
"Difa enggak boleh stress kaya gitu, harus tetap berfikir positif. Enggak ada yang bisa ambil Gifali dari kamu," Dania menenangkan hati Nadifa. Dania merasa tidak habis fikir dengan tujuan Kinanti yang seperti ini.
"Ingat ! enggak ada yang akan ngambil Gifali dari kamu dan juga Galih," Dania kembali mengucapkan kata-kata untuk menguatkan Difa.
Diletakan nya Gifali yang masih terlelap tidur ke dalam box bayi. "Lebih baik kamu pakai jasa asisten rumah tangga Dif, biar ada yang jagain Gifali dan urusin rumah. Biar kamu konsen dulu ke kandungan kamu,"
Dania kembali memberi saran.
"Mas Galih juga udah ngasih saran kaya gitu Mba, tapi aku rasa, aku enggak perlu, aku juga enggak bisa tenang kalo ninggalin Gifali sendirian sama orang asing. Kalau di Day Care agak lumayan tenang karna mereka semua sudah sertefikasi."
"Kamu boleh sayang sama Gifali, tapi kamu juga harus ingat ada Galih dan ada calon bayi yang ada didalam perut mu, mereka butuh tenaga kamu untuk terus melayani mereka. Kalau kamu bersikekeh mengerjakan sendiri, kamu akan sakit terus-terusan Dif,"
Nadifa termenung sebentar, menarik nafasnya dalam-dalam. Fikirannya mulai terbuka.
"Baiklah aku pulang dulu, sudah lewat jam ishoma. Aku harus balik ke kantor."
Dania dan Nadifa terus menuruni anak tangga.
Kedua mata wanita ini terus menjelajah sekeliling ruang tamu, mereka tidak mendapati keberadaan Fajar disana. Rasa was-was muncul di benak Nadifa.
"Mas Fajar kemana Pah?" tanya Nadifa kepada Galih yang sedang duduk melihati layar televisi.
Galih menoleh cepat, "Duluan ke mobil katanya, Mba Dania mau makan dulu?" Galih menawarkan.
"Enggak usah Mas, nanti aja dijalan. Saya harus balik lagi ke kantor. Titip Difa ya Mas," Dania kembali memeluk Difa dan mencium pipi nya.
Galih mengangguk dengan memberikan senyum sempurna.
"Makasi ya Mba, maaf jadi merepotkan mu," Nadifa memelas. Ia melepas pelukan itu.
__ADS_1
"Ayo Mba aku antar kedepan," Nadifa menawarkan dirinya sambil menggenggam tangan Dania.
Seketika itu pula langkahnya tercekat, lengannya ditarik paksa oleh sang suami.
"Kamu didalam aja, biar aku yang antar Mba Dania keluar!"
Galih tidak ingin Fajar dan Nadifa saling bertatap lagi seperti tadi.
Dania mengedipkan mata nya ke arah Nadifa seraya memberi kode untuk menurut.
Nadifa hanya bisa diam, menghentikan langkahnya seketika. Hanya bisa melihati kepergian mereka dari balik tirai jendela.
"Pulang ya Mas," Dania pamit. Lalu membuka pintu mobil dan duduk disamping Fajar.
Betul saja Fajar seketika menyelidik mencari keberadaan Nadifa untuk menemuinya, memberi ucapan perpisahan.
Galih terus menatap Fajar dengan tatapan sinis dan tajam. Ia tidak akan melupakan kata-kata kejam yang telah mencuat dari mulut teman se SMP nya itu.
Dilihatnya Galih sudah mulai berbalik ke arah pintu masuk, Nadifa dengan blingsatan melangkah cepat duduk di sofa ruang tamu. Galih yang sudah masuk hanya melewati Nadifa untuk menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Tidak satu kata pun tercuat dari bibirnya.
"Ada apa ya?" gumamnya dalam hati.
***
Fajar terus mengemudi dengan kencang. ia terus menekan pedal gas agar terus melesat dengan cepat. Ia mengalihkan semua amarah nya saat ini.
"Jar, pelan-pelan !" berkali-kali Dania mengingatkan Fajar agar sedikit memelankan kemudinya.
"Mba Dania tenang aja," jawab Fajar pelan.
__ADS_1
Fajar tetap dalam pendiriannya, terus melajukan mobilnya dengan kencang, sesekali mepepetkan mobilnya dibelakang kendaraan orang lain dan menyalip beberapa truk kontainer.
Geluh api sedang berkobar-kobar didalam mata dan jiwa nya.
"Jar!" Dania kembali mendesis
Lalu kemudian
Ngikk...gerrrrrr...drrrrr..
Suara ban mobil Fajar mendesis, ia membanting stir ke arah pohon dan sebuah motor terlihat terjungkal didepan nya.
"Astagfirullohaladzim ! Fajar !" Dania teriak histeris, ia tidak membayangkan jika nyawa mereka berakhir disini.
Seketika mereka turun dari mobil untuk melihati seorang perempuan yang tengah tersungkur dari motor, badan nya terlentang menghadap aspal jalan, dengan kepala masih dalam balutan helm.
Dengan cepatnya semua orang yang melihati kejadian itu, lalu menepi dan bergerombol melihati mereka bertiga.
"Ayo Jar balikan badan nya, lalu cek nadi nya,"
Dania ingin mengecek langsung bagaimana keadaan si korban. Kelihatan raut wajah cemas dari Fajar. Ia tidak bisa membayangkan jika wanita ini meninggal ditempat.
Seketika Dania tertohok melihat siapakah wanita yang sedang terkapar tak sadarkan diri ini.
"Masya Allah, Alea....?"
***
Aku tunggu Jempol like dan komen kalian..serta VOTE terbaiknya.
__ADS_1
Hatur Nuhun 😘😘😘