Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Mimpi


__ADS_3

Suasana hening masih mencekam di rumah ini, hanya tatapan diam di pandangan Galih dan Gita mereka hanya melihati jari-jemari Nadifa yang lihai ketika menyiapkan makanan yang sudah tersaji di meja makan.


Menuangkan nasi di piring lalu melengkapinya dengan lauk dan sayur memberikanya kepada Galih seperti biasa, menuangkan air putih digelas biasa milik Galih.


"Mau aku ambilkan, Mba?" Nadifa membangunkan lamunan Gita yang sedari tadi melihatinya melayani Galih dengan sempurna, ia menawari untuk mengambilkan nasi dan lauk.


"Enggak usah, Dif," Gita senyum tipis lalu menuangkan nasi ke piringnya sendiri.


"Enak sekali sayang, terima kasih,"


Seperti biasa Galih selalu memuji masakan istrinya setiap hari, tentu ini akan meningkatkan gairah istri untuk selalu mau masak dan disamping itu masakan Nadifa memang enak.


"Betul memang, masakan Difa enak sekali," batin Gita.


Nadifa mengupasi beberapa buah seperti apel dan jeruk, yang ia letakan di dua piring yaitu untuk Galih dan Gita.


"Makan lah dulu, sayang," ajak Galih untuk menyuruh istrinya berhenti melakukan apa apun kecuali makan saat ini.


Nadifa mengangguk dan menuangkan nasi di piringnya.


"Ini," Galih meletakan kulit ayam kesukaan Nadifa dipiring istrinya itu, sontak perasaan Gita tercabik-cabik akan itu.

__ADS_1


Lalu Nadifa menyendoki sayur lagi di piring Gita," Harus banyak makan sayur ya, Mba, biar anaknya sehat nanti"


Gita terperangah dan Galih terus mengunyah sambil menatap wajah Nadifa.


"Apakah ini benar Difa? istri ku ? terbuat dari apa hatimu, sayang," Galih merintih dalam hatinya.


Sejak dirumah Gita, Galih tidak berucap sepatah kata pun kepada Gita, mereka begitu asing walau saat ini duduk bersebelahan.


Gita tidak berani merengek apapun lagi saat ini, ia telan sendiri bagaimana dinginnya sang suami yang memang tidak pernah menginginkan dirinya dari dulu.


Nadifa pun kembali kedalam dapur dan muncul lagi ke hadapan mereka dengan membawa segelas susu cokelat untuk Gita.


"Ini memang bukan susu hamil, hanya susu biasa. Besok aku akan ke supermarket untuk membelinya, sekarang minum saja dulu ini,"


Setelah selesai makan malam, Galih bangkit dan kembali ke ruangan kerjanya, memang sedari sampai dirumah ia belum menginjakan kaki di kamarnya.


Gita ikut membantu membereskan piring-piring di meja makan, meletakkanya di wastafel cuci piring.


"Biar aku aja yang cuci, Dif," pinta Gita.


"Baiklah, Mba. Aku tinggal dulu," Nadifa pun berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


Nadifa berjalan menaiki tangga untuk masuk kedalam kamarnya, yang saat ini sudah ia hempas untuk tidak ditempatinya lagi.


Mengeluarkan beberapa baju tidur dan baju kerja serta beberapa barang yang ia butuhkan untuk dipindahkan ke kamar tamu dilantai bawah.


*****


Malik masih berdiri ditaman belakang menikmati indahnya malam, hatinya lega dan nafasnya kembali lancar.


Ia senyum-senyum sendiri sambil melihati bintang di langit.


Tiba-tiba ada dua tangan yang menyelinap masuk kebawah lengannya dan berhenti di atas perut Malik, ada yang menyandsarkan kepala dipunggungnya kini.


"Ayah," panggil Kinanti manja. Malik menikmati itu sambil mengelus-elus tangan istrinya yang sedang memeluk.


"Bunda mimpiin Ayah kemarin malam,"


"Mimpi apa ?" Malik menyengitkan dahinya sehingga menjadi lipatan yang tidak berarah.


Kinanti terdiam sebentar sambil menelan ludahnya,"Bunda mimpi, Ayah sedang mesra-mesraan bersama Nadifa dikantor,"


Kinanti makin memeluk suaminya dengan erat.

__ADS_1


Malik kaget dan bibir sedikit menganga, matanya terbelalak dan detak jantungnya bergemuruh hebat.


__ADS_2