifa meninggalinya berbulan-bulan.
"Kenapa sih kalian kemarin-kemarin, enggak nyiapain dulu buat perlengkapannya Gifali, kasian nih dia. Bahkan baju buat ganti nanti sore aja, kita enggak punya!" Nadifa bersiap melepaskan gendongan dan meletakan Gifali yang sedang terlelap diatas ranjang tidur mereka.
"H---hati-hati yang," Galih melihati Nadifa dengan sangat cemas. Ia takut ada tubuh anaknya yang terkilir.
"Jangan Panik ih, aku juga jadi ke ikutan panik nih!" Nadifa berdecak kesal.
Ia memang masih gugup memegang tubuh bayi mungil ini yang masih memerah di kedua pipinya. Namun ia terus mengingat-ngingat ketika Perawat RS mengajarinya untuk menggendong dan meletakan bayi dengan benar.
"Pas lagi ngebuatnya juga, enggak mikir yah ?" Nadifa sedikit agak sewot.
"Kalau liat kamu marah gini, kamu jadi HOT deh, mumpung Gifali lagi bobok. Gimana kalau kita nyicil bikin dedek buat Gifali,"
Galih menggoda, lalu menyergap dan memeluk tubuh Nadifa dari belakang lalu menciumi bahu istrinya itu.
"Ihhhh...enggak ah Mas. Aku capek!" Nadifa melepaskan tubuhnya dari pelukan sang suami.
__ADS_1
"Jahat ih kamu, engga boleh nolak suami. Nanti kamu dosa, kena azab! terus ada filmya "Istri tersedak sepatu karna menolak suami" Galih meledek tetap semakin meringkuki tubuh Nadifa.
"Jangan sekarang ya Mas, nanti malam kan bisa," Nadifa mengelus tangan suaminya dengan lembut yang kini tengah memeluk perut nya dari belakang.
"Sekarang aja, bentaran." Galih terus meminta dan memaksa. Terus menciumi tengkuk Nadifa. Membuat sang istri menjadi geli dan bergeliat seperti ulat bulu.
Nadifa pun melepaskan cengkraman itu,"Enggak ah Mas! kita kan harus keluar beli susu, pampers dan kebutuhan yang lain untuk Gifali, nanti kalo dia bangun terus haus kan kasian. Aku kan engga bisa su-su-in!" Nadifa membalikan tubuhnya lau menatap mata suaminya untuk memohon segala pengertian.
Mendengar kalimat terakhir, membuat Galih menurunkan pandangannya ke arah dada kepemilikan Nadifa yang masih kenyal dan kencang, ia seperti tersengat listrik akan kemuannya yang sedang memuncak, dengan gerakan cepat Galih memeluknya lagi Istrinya dengan erat.
"Yaudah kalo gitu, sekarang su-su-in aja dulu bapaknya!" Galih menjatuhkan tubuh Nadifa di ranjang.
"Ihhhhhh....Massss!"
Teriakan Nadifa mengaung kencang dilangit-langit kamar mereka. Begitulah Galih jika sudah ingin, siapa yang bisa menghentikannya. Suara keras karna perlhelatan mereka akhirnya padam berganti saling erangan lalu diam, hening dan hangat.
Semoga makin sukak sama kisah mereka🖤
Jangan lupa LIKE, VOTE, RATING dan KOMEN Ya...happy fasting💕💖
__ADS_1