Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Nadifa menangis


__ADS_3

Jam pulang kantor pun tiba, seluruh karyawan berhamburan untuk kembali pulang kerumah, terlihat Nadifa yang berjalan sedikit dipapah oleh Dania pintu lobby utama menunggu mobil Malik muncul dari basement.


"Hati-hati dijalan ya," Dania menasehati terus menemani langkah Nadifa yang sekarang sedang berjalan menuju mobil Malik yang sudan tiba dihadapan mereka.


"mba Dania terima kasih banyak ya, mba juga hati-hati dijalan ," Nadifa duduk disamping kemudi, mobil Malik.


"Kita duluan ya Dania ," Malik pun melajukan mobilnya dengan pelan.


Mereka pun meninggalkan kantor seketika.


"Apakah masih sakit kaki mu?" Malik membuka suara terlebih dahulu karena sudah 5 menit Nadifa hanya diam menatap jalan.


"Sudah enakan ," balasnya singkat. Malik tau sepertinya Nadifa sedang tidak mood, ia tidak mau memperburuk suasana untuk melampiaskan kekesalannya karena sikap Fajar tadi.


"Aku ingin kamu bersikap normal di kantor ," ucap Nadifa tanpa menoleh ke arah Malik.


" Normal ? bagaimana maksudnya ?" Malik tidak faham.


"Fajar itu bukan lawan kamu, kita juga tidak boleh terlihat begitu dekat dan perhatian di kantor, sikap kamu yang begitu posesif padaku bisa menjadi gosip dikantor ," Nadifa menjelaskan dengan lugas dan tertata.

__ADS_1


Malik menelan ludahnya yang kini seperti berkumpul didalam rongga mulutnya, entah mengapa dirinya sepertinya ia tidak ada keberanian untuk membantah, seketika ia takut dengan sikap Nadifa yang tegas seperti ini.


"Maafkan aku ," Malik kehabisan kata.


"Cemburu itu wajar, tapi kita harus bisa berfikir dengan logika ," Nadifa membuka mata Malik lebih dalam.


"Mba Dania tadi mempertanyakan sikap kamu yang tidak bersahabat dengan Fajar , kamu berbeda dari yang biasanya. Aku tidak mau simpati orang kepadamu berubah hanya karena cemburu mu yang tidak bisa dikontrol ,"


"Cemburu itu kan ada karena ada rasa sayang dibaliknya ," balas Malik mulai membela dirinya secara perlahan.


"Aku faham akan hal itu , tapi kecemburuan yang tidak dapat dikontrol bisa menyebabkan kita dalam masalah besar ,"


"Ya, betul..hubungan ini !" Nadifa membetulkan ucapan Malik, air matanya pun menggenangi kedua pelopak matanya.


Melihat pandangan itu, Malik langsung menepikan mobilnya dipinggir jalan, ia ingin menenangi Nadifa.


"Sudah Sayang..maafkan atas semua sikap ku ini ya, aku sudah berlebihan ," Malik mendekati Nadifa dan merangkulnya denga amat sayang, mengelap air mata yang nyaris turun membasahi pipi mulus Nadifa.


"Yang sedang aku fikirkan saat ini adalah, bagaimana jika aku akan kehilangan kamu , kehilangan hubungan yang seharusnya memang tidak boleh ada , aku selalu merasa bersalah jika mengingat rumah tangga kita masing-masing, aku menyakiti istrimu, anakmu dan suamiku....," Nadifa menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Aku pun sama sayang, itu adalah beban teramat sulit untuk aku pikul saat ini , tapi aku mencintaimu....teramat sangat ," Malik merekatkan lagi pelukannya untuk Nadifa, berkali-kali ia menciumi dahi sang pujaan hati.


Nadifa teris menangis tanpa henti, ia meluapkan segala ketakutan dan kegelisahanya kepada Malik, ia tulus dengan lelaki ini ya...dia mencintainya.


"Jalani saja dulu , kita ikuti saja alurnya, kita tidak akan pernah saling menyakiti, aku menyayangimu ," Malik menguatkan Nadifa, mengelus-elus lengan nya , lalu mencium bibir Nadifa dengan lembut.


"Kamu mau makan lagi tidak ?" ucap Malik menawarkan.


"Aku masih kenyang, kita pulang saja ya. Aku mau istirahat dirumah, kamu juga harus istirahat ," Nadifa menolak tawaran itu.


"Baiklah sayang , hapuslah air matamu..!" Malik kembali ke pada posisinya dikursi kemudi, ia kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Nadifa.


Nadifa yang sudah baikan hatinya karena lepas dalam menangis kini sudah bertengger dibawah lengan Malik, memeluk dada nya.


Malik teris fokus mengemudi dan sesekali menciumi pucuk rambut wanita itu.


"Tidurlah dulu didada ini, kamu akan tenang, jika sudah sampai nanti aku banguni atau kita bisa pergi ke tempat sepi dan kosong," ucap Malik tertawa.


"Husssss !" Nadifa mencubit perut Malik dengan pelan. Mereka pun tertawa lepas setelah mengeluarkan segala ketakutan-ketakutan yang selalu membayangi mereka.

__ADS_1


__ADS_2