
Sebenarnya mau dikeluarin besok, tapi engga apa-apa deh bonus buat kalian🖤🖤 Aku sayang kalian🖤❤️ lancar yah ibadah puasanya.
****
Nadifa akhirnya membuka mata nya dengan kasar, tatapannya sejurus melihat Galih yang sedang berada didepan wajahnya, ia terus bersuara memanggil-manggil menyadarkan dan memegangi kedua lengan Nadifa dengan erat, seraya membangunkan jin-jin yang telah merasuki diri istrinya.
Bola mata Nadifa bergerak kesana kemari, melihati pemandangan kamar yang masih rapih seperti biasa. Melihat box bayi Gifali masih tetap dalam posisinya.
"Alhamdulillah Ya Allah, cuma mimpi," Nadifa menghela nafasnya berkali-kali. Ia tidak percaya akan bermimpi seperti itu. Mimpi paling seram yang pernah ia mimpikan.
"Apakah ini pertanda ya?" batinya memanggil.
"Makanya baca doa dulu kalo mau tidur," Galih melepas cengkramannya dan beralih mengambir air digelas yang berada di nakas belum sempat menyodorkannya.
Rasa mual pun kembali melanda," Minggir Mas, aku mau muntah!" Nadifa bangkit, berlari menuju kamar mandi. Ia terus memuntahkan semua isi perutnya, walau hanya cairan bening yang ada disana.
"Ayo terus keluarin," Galih membimbing Nadifa, sambil memijit-mijit leher belakang agar dapat memuntahkan semua, hingga terasa plong.
Air keran di nyalahkan lagi, kedua tangannya menangkup air dan memasukannya kedalam mulut. Nadifa tersengal-sengal, terus saja memegangi perutnya yang masih belum lega.
__ADS_1
Kejadian ini terus saja terjadi sampai pagi, Nadifa mondar-mandir masuk ke kamar mandi dengan rasa mual dan muntah. Beda dengan Galih yang sudah tidak bisa melawan rasa kantuk, ia pun tertidur dengan pulas meninggalkan istrinya yang masih wara wiri.
Beruntunglah Nadifa, malam ini tidak terganggu dengan tangisan Gifali. Bisa mati konyol dia, jika semua ini berbarengan semalaman.
Nadifa duduk ditepi ranjang melihati suaminya dan bergantian ke arah anak mereka.
"Jangan berikan aku penyakit yang macam-macam Ya Allah, kasian suami dan anakku," Nadifa merintih sedih. Ia terus memucat, lemah dan tidak berdaya.
"Jagalah suamiku Ya Allah, lindungi dia dari marabahaya yang akan menjerat nya, maafkan lah kesalahanku dulu kepadanya, aamiin." Nadifa terus membelai-belai suaminya, mengecup pipinya dengan amat sayang. Ia menepis segala bayang-bayang yang terisa dari mimpi nya barusan.
****
"Dari tadi bolak-balik kamar mandi Pak, muntah-muntah."
"Sakit dia ?" tanya Malik cemas. Ia seketika tidak konsen menjalani rapat karna Nadifa tidak berada disampingnya.
Malik terus menoleh ke ambang pintu, menunggu datangnya Nadifa dari luar, namun setelah setengah jam rapat berjalan, wanita yang ditunggu tidak kunjung datang.
"Permisi, saya keluar sebentar," Malik menyeka semua pandangan yang sedang fokus mengikuti rapat menjadi beralih kepadanya.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak perduli akan hal itu, ia pun bangkit dari kursi, berjalan menuju keluar ruangan rapat. Dania melihati sikap Malik yang tidak biasa.Ia tau Malik akan pergi kemana.
Walau pernah bersama memadu kasih dan mengakhiri dengan perpisahan, namun saat ini mereka adalah keluarga, partner kerja dan sahabat, tentu Malu tidak akan tinggal diam.
Malik cemas, khawatir dan terus memikirkan Nadifa tidak henti-henti. Ia takut Nadifa pingsan atau tidak sadarkan diri di toilet. Ia terus berjalan menyusuri lorong untuk mencapai tempat itu dan mendapati Nadifa agar baik-baik saja.
Seketika nafasnya lega ketika mendapati Nadifa yang baru saja keluar dari toilet, wanita itu memberikan senyum kepadanya dari jarak 5 meter.
Kini Malik merasa dadanya sudah plong dari kecemasan. Namun ternyata ia salah.
Ia terperangah kaget, dirinya terkejut ketika melihat ada cairan darah mengalir di kedua betis Nadifa.
Malik terus menatap tajam, melihati darah yang bercecer disana. Nadifa terus berjalan ke arahnya tanpa menyadari apa yang terjadi kini dengan tubuhnya.
"Difa?!" Malik dengan cepat berlari ke arahnya.
aku ucapin bagi kalian yang udah Vote aku, aku seneng liat ranking ku yang sekarang. makasi banyak yah para kesayangan🖤🖤Like yah bagi yang mau🖤🖤
thankyou❤️
__ADS_1