
"Saya setuju kalau begitu, siapkan saja berkas-berkasnya. Jika sudah beres akan saya rapat kan nanti dengan bapak Presiden Direktur," tukas Galih di meja rapat dengan beberapa staf bawahannya.
Bepp..bepp..
Suara notifikasi WA terdengar pelan
Galih melirik sekilas ke dalam layar HP nya yang diletakan dimeja rapat tak jauh dari laptop yang masih ada dihadapannya saat ini.
"Pah, Mamah mau durian, bisa anterin nggak ke kantor?"
Sekilas bunyi pesan yang masuk kedalam layar HP nya.
Siapa lagi wanita yang kini tengah mengidam, mengirim pesan untuk meminta hak nya, agar dituruti oleh sang suami kalau bukan Nadifa Putri Hadnan, istrinya.
Baru mau membalas, satu pesan lagi datang
"Pah, sama sekalian bolu kijing ya,"
Lalu ada pesan susulan
"Jangan pakai lama ya Pah, i love you !"
Melihat kalimat diakhir dari semua rentetan ke ngidaman sang istri, membuat ia lebih bersemangat untuk memenuhinya. Walau pun ia tau, harus menembus pasar mencari tukang durian dan memasuki kampung untuk membeli bolu kijing yang lumayan jauh dari kantornya. Bisa dibayangkan berapa lama Galih harus menembus waktu dan KM perjalanan.
"Baiklah, kalau begitu rapat hari ini saya tutup !" Galih kembali mengambil komando untuk membubarkan ruang rapat mengembalikan para karyawan ke ruangan masing-masing yang sudah mulai gaduh saling mengobrol.
Galih bergegas cepat sebelum waktu ishoma untuk pergi membelikan makanan-makanan yang diperintah kan oleh sang istri, karena ia mempunyai janji bertemu dengan Lukman di cafe siang ini.
Dengan matahari siang bolong mencerca kota, Galih menyusuri jalan menuju pasar untuk mencari tukang durian. Mobil di parkir kan tidak jauh dari orang-orang yang berjualan. Sepertinya Galih lupa untuk membuka jas kerja nya dulu sebelum masuk ke dalam pasar yang lembab, becek, serta ditemani dengan bau-bauan yang menyengat.
Ia sangat gagah dengan perawakan seorang bos, ia mau turun tangan sendiri untuk memilih-milih durian untuk sang istri. Belum pernah selama hidupnya, ia menginjakan kaki nya ke dalam pasar. Ia hanya akan meminta untuk menunggu dimobil jika sedang mengantar istrinya belanja.
"....Ya Allah ganteng banget ya." ada suara tidak jelas dari samping tubuhnya. Suara segerombolan emak-emak yang entah penjual atau pembeli tengah melihati Galih tak henti-henti.
Aroma tubuh Galih yang khas sangat tercium sampai 3 meter pantas saja mereka bisa merasakannya.
"....Wangi banget lagi, pasti belum nikah tuh. Jodohin aja jeng sama anak kamu,"
Begitu lah suara emak-emak yang diiringi dengan tawa canda mereka. Ada yang memfoto-foto Galih dari sembarang arah.
"Moga aja anak gue kaya dia gantengnya..ckckck!" seorang ibu sambil mengelus perut nya yang tengah hamil besar.
"Udah sana, minta dielus biar nggak ileran anak lo nanti," teman si ibu hamil memberi saran yang masuk akal.
Mereka pun memberanikan diri mendekati Galih. "Mas permisi !" salah satu dari mereka.
__ADS_1
Galih yang masih memilih-milih durian sontak menoleh cepat memberikan senyum yang manis dengan gigi yang putih dan sehat.
"Iya..?"
"Ini teman saya lagi hamil pengen dielus perutnya sama Mas, anaknya pengen ganteng kaya si Mas katanya ,"
Galih tertawa kecil dan mengangguk tanda setuju. Ia sangat mengerti bagaimana keinginan seorang ibu yang sedang hamil, hal ini mengingatkan ia dengan Nadifa, yang sedang hamil muda dan banyak mau nya.
Memang emak-emak sosialita pasar, sudah dikasih hati ayam malah minta ampla bebek. Setelah meminta untuk dielus perutnya ia meminta foto bersama Galih, sontak para emak-emak tadi meriung dan bergerombol, di mulai foto berdua, berempat dan berdelapan.
Setelah semua emak-emak itu mendapatkan foto-foto yang diabadikan dalam kamera pribadinya. Mereka pun seperti melupakan Galih begitu saja.
"..Makasi ya Mas," ucap mereka berbarengan sambil berkumpul lagi melihati foto-foto tadi.
"Ini Pak uangnya," Galih kembali ke tukang durian untuk membayar dua buah durian yang ia beli sekarang.
Durain sudah ditangan, tinggal bolu !
Yapss, keletihan Galih tidak hanya sampai disini. Ketika hampir sampai ke tempat tukang bolu kijing kesukaan Nadifa, kedua ban belakang mobilnya bocor. Untung lah bengkel tidak jauh dari tempat apes nya itu.
