
Malik seperti terdiam sejenak, yah dia sedang berfikir untuk mencari jawaban itu. Nadifa yang mengerti akan hal itu, langsung meminta ijin kepada Malik untuk bantu menjawab pertanyaan tersebut, Malik pun mengangguk tanda setuju.
"Waalaikumsallam wr wb , maaf disini saya akan membantu menjawab pertanyaan dari bapak mengenai bagaimana cara untuk merealisasikan 20% yang belum dapat ter up dengan baik , sesuai dengan pemikiran kami dari divisi keuangan tentu semua yang menjadi keuntungan dan kerugian adalah prioritas kita bersama sebagai karyawan perusahaan, saling bahu-membahu menjadi marketer di rumah sendiri itu adalah point pertama, yang kedua adalah dari Divisi Marketing bisa turun ke pasar distribusi penjualan apakah yang terjadi disana, contoh apakah ada penjualan yang sama kualitasnya dengan kita namun cukup menarik perhatian sehingga menjadikan para konsumen dapat beralih dengan cepat, lalu dari Bagian produksi pun tetap mempertahankan kualitas barang yang akan dipasarkan, menjaga bentuk, rasa dan higienis an barang ini, jika semua Divisi bisa bekerja sama dengan baik, insya allah 200% omset keuntungan sekalipun, perusahaan bisa mendapatkannya ,"
Nadifa mentuturkan ide cemerlangnya didepan semua orang. Malik dan Dania hanya menganga tidak percaya akan kecerdasan Nadifa itu, terlihat bapak Wijaya, Presdir Darma Group sampai berdiri memberikan tepuk tangan yang meriah yang akhirnya diikuti oleh semua orang yang ikut menyaksikan pemaparan Nadifa.
Fanar pun tidak kalah sangat ekspektasi dengan apa yang barusan keluar dari mulut Nadifa.
"Saya sangat bangga mempunyai karyawan yang pemikirannya sangat orisinil dan fresh, bisa membuat suatu ide untuk mencakup semua wilayah, pak Malik harus bersyukur sekali ada Nadifa di divisi bapak ," Bapak Wijaya memuji mereka.
Malik mengangguk dengan baik, ia amat senang dengan apa yang Nadifa bicarakan, seketika apa yang terjadi saat ini telah melupakan rasa cemburu yang sedang membara di keduanya.
__ADS_1
"Cerdas sekali Nadif, aku tidak menyangka dia mempunyai keberanian dapat menuturkan ide tersebut dan berbicara sangat lantang dan lugas didepan semua orang, pantas saja jika Pak Malik memberi ia perhatian lebih, ya..dia memang pantas mendapatkannya, aku bangga padanya ," batin Dania terus tersenyum melihati Nadifa.
Rapat pun terus berjalan secara bergantian dari berbagai laporan dari setiap Divisi, setiap diakhir presentasi akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang akan mencuat menciptakan energi-energi baru.
"Makasi sayang ..." Bisik Malik ditelinga Nadifa dengan amat pelan, Nadifa hanya tersenyum dan mengangguk pelan dengan mata terus tertuju melihati Fajar dan ibu Sarah yang sedang ada didepan podium untuk mempresentasikan laporan kerja mereka.
Dari kursinya , pandangan Malik ke arah Fajar sangat tidak bersahabat, ia merasa ada hal aneh yang tersembunyi dari Fajar untuk Nadifa.
"Loh, kenapa ?"
"Sepertinya dia ingin kamu , bilang padanya kamu sudah menikah dan bersuami ,"
__ADS_1
"Kenapa harus bilang ?"
Malik menoleh dengan cepat dan melihati wajah tidak suka.
"Kamu harus bilang , biar dia tidak genit lagi kepada istri orang, maklum dia itu sudah duda ,"
hei...apa kabar dengan kamu Malik..!!
"Lalu bagaimana dengan kamu ?" Nadifa agak meninggikan suaranya tapi masih dalam batas pelan.
" loh, kenapa dengan aku ?" Malik masih belum sadar dengan kecemburuannya itu yang secara tidak langsung menyindir dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kamu mencintai dan leluasa mencium istri orang lain yaitu Aku , sedangkan Fajar, ia tidak ada hubungan apa-apa dengan ku ," ucap Nadifa tegas.