Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Pasca Perpisahan


__ADS_3

Nadifa kembali fokus mengerjakan pekerjaanya kembali, ia harus bisa dan terbiasa bersahabat dengan keadaan yang baru ini, tanpa Malik lagi disampingnya, tanpa semangat-semangat yang diiringi oleh cinta fatamorgana mereka.


Sama halnya dengan Malik kini, ia terus menatap layar komputernya, memainkan jari jemarinya diatas keyboard dan mouse.


Hati mereka sangat lah hancur, sesakan dada masih terasa disana, sesekali diingatkan oleh bayang-bayang aktivitas cinta yang mereka lakukan setiap hari selama 7 bulan.


Nadifa sudah menepis bayangan itu, namun semakin kuat dan semakin merasuk, menghujam jantung dan hati nya.


"Biarlah aku aja yang sakit, kamu jangan!" Nadifa menoleh melihati Malik yang masih melihati layar komputer.


"Raga itu tak akan lagi bisa ku raih, cinta nya tak kan bisa lagi ku nikmati," Nadifa terus berbisik mengeluh ke dalam dirinya sendiri.


Dania menoleh ke arah Nadifa, memberikan video lucu di sosmed nya, Nadifa pun tertawa karna terhibur.


"Bahkan dihari keputusan kita, kamu enggak kelihatan sedih sama sekali, ku ucapkan selamat buat kamu!" batin Malik yang tanpa sengaja menoleh ke arah Nadifa yang sedang tertawa terpingkal-pingkal bersama Dania.

__ADS_1


Tubuh Malik terasa hangat dan lemas, fikirannya kacau tidak berarah, ia terbayang-bayang akan Nadifa disisinya, membelainya, menciumnya dan selalu bertengger didada ketika didalam mobil seperjalanan pulang kerja.


Nadifa pun kembali memusatkan kedua matanya ke beberapa laporan kembali.


"Aduh, harus ke dia lagi untuk minta tanda tangan," Nadifa mengeluh.


Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruangan kerja Malik. Menggeser pintu dan masuk kedalam.


Malik yang tau bahwa Nadifa yang datang, langsung menguatkan dirinya, menutup rasa sedih di wajahnya untuk berusaha terlihat sudah melupakan antara dia dan Nadifa.


Panggilan Pak dan kata saya, adalah suatu kata yang amat menyakitkan bagi mereka saat ini, begitu pilu nya dengan cepat merombak habis kebersamaan yang selalu diraih setiap hari.


"Ini," Malik menyodorkan kembali ke tangan Nadifa tanpa mata ingin menatap dan kembali ke layar komputer.


"Aku sama sekali enggak ngebayangin, akan sesakit ini diperlakukan dingin sama kamu," batin Nadifa lirih.

__ADS_1


"Baik Pak, terima kasih," Nadifa berlalu dari ruangan membawa sejuta kenangan yang masih kuat tidak mau lepas.


"Dia yang selalu memanggilku dengan kasih dan sayang, memberiku tatapan cinta setiap hari, menggenggam tangan ku setiap hari, inikah kamu dengan ke aslian mu Nadifa!" Malik memelas.


Malik amat sakit dan Nadifa ingin menjerit. Ingin ia peluk dan hancurkan kesepakatan yang barusan mereka ucapkan, tetapi mereka tidak mempunyai wewenang untuk itu. Mereka sadar, kehancuran seperti ini sudah sepantasnya mereka terima.


10 menit kemudian, Malik keluar dari ruangan menuju pintu utama melewati meja Nadifa dan Dania, ia hanya lewat biasa tanpa harus menoleh atau memberi kode kemana arah kepergiannya.


"Bahkan saat ini, aku sudah tidak tau lagi apa saja aktivitas mu sekarang," gumam Nadifa menahan air mata yang menggenang dikelopak matanya. Ia ingin menangis namun ia urungkan.


Dania menangkap semua kejadian ini dengan amat pilu, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Nadifa langsung memeluk.


Nadifa membalas masuk kedalam dekapan sahabatnya ini, Nadifa hanya melirih tanpa menangis, jika menangis tentu semua orang yang ada diruangan ini akan berpusat pada nya.


"Bahkan dia sudah tidak perduli aku mau kemana, bersikap acuh seperti karyawan yang lain, dimana cinta yang selalu kau ucapakan, hey..Nadifa !" kata Malik dalam hatinya dan terus melangkah pergi meninggalkan ruangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2