Ketika ban mobilnya sedang dibetulkan, ia memutuskan untuk berjalan kaki kurang lebih 100 meter ke pedagang bolu kijing.
Panas raja matahari yang makin naik tak mengurungkan niatnya untuk melangkah terus menuju tempat itu. Penjualnya berada disebuah kampung yang tidak begitu jauh dari permukaan kota, biasanya Nadifa suka memesan banyak kalau ada acara-acara arisan atau sebagainya.
"Loh si Mas, Mba nya mana?" tanya si ibu penjual yang celingak-celinguk mencari sosok Nadifa.
Bolu kijing dengan ukuran kecil seperti cup cakes.
"Tumben Mas sedikit, biasanya sampe seratusan kalau beli.." ibu penjual tertawa pelan.
Galih hanya ikut tertawa mengimbangi si ibu.
Ia pun harus berjalan kembali menuju bengkel yang tadi, dengan sepatu yang sudah kotor karna melawan becek selama dipasar, ia pun tak ragu terus menginjak tanah merah yang masih lembek disekitar jalan, mungkin juga kotoran kambing yang tersebar seperti gundu hitam tersentuh oleh pijakan nya.
"Bisa jadi cemong nih lama-lama dibawah matahari. Nggak apa-apalah item juga, yang penting anak sama bini nggak ileran !" bisik Galih dalam hati nya.
Setelah ban mobil kembali betul ia pun berlalu dengan lajuan cepat menuju kantor dimana sang permata hati sedang menunggunya, oh bukan. Menunggu makanan-makanan itu datang.
Satu jam kemudian, ia telah berhasil membelah jalan raya dengan kecepatan mobil sekencang tendangan bola kapten Tsubasa ke gawang Wakabayasi.
Ia telah mendarat di parkir lobby kantor istrinya.
"Aku sudah sampai, cepat ya sayang!"
Tutt...sambungan telepon terputus. Hanya menunggu 5 menit, Nadifa pun sampai ke dalam mobil.
__ADS_1
Galih sudah siap menerima segala hujaman pelukan dari sang istri karna telah berhasil membawakan makanan-makanan yang ia ingini.
"Ihh Mas, bau apa ini? aku enek ih..!" Nadifa menutup hidungnya ketika baru sampai duduk disebelah dirinya. "Aku nggak mau ah, buang durian itu..!" Nadifa bersikap seolah ingin muntah saat ini.
Galih mengubah posisi duduknya untuk menatap istrinya lebih dekat.
"Loh tadi kan kamu minta nya durian, kenapa sekarang minta dibuang?" Galih menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil terus memegangi bahu sang istri.
"Pokoknya buang ! aku nggak suka sama baunya, bikin enek ! atau-----" Nadifa diam sebentar lalu membuka kaca mobilnya, melambaikan tangan ke arah satpam yang sedang mondar-mandir disekitar perkarangan.
"Pak, sini.."
Satpam menghampiri mendekati mobil.
"Nih Pak, bagi-bagi sama yang lain ya," Nadifa memberikan dua buah durian montok.
"Wah mantap nih pesta durian, makasih bu Difa, Mas ," durian pun telah enyah dibawa lelaki penjaga keamanan kantor ini.
Galih masih tercengang melihati sikap sang istri.
"Kok dikasihin ? kan tadi kamu nyuruh aku kesini buat bawain itu." Galih mengerutkan kening nya sambil menghela kan nafasnya berkali-kali.
"Enggak tau aja dia, gue hampir jadi bulan-bulanan emak-emak sosialita pasar !"
"Enggak ah, pas nyium bau nya aku jadi enek gitu. Nggak kepengen lagi Pah," Nadifa memberi wajah memelas, bermanja di pelukan sang suami.
"Ya udah ini makan aja bolu nya!" Galih mengambil sekotak bolu dibangku belakang.
Dia merasa tenang masih ada bolu kijing yang menjadi santapan ke ngidaman sang istri.
Lalu kotak dibuka.
"Iihhh Pah kok bolu kijing sih, aaaah!" Nadifa mengerang-ngerang kecewa. Galih yang masih menyandarkan di sandaran bangku langsung bangkit dengan posisi tegap.
Jantungnya kini kembali naik ke peraduan.
"Coba liat ke HP kamu, Mamah tadi pesennya bolu kijing!"
"Aduh berarti Mamah salah ketik Pah, maksud mamah tuh bolu pisang damasuri itu loh yang diseberang jalan kantor papah,"
"Astaghfirullohaladzim...!!" Galih memelap wajahnya dengan frutasi.
Begitulah perjuangan seorang suami untuk membahagiakan hari sang istri yang sedang dilanda keinginan.
Entah bagaimana wajah papah nya Gifali saat ini..
__ADS_1
ðŸ¤ðŸ¤
Masih ada sambungannya..stay tune ya guys🖤🖤