
Hayyy sayang-sayang...aku balik lagi..
happy reading kaleanss🖤🖤🖤
"Nadifa," panggil Dania perlahan-lahan membangunkan pejaman Nadifa yang sudah satu jam tidak terbuka.
Dibuka pelan-pelan matanya lalu menyipitkannya agar terhindar dari cahaya lampu tepat diatas kepalanya.
"Aku kenapa Mba?" tanya Nadifa masih memegangi kepalanya.
"Kamu pingsan sayang, tapi sekarang sudah disini, istirahat dulu ya," jawab Dania sambil mengelus-ngelus bahu Nadifa.
Nadifa melihat dirinya sudah terbaring di tempat tidur pasien di IGD Rumah Sakit.
Terlihat ada Dokter yang menghampiri mereka," Maaf dengan Ibu Nadifa?".
"Iya benar Dok," Dania menjawab.
Dokter membawa sebuah kertas berisi hasil pemeriksaan Laboratorium," Ibu, dari hasil cek lab nya, Ibu terkena Demam Berdarah, trombosit Ibu turun sekali sampai 50.000 ribu maka dari itu saya anjurkan Ibu untuk di rawat inap,"
"Ya Allah, parah ya dok keadaanya," tanya Dania lagi.
"Sebelumnya saya sudah beritahu ke suami Ibu, dan dia setuju untuk dilakukan rawat inap, jika sudah faham, saya permisi,"
"Terima Kasih Dok," Dania dan Nadifa bersamaan.
__ADS_1
"Mba? Mas Galih ada disini?" Nadifa memegang tangan Dania.
Dania pun tertawa kecil,"Enggak Dif, mungkin Dokter nyangkanya si Fajar itu suami kamu, tadi Fajar yang antar aku bawa kamu kesini, aku malah lupa belum telelpon suami kamu, karna aku fikir enggak separah ini,"
Nadifa mengangguk pelan, lalu terlihat Fajar makin mendekat ke arah mereka dan bediri disamping tempat tidur Nadifa.
"Kamu di rawat aja ya, sakit kamu serius soalnya," ucap Fajar.
"Iya Mas, makasi ya. Maaf sudah merepotkan kalian," Nadifa memegang tangan kiri Dania dan tangan kanan Fajar.
"Maaf ya Mba, kamu jadi repot nanti dikantor enggak ada aku," Nadifa terus memegang erat genggaman tangan dengan Dania.
Dania pun merangkul dengan dalam," Kamu enggak usah fikirin, kita udah kaya saudara jadi enggak udah ngerasa direpotin,"
Nadifa tersenyum bahagia, ia merasa dibalik kehilangannya akan sosok Malik, namun ia bersyukur masih digantikan dengan sahabat yang baik pula.
"Jar, kita balik lagi yuk ke kantor, biar Nadifa bisa istirahat dengan total," ajak Dania.
Fajar mengangguk," Kita pulang dulu ya, kamu makan yang banyak, istirahat yang cukup semoga cepat pulih lagi, besok kita akan kesini lagi jenguk kamu,"
"Makasi banyak ya, maaf sudah merepotkan kalian," Nadifa memelas dalam kelemahannya. Dania dan Fajar pun berlalu kembali ke kantor meninggalkan Nadifa seorang diri di kamar perawatan yang begitu luas.
*****
Gita :
__ADS_1
"Tolong maafkan aku ya Mba, tidak bisa datang melihat akad nikahnya Reina dan Kamal tapi aku usahakan datang diresepsi nanti malam,"
"Tentu saja aku datang bersama..." Obrolan Gita ditelepon dengan seseorang terputus ketika Galih datang ke ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Sudah dulu ya Mba, nanti malam kita bertemu," Tuttt....Gita mematikan sambungan teleponnya.
"Aku ingin ke Rumah Sakit, Nadifa dirawat!" 5 menit yang lalu Nadifa mengabari dirinya telah berada di Rumah Sakit kepada suaminya itu.
"Aku ikut ya Mas,"
"Ya baik, aku tunggu di mobil," Galih berlalu lebih dulu dan Gita mengikutinya cepat dari belakang sambil membawa tas kerjanya.
*****
"Sayang, kan aku sudah bilang untuk tidak masuk kerja hari ini," Galih memegangi tangan Nadifa yang telah bersandar sebuah jarum infusan mengalirkan cairan kedalam tubuhnya.
"Kamu mau buah Dif?" tanya Gita siap mengupasi buah-buahan yang sudah ia bawa sebelum datang ke RS.
Nadifa mengangguk pelan, sepertinya ia mulai lapar.
"Oiya, Mas Galih aja ya yang antar Mba Gita nanti malam ke acara pernikahan sepupunya," Nadifa menatap Galih lalu berpindah ke arah Gita," Maaf ya Mba, aku enggak bisa ikut,"
"Aku enggak mungkin pergi ninggalin kamu sendiri disini sayang," Galih merangkul tubuh istrinya ikut bersandar di tepi ranjang.
"Iya Dif, enggak apa-apa. Aku bisa datang sendiri kesana," Gita terus mengupasi jeruk dan diarahkan ke mulut Nadifa.
__ADS_1
"Pokoknya Mas Galih yang antar, aku bukan anak kecil yang harus ditimang kalo mau ke toilet, lagian kan tidak sampai menginap disana kan?" Nadifa tertawa kecil lalu memegang tangan Galih untuk mau mengikuti apa maunya.
Galih hanya diam terus merenung, entah apa yang ia fikirkan saat ini. Berulang kali mencium bahu istrinya yang bersandar didekatnya.