
"Mimpi hanya bunga tidur, mungkin Bunda terlalu memikirkan Ayah dari semenjak Fam Gath itu," Malik mencoba menenangkan Kinanti dan dirinya sendiri.
"Ayo, kita tidur ini sudah malam!" Malik melepas tangan Kinanti dan berlalu meninggalkannya untuk masuk ke kamar.
Ini memang bukan mimpi, tapi ini kenyataan. Kinanti sengaja ingin melihati reaksi Malik, ia seperti mempunyai firasat akan suaminya kini.
Bagaimanapun insting istri itu sangatlah kuat, para suami jangan terlalu terbuai ketika merasa dirinya hebat dalam membohongi pasangan mereka masing-masing.
****
Ketika ingin menaikan selimut ke tubuhnya, suara ketukan kencang terdengar didepan pintu kamar yang ia baru tempati mulai hari ini.
"Nadifa, buka pintu nya!" Galih memaki dari luar pintu, Nadifa kaget dengan hardikan suaminya kini.
Galih tidak pernah memanggil nama istrinya ketika sedang berhadapan, iya selalu memanggil dengan kata awalan sayang atau kamu.
Krekkk ...
Nadifa memutar kunci kamarnya lalu membuka dan melihati Galih yang sedang berdiri diambang pintu memberikan tatapan kesal tidak karuan.
"Kamu kenapa Mas ?" tanya Nadifa takut.
Galih menggelengkan kepalanya," Pindahkan wanita itu dari kamar kita sekarang!"
__ADS_1
Nadifa menutup mulut Galih dengan tangannya dan menyeret suaminya untuk masuk kedalam.
Galih terus melangkah menatap wajah Nadifa tajam, Nadifa memundurkan langkah kaki nya ke belakang.
"Ada apa sama kamu? aku tau kamu enggak akan sebegini tegarnya melihat aku sekamar dengan dia!"
"Apa yang kamu rencanakan? mau berpisah dariku?"
"Apakah kamu sedang menutupi sesuatu dibelakangku ?"
"Apa ini bentuk penyesalanmu, karena telah menghianatiku ?"
"Apakah dengan atasan kamu itu?"
"Jawab!" Galih menghentaknya lagi.
Nadifa menelan ludah nya dalam-dalam, detak jantungnya berdetak cepat, ia seperti siap akan dimangsa oleh Harimau di dalam Hutan tak bernyawa.
"Apa maksud kamu, Mas!" Nadifa bangkit mendorong suaminya memberi perlawanan.
Galih masih curiga dengan kebaikan yang diberikan olehnya, kepada Gita sedari tadi.
"Aku tau hati kamu hancur!" Galih mengangkat dagu istrinya itu, Nadifa jadi sedikit mendongak melihati wajah suaminya yang kini sedang mencecarnya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin berdamai dengan kamu, Mas. Aku enggak mau dibuang begitu aja sama kamu, aku ngerasa enggak ada gunanya sekarang jadi istri kamu," Nadifa merintih dan memelas, berbicara dengan lemah untuk melembutkan istrinya.
"Aku cuman pengen kamu senang, jika semesta saja sudah mentakdirkan kalian, aku bisa apa, Mas,"
Galih memejamkan matanya, mendengar begitu besar kehancuran yang ada didalam hati istrinya itu.
"Sebentar lagi kamu akan punya anak, Mas. Belajar lah menjadi calon ayah yang baik dan suami yang baik pula,"
"Gita butuh kehangatan dari kamu, Anakmu butuh belaian lembut Ayahnya,"
Nadifa menasehati sang suami dengan sangat lembut. Mengusap-usap wajah Galih dan memeluknya.
"Percayalah, tidak usah risaukan aku. Aku akan bilang jika tidak sanggup, tugas kamu saat ini untuk menyatukan keadaan ini menjadi hangat, rubah sikap mu yang dingin itu. Dia istrimu juga, Mas,"
"Kembalilah ke kamar kalian, aku sudah lelah dan mengantuk,"
Tanpa mendengar jawaban ya atau tidak dari Galih, Nadifa dengan cepat mendorong tubuh suaminya itu untuk keluar dari kamar dan mengunci cepat pintu kamarnya.
Hayyyy guyss...gimana nih sampai sini...
kalian setuju aja dulu sama sikap Nadifa yang kaya gini yah....terus stay tune...
selalu like and coment yah...aku tunggu komenan-komenan kalian...hihihihiii....biar semakin semangat buat ngegeliitik mata kalian buat semakin nempel sama cerita ini..
__ADS_1