Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Pra Perpisahan 3


__ADS_3

"Maafkan Ayah, Bunda," Malik tanpa henti terus meminta maaf kepada Kinanti.


"Apakah Ayah menyukainya ?" tanya Kinanti terbata-bata.


Malik hanya diam terpaku dan berat untuk menjawab.


"Iya, Ayah menyukainya," Malik mengakui nya dengan tangan terbuka.


Kinanti hanya diam dan terus menangis, memegangi dadanya karena sangat sakit dan linu.


"Apakah bisa untuk diputuskan hubungan itu?" Kinanti menoleh dan melihati Malik yang masih menunduk ke bawah.


Malik menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia keluarkan dengan teratur, matanya menatap sudut ruangan agak lama.


"Iya, Ayah bisa. Berjanji akan merubah ini semua kembali ke normal, memposisikan kembali hubungan kami hanya sebatas pekerjaan,"


Kinanti mencoba bersahabat dengan keadaan, yang ia fikirkan hanya anak saat ini. Ia hanya ingin mempertahankan rumah tangga yang sudah ia bina selama 8 tahun itu.


Jika ia mengikuti ego untuk marah-marah, Malik akan semakin pergi dari nya, ia tidak akan mungkin bisa mengurus anak-anak mereka yang masih sangat kecil-kecil itu.

__ADS_1


Mereka lama termenung diruangan itu, hati Kinanti lega dengan jawaban suaminya. Lain hal dengan Malik, ia harus bisa menghempaskan Nadifa pergi untuk selama-lamanya. Ia akan membiarkan hatinya sakit dan hancur diawal, membiarkan kenangan Nadifa hanya berjalan dalam memorinya.


"Kemana Anak-anak ?" tanya Malik.


"Mereka ku antar terlebih dahulu ke rumah Mama, karena aku ingin berbicara dengan mu, aku takut enggak bisa mengontrol diriku, aku tidak mau mereka melihat kita bertengkar,"


Malik mengangguk dan kembali mencium tangan Kinanti.


"Maafkan Ayah, Ayah berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"


Dipeluknya Kinanti amat sangat lembut, Kinanti pun percaya Malik hanya salah arah.


*****


Dikeluarkan beberapa kotak susu hamil dengan varian berbeda, vitamin, cemilan biskuit untuk Gita, apapun yang berhubungan dengan kehamilan diborong semua.


Ia juga membeli beberapa kebutuhan rumah dan dapur.


Gita terus melihati Nadifa yang begitu gesit dalam membereskan semuanya seorang diri, lalu bersiap untuk memasak.

__ADS_1


"Istirahat lah, Mba. Ayo susul suamimu dikamar," ucap Nadifa menyuruh Gita untuk berhenti melihati nya dan naik ke atas untuk melayani Galih.


Gita pun mengangguk dan berlalu. Ia menuruti apa yang dimaui Nadifa.


Gita membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Melihati Galih yang sedang bersandar sambil memejamkan matanya, suatu kebiasan yang ia lakukan ketika sudah pulang kerja dan menunggu masakan Nadifa matang.


Gita memajukan langkahnya perlahan, ia yakin mulai hari ini ia akan mencoba untuk menjadi istri yang diinginkan untuk Galih.


"Sedang apa kamu disini?" Gita kaget mendengar Galih sudah membuka mata dan berbicara sengit.


"Loh ini kan kamar kita, Lih," jawab Gita merendah.


Galih memiringkan bibirnya sedikit.


"Kalau bukan karna permintaan istriku yang begitu konyol ini, sudah aku pastikan saat ini kamu akan berada lagi dirumahmu!" balas Galih lalu memejamkan matanya kembali.


Gita sudah berjanji untuk bersabar dengan sikap Galih yang masih dingin kepadanya, dia merindukan sosok Galih yang selalu hangat dulu ketika menjadi sahabat dekat.


Gita naik ke ranjang dan mendekatkan diri nya ke tubuh Galih.

__ADS_1


"Aku sudah berjanji pada diriku, tidak akan menyentuhmu lagi sampai anak itu lahir,"


Gita pun tetap menahan, ia harus kuat dan sabar menghadapi suatu perlakuan yang amat menyiksa batin karena imbas dari yang ia lakukan sebelumnya kepada keluarga ini.


__ADS_2