
Pagi ini Malik telah sampai, entah ia merasa hari ini sangat malas untuk bekerja. Ia terus mematung didalam sandaran kursi mobilnya, belum mau turun melangkah masuk ke dalam.
Jika dulu pagi adalah hal yang selalu ia nantikan selepas malam menahan rindu akan Nadifa, mungkin setelah ini tidak akan lagi.
Mereka akan lebih tersiksa dalam merindu tanpa bisa menyalurkannya.
**Kringggg.....Kringg.....
*Pak Malik Incamming Call***
Nadifa : Assalammualaikum ya hallo, kamu dimana sayang ? aku sudah sampai nih.
Malik kembali diam dan menunduk, mendengar begitu ceria suara Nadifa, apakah ia akan sampai hati untuk menggantikannya dengan luka.
Nadifa : Sayanggggg.....
Malik : Waalaikumsallam, aku ingin berbicara dengan mu penting, bisa ke basement ?
Nadifa mengubah suara cerianya dengan suara pelan mencari tau ada hal apa.
Nadifa : Kenapa ?
__ADS_1
Malik : Turunlah dulu, aku tunggu di mobil.
Tuttt...sambungan terputus. Nadifa berlalu cepat diiringi larian kecil agar cepat sampai ke basement, dilihatnya ada mobil Malik terparkir ditempat biasa, ia pun melangkah mendekat dan masuk ke dalam.
Nadifa mencium tangan Malik.
"Ada apa sayang ? kenapa wajah mu pucat ? kita ke dokter ya," Nadifa khawatir ke pada Malik.
Malik tidak pernah berubah, selalu memberi senyum cinta kepada Nadifa.
"Enggak sayang, aku sehat hari ini. Ikut aku sebentar ya, ada hal yang ingin aku bicarakan,"
Nadifa mengangguk pelan. Deru mesin mobil kembali di nyalahkan, mereka pun berlalu dari tempat itu.
Mobil mereka pun menepi di warung es teller tempat pertama kali mereka berkencan. Namun sepertinya warung itu belum buka, karena ini masih terlalu pagi.
"Ini kan tempat pertama kali kita berkencan ya," Nadifa mengingatkan Malik akan tempat ini.
Malik hanya senyum mengangguk, ia terus melihati senyum Nadifa yang masih terpampang jelas, entah bagaimana keberaniannya untuk bisa merubah raut wajah bahagia itu, menjadi mendung tidak berkesudahan.
"Nadifaku," Malik menggenggam tangan Nadifa erat dan lekat.
__ADS_1
Nadifa terus melihati dua bola mata Malik yang sedang berbinar-binar berair.
"Jika aku Bulan dan kau Matahari apakah kita akan selalu beriringan dalam menemani bumi ? walau kita akan terpisah dengan keadaan ?
Perkataan Malik membuat Nadifa cemas, entah mengapa jiwa nya seperti tidak tenang.
"Bicaralah yang jujur, aku sanggup menerima itu walau pahit," Nadifa membelai wajah Malik dengan lembut, terasa Nadifa sangat gelisah dan cemas karena akral nya dingin.
Malik merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah foto yang ia serahkan kepada Nadifa.
"Ini aku ?" Nadifa melihat foto dirinya yang sedang berdiri melambai disamping mobil Malik kemarin sore.
Nadifa terus melihati Malik.
Malik pun menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Kinanti kemarin sore dirumah, menceritakan bagaimana hancurnya Kinanti telah di hianati oleh mereka.
Air mata Nadifa menggenang amat dasyat, ia kembali mengingat rasa sakit ketika mengetahui Galih dan Gita sudah menikah dibelakangnya.
"Aku..." Malik berhenti meneruskan kata-katanya, ketika melihat ada gumpalan awan mendung yang siap memuntahkan hujan dimata Nadifa.
"Katakan lah," Nadifa mencoba kuat menahan sesak dada yang membuih.
__ADS_1
"Aku...ingin mengembalikan hubungan ini seperti semula, hanya hubungan normal antara atasan dan bawahan kembali seperti dulu,"
Nadifa menoleh dengan cepat, melihati terus wajah Malik dalam-dalam, dia bertanya dalam hati benarkah lelaki yang ada dihadapannya saat ini adalah Malik, Malik yang selalu tidak mau untuk ditinggali dirinya semenit saja, Malik yang selalu merasa gusar dan gelisah tanpa kabar dari nya..