
"Apakah Galih mengetahui ini?"
"Atau Ibu Kinanti?"
Dania terus memberikan pertanyaan-pertanyaan itu.
Nadifa ragu dalam jawabannya, ia membolak-balikan arah mata ke manapun tetapi tidak kearah mata Dania.
Ia Malu !
"Dif !" Dania memegang lengan Nadifa kuat, mereka masih segar walau ini sudah pukul 01:00 malam, Dania dan Nadifa sepertinya lupa jika esok pagi mereka harus bekerja.
"Mereka tidak tahu,Mba!" Nadifa memberanikan diri dalam menjawab.
Dania menggeleng-gelengkan kepala, ia menggemggam erat tangan Nadifa.
"Tinggalkan Pak Malik !" ucap Dania terus melihati Nadifa yang sudah berhenti dari tangisnya.
"Tapi aku mencintainya, Mba,"
"Cinta mu itu berkembang hadir, karena hanya ditemani oleh nafsu, Dif!"
"Bagaimana perasaan mu saat ini melihat Galih yang sudah menikah? sakit bukan ?!"
__ADS_1
"Itu pula yang akan dirasakan oleh Ibu Kinanti istri nya,"
Batin Nadifa menggelegar, matanya kembali menatap Dania dalam-dalam, ia serasa ditampar puluhan kali mungkin lebih..
"Posisikan diri Gita menjadi kamu saat ini yang telah merusak kebahagiaan rumah tangga, yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya!"
Nadifa melupakan hal itu, melupakan bahwa selama ini dirinya sudah menjadi Gita kedua.
Bersenang-senang, saling mencinta dengan Malik dengan terus membohongi pasangan Sah mereka.
"Pak Malik sudah punya anak dan istri, kamu tidak akan dilirik lagi jika Ibu Kinanti tau dan meminta cerai dari nya, kamu akan dihempaskan mentah-mentah!"
"Lelaki tidak akan semudah itu melepas rumah tangga apalagi sudah ada anak, aku tau Pak Malik sangat mencintai kedua anaknya, bagaimana perjuangan mereka yang menikah karena perjodohan lalu bersitegang dan akhirnya meluluh menerima satu sama lain karena ada Anak hadir diantara mereka!"
Nadifa terus mendengarkan hal yang belum ia ketahui tentang Malik seutuhnya.
"Membuang-buang waktu mu hanya untuk memikirkan suami orang lain!"
"Pernah memikirkan posisi Galih seperti apa jika ia tahu kamu menghianatinya ?"
Nadifa teringat kembali kata-kata Galih, jika ia berkhianat maka Galih akan Membunuhnya.
"Galih pun pasti akan sakit dan hancur seperti kamu!"
__ADS_1
Nadifa menangis lagi..air matanya jatuh berlinang.
Hancur kini hidupnya
Disakiti Galih..
Menyakiti Galih..
Dan...
Secepatnya harus meninggalkan Malik..
Entah mengapa ada jeritan penolakan untuk mengakhiri hubungan terlarangnya bersama Malik.
Sekarang ia rindu Malik, rindu belaian lelaki itu, rasanya sangat sakit, ketika sedang sangat-sangat mencintai dan harus dipaksakan untuk berhenti.
"Fikirkan dengan baik! besok tidak usah masuk kerja dulu, istirahat dulu, tenangkan fikiran dan hatimu, memutuskan dengan kepala dingin tanpa emosi."
"Putuskan hubungan mu mulai hari ini dengan Pak Malik, lalu benahi dengan Galih, dengarkan kembali alasan nya dibalik ini semua, aku yakin suamimu tidak sengaja,"
"Aku tau kamu adalah wanita yang cerdas, baik dan lembut hatinya, bersyukurlah kepada Allah karena sudah menolong mu untuk berhenti dari jurang kenestapaan,"
"Sekarang tidurlah, tidak usah mikirin pekerjaan dulu, enakin dulu hati kamu,"
__ADS_1
Dania memeluk lagi Nadifa yang sepertinya sudah tenang saat ini, ia memang butuh seseorang yang mau terus menerus menasehatinya untuk keluar dari jeratan dosa yang selama ini ia perbuat.
"Makasi banyak Mba," Nadifa menjawab pelan, sudah tidak bisa berkata lagi. Dadanya masih berdebar mengingat Galih dan Malik